Identifikasi Kontaminasi Daging Babi pada Daging Sapi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Katadata.co.id

Kasus pemalsuan daging sapi dengan babi sangat merugikan masyarakat khususnya umat Islam. Umat ​​Islam dilarang oleh agamanya untuk mengkonsumsi babi. Ada beberapa cara yang telah dilakukan peneliti untuk mendeteksi keberadaan unsur babi dalam makanan. PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah salah satu cara yang paling sering digunakan untuk mendeteksi unsur babi dalam makanan. Unsur babi yang dapat dideteksi dengan PCR adalah DNA babi yang berasal dari sel babi yang masih ada pada pengolahan makanan.

Teknologi PCR menggunakan primer sitokrom B yang memiliki kepekaan tinggi untuk mendeteksi DNA babi. Oleh karena itu, pendekatan dengan metode PCR menggunakan primer sitokrom B diusulkan sebagai metode analisis dalam pengawasan produk daging olahan. Gen sitokrom B babi merupakan gen yang sering digunakan dalam identifikasi DNA babi pada produk pangan pada teknik PCR. Salah satunya dalam penelitian Yuni Erwanto yang menggunakan sitokrom B untuk mengidentifikasi kontaminasi daging babi pada bakso yang beredar di pasar lokal, di Jogjakarta. Validasi suatu metode analitik merupakan faktor penting karena hanya metode analitik yang telah terbukti keabsahannya, sehingga hasil pengukuran dapat dipertanggungjawabkan dan digunakan sebagai dasar perhitungan selanjutnya. Validasi metode analisis pencemaran daging babi pada produk daging menggunakan PCR lebih difokuskan pada pengujian validitas spesifikasi dan ketelitian. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas metode identifikasi DNA babi menggunakan teknik PCR menggunakan primer sitokrom B. Teknik PCR yang digunakan dalam penelitian ini diharapkan dapat dilakukan diterapkan dalam beberapa kasus kasus deteksi unsur babi pada produk komersial di masyarakat.

PCR merupakan metode yang dipilih dalam penelitian ini karena memiliki efisiensi dan sensitivitas yang tinggi dalam mendeteksi secara akurat, meskipun nilai kemurnian yang diperoleh berada di bawah kisaran yang ditentukan. Komponen lain yang dibutuhkan selain DNA template dalam kegiatan ini adalah primer. Pada penelitian ini primer yang digunakan adalah primer sitokrom B yang secara spesifik hanya menghasilkan satu pita berukuran tertentu dan hanya memperkuat DNA babi. Penggunaan primer yang spesifik pada babi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kontaminan DNA babi pada produk daging yang diuji. Penelitian ini tidak menggunakan duplex PCR, karena penggunaan gen DNA mitokondria sitokrom B hanya dari DNA babi.

Dalam pengujian sensitivitas digunakan satu isolat DNA babi yang diencerkan menjadi 1:101, 1:103, 1:105 dan 1:107. Nilai batas deteksi ini dapat diperoleh jika larutan memiliki homogenitas yang baik. Konsentrasi DNA template yang dibutuhkan untuk aktivitas PCR berkisar antara 10-100μg/μL, sehingga total konsentrasi DNA yang diperoleh pada metode ini cukup untuk digunakan dalam proses PCR. PCR adalah metode yang dipilih dalam penelitian ini karena efisiensi dan sensitivitasnya yang tinggi dalam mendeteksi secara akurat, meskipun pencemaran daging babi lebih cepat dilakukan dengan spektroskopi Fourier Transform Infrared Spectrophotometry (FTIR).

Proses PCR diawali dengan tahap denaturasi yang dilakukan pada suhu 94°C selama 30 detik, pada tahap ini DNA double helix terurai menjadi dua untai template DNA tunggal, yaitu perlekatan primer (anneling) pada suhu 56°C. Berdasarkan hasil optimasi temperatur anneling didapatkan bahwa temperatur anneling primer sitokrom B optimum adalah 56°C dengan menggunakan metode PCR. Pada suhu ini, secara khusus dapat mengidentifikasi target DNA babi dan DNA sapi. Oleh karena itu, pada penelitian ini digunakan temperatur anneling 56°C selama 30 detik. Anneling adalah parameter penting untuk hasil produk PCR yang sukses. Tahap selanjutnya yaitu tahap ekstensi, berlangsung pada suhu 72°C, pada tahap ini terjadi proses polimerasi untuk membentuk untaian DNA baru.

PCR dilakukan dengan menggunakan primer sitokrom B. Primer ini sangat sering digunakan untuk mengidentifikasi berbagai jenis produk komersial di berbagai negara. Sitokrom B digunakan sebagai primer karena merupakan gen mitokondria yang dilindungi oleh membran, berasal dari maternal, dan selalu berada di dalam sel. Penelitian ini menggunakan primer sitokrom B yang telah digunakan Tanabe pada penelitian tahun 2007, untuk mendeteksi keberadaan daging babi, ayam, kambing, domba, dan kuda dalam berbagai makanan. Oleh karena itu, primer ini dianggap sangat spesifik untuk mendeteksi DNA babi.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa optimasi teknik PCR dengan sitokrom B sebaiknya menggunakan suhu annealing 56°C. Teknik PCR ini memiliki batasan deteksi daging babi yaitu konsentrasi pengenceran 1:105. Teknik yang digunakan disini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi.

Penulis: Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH

Informasi detail dari kajian ini dapat dilihat pada tulisan kami di: http://www.sysrevpharm.org//fulltext/196-1605686282.pdf?1605762171

Mustofa Helmi Effendi, Shelma Warda Afdilah, Dhandy Koesoemo Wardhana, Fredy Kurniawan, Rurini RetnowatiThe Identification of Pork Contamination on Beef by Polymerase Chain Reaction (PCR),  Sys Rev Pharm 2020; 11(10):634-637.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu