Pengobatan Kanker Kelenjar Getah Bening dan Resiko Pembekuan Darah Abnormal (Trombosis)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh tribunnews.com

Kanker kelenjar getah bening atau dikenal sebagai limfoma maligna masih menjadi masalah kesehatan yang cukup penting karena merupakan kanker ke-6 terbanyak penderitanya. Limfoma dapat dikenali dengan beberapa gejala antara lain benjolan di kelenjar getah bening, tersering leher, ketiak dan selangkangan. Dapat juga didapatkan pembesaran limpa, liver, dan abnormalitas pemeriksaan darah tepi. Gejala lain yang tidak spesifik adalah penurunan berat badan, demam, dan keringat malam. Kanker kelenjar getah bening berdasarkan gambaran patologinya dibagi menjadi dua, yaitu Limfoma Hodgkin (LH) dan Limfoma Non Hodgkin (LNH). Modalitas utama pengobatan limfoma adalah kemoterapi, yaitu pemberian obat sitostatika, biasanya melalui infus. Untuk penderita LNH obat kemoterapi yang diberikan disebut regimen R-CHOP

Peningkatan resiko terjadinya peningkatan pembekuan darah abnormal (trombosis) pada kanker sudah cukup lama diketahui. Pengobatan kanker terutama kemoterapi juga dapat meningkatkan resiko trombosis. Kemoterapi diduga dapat meningkatkan faktor-faktor koagulan yang pro terjadinya pembekuan darah. Trombosis ini dapat terjadi di pembuluh darah tungkai (deep vein thrombosis), pembuluh darah paru, dan di tempat lain. Trombosis abnormal ini meningkatkan angka kesakitan dan kematian pada penderita kanker Pada akhirnya hal itu memperpanjang rawat inap, menyebabkan kanker penundaan terapi, dan menambah biaya perawatan. Salah satu pemeriksaan penanda trombosis adalah dengan D Dimer darah. Kadar D Dimer darah akan meningkat apabila ada trombosis.

Meskipun telah banyak diketahui adanya peningkatan trombosis pada LNH yang menjalani kemoterapi, namun penelitian tentang hal ini belum banyak di Indonesia. Sebuah penelitian di Surabaya yang mengukur kadar D Dimer sebelum dan setelah kemoterapi  R-CHOP menunjukkan adanya peningkatan D Dimer setelah menjalani kemoterapi pada penderita LNH. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan D Dimer sebelum kemoterapi dan antisipasi dokter yang memberikan kemoterapi dengan pertimbangan memberikan obat antikoagulan untuk pencegahan thrombosis.

Penulis: Dr. S. Ugroseno Yudho Bintoro, dr., SpPD KHOM.

Informasi lebih detail riset dari tulisan ini dapat dilihat di: http://repository.unair.ac.id/96215/

Dewi AK, Ashariati A, Bintoro SUY.  The Effect of CHOP or RCHOP Chemotherapy Regiment on D-dimer Levels of Non-Hodgkin Lymphoma Patients. The  New Armenian Medical Journal, Vol.13 (2019), No 1, p. 55-63

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu