Mutasi Gen BCR ABL Tyrosine Kinase Mempengaruhi Resistensi Pengobatan Leukemia Granulositik Kronik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh catatanmini.com

Leukemia granulositik kronik (LGK) adalah salah satu keganasan darah yang sering ditemukan. Pasien tersering berusia 45-55 tahun dan jarang pada anak. Kelainan ini disebabkan adanya kromosom abnormal yang dikenal dengan Philadelphia kromosom. Tanda dan gejala yang sering ditemukan adalah peningkatan leukosit pembesaran limpa. Perjalanan penyakit LGK meliputi tiga fase, fase kronik, fase akselerasi, dan fase krisis blastik. Pasien yang jatuh ke fase krisis blastik memiliki angka harapan hidup yang rendah

Pada LGK didapatkan aktivasi dari tyrosine kinase sehingga digunakan obat penghambat tyrosine kinase yaitu imatinib.  Imatinib digunakan sejak 2001 dan memiliki efektivitas yang sangat baik. Penilaian keberhasilan pengobatan imatinib dengan pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan kadar bcr abl kuantitatif.  Ada beberapa pasien yang mengalami rekurensi atau resistensi terhadap pengobatan Imatinib. Pasien berikut dapat jatuh ke fase krisis blastik. Hal ini menjadi perhatian klinisi tentang adanya mutasi gen yang mengakibatkan resistensi Imatinib.

Salah satu penanda kegagalan pengobatan Imatinib adalah hasil laboratorium transkrip BCR abl tidak mencapai penurunan 1-log pada bulan ke 3 dan atau penurunan lebih dari 2 log dalam 6 bulan. Pada penelitian ini diteliti pasien LGK fase kronik yang mendapat pengobatan lebih dari 18 bulan dan mengalami kegagalan pengobatan. Pada pasien demikian diteliti adanya mutasi T932C, C944T and T1052C. Pemeriksaan mutasi menggunakan metode polymerase chain reaction menggunakan materi genetik dari pasien

Dari hasil penelitian ini didapatkan sebagian besar pasien mencapai respon hematologi komplit. Hal ini diandai dengan normalnya hasil pemeriksaan darah tepi dan hilangnya pembesaran organ. Pasien yang mencapai respon molecular lebih sedikit (60%) yang ditandai penurunan kadar BCR abl lebih dari 2 log pada 12 bulan, Enam belas (40%) pasien ini mengalami mutasi titik di  C944T, T 932C, and T1052C. Mutasi di kombinasi ketiga titik ini memprediksi adanya resistensi pengobatan. Hal baru pada penelitian ini adalah pada subyek penelitian didapatkan insiden mutasi titik T932C. Penelitian ini menunjukkan bahwa leukemia granulositik kronik dapat diterapi dengan obat imatinib dengan hasil yang baik. Walaupun demikian ada sebagian kecil pasien yang  mengalami resistensi akibat mutasi titik di gen penyandi bcr abl.

Penulis: DR. S. Ugroseno Yudho Bintoro, dr., SpPD KHOM

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: http://repository.unair.ac.id/96216/

Bintoro S.U.Y. Amrita P.N.A Joewarini E. Suryohusodo P. Soebandiri S. BCR-ABL Tyrosine Kinase Domain Mutations Combinations Affects Imat inib Resistence in Chronic Phase Chronic Myelogenous Leukemia The New Armenian Medical Journal Vol.13 (2019), Nо 4, pp : 53-58

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu