Virus Chikungunya (CHIKV) sebagai Penyebab Demam Akut

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Halodoc

Faktor utama mengapa virus chikungunya terabaikan sebagai penyebab demam akut ialah karena gejala klinis penyakit yang disebabkan oleh virus ini mirip dengan infeksi demam berdarah dengue, disamping fasilitas laboratorium untuk mendeteksi virus ini sangat terbatas. Pada 2009 dan 2010, wabah chikungunya melanda Indonesia Barat dan Tengah, dan kasus meningkat dari sekitar 3.000 per tahun menjadi 83.000 dan 52.000 kasus per tahun masing-masing. Setelah 2010, kasus yang terdeteksi turun menjadi 3.000 per tahun. Kecuali selama wabah, angka kejadian kemungkinan di bawah perkiraan karena diagnosis sering didasarkan hanya pada presentasi klinis.

Mengingat endemisitas CHIKV di Indonesia, pemahaman yang lebih baik tentang epidemiologi CHIKV, pemahaman gejala klinis, dan pendekatan diagnostik diperlukan. Untuk mengatasi kebutuhan ini, kami mengevaluasi data demografi, klinis, dan laboratorium dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena demam sebagai bagian dari a studi observasi di berbagai tempat yang dilakukan di Indonesia.

Darah dikumpulkan dan diproses di lokasi penelitian (ada 7 lokasi penelitian yaitu: Jakarta, Semarang, Surabaya, Makasar, Yogyakarta, Denpasar, Bandung)  dan kemudian dikirim ke laboratorium rujukan di Jakata. Semua sampel plasma pertama kali disaring untuk infeksi DENV dengan menggunakan test IgM Dengue / IgG, NS1 antigen ELISA dan / atau  PCR. Spesimen negatif untuk infeksi DENV dan sebagiannya spesimen dari kasus DENV yang dikonfirmasi kemudian diskrining untuk infeksi CHIKV akut (ACI).

Pengujian serologis dilakukan dengan menggunakan sistem ELISA anti-CHIKV IgG dan IgM sesuai petunjuk pabrikan. Setiap pengujian menggunakan 6 μL plasma dalam pengenceran 1: 100. Hasilnya dibaca oleh pembaca pelat mikrotiter pada 450 nm dalam waktu 30 menit setelah pengujian selesai.  Ekstraksi Viral RNA dan RT-PCR. CHIKV RNA diekstraksi dari plasma menggunakan QIAamp Viral RNA Mini Kit. Uji rRT-PCR digunakan untuk mendeteksi CHIKV. Pasien dianggap mengidap ACI ketika CHIKV RNA terdeteksi oleh rRT-PCR, terjadi sero-konversi atau peningkatan empat kali lipat dalam rasio  IgM dan IgG antara sampel berpasangan diamati. Kemungkinan sekunder ACI disimpulkan ketika kriteria di atas terpenuhi dan IgG terdeteksi pada spesimen akut.

ACI paling banyak di Makassar (7%), diikuti oleh Semarang (5,2%). CHIKV terpapar sebelumnya, ditentukan oleh serologi IgG, prevalensi terpapar sebelumnya juga tertinggi (37,9% dan 45,9%, masing-masing) di kedua kota ini. Di Jakarta dan Denpasar dimana prevalensi pajanan CHIKV sebelumnya rendah (25,2% dan 28,5%, masing-masing), ACI tidak terdeteksi.

Manifestasi klinis dan pemeriksaan laboratorium

Dari 40 subjek ACI memiliki median usia 20 tahun (kisaran 1–83 tahun). Laki laki lebih banyak dibanding perempuan. Gejala klinis yang muncul berupa: demam, mual, muntah, sakit kepala, artralgia, dan mialgia, kejang secara signifikan lebih umum pada anak-anak, sedangkan arthralgia secara signifikan lebih banyak umum pada orang dewasa. Sebagian besar pasien memiliki leukosit normal (78%) dan trombosit normal (90%), limfopenia sedikit lebih sering daripada limfosit normal.

Dari 40 subject yang terdiagnosis ini pada saat dirawat di rumah sakit tidak ada satupun yang didiagnosis dengan infeksi chikungunya akut (ACI) mereka terdiagnose sebagai demam dengue, demam tifoid dan leptospirosis.

Penelitian ini menekankan pentingnya mempertimbangkan infeksi CHIKV sebagai salah satu penyebab demam akut yang membutuhkan rawat inap di rumah sakit di Indonesia. Dokter harus sadar bahwa manifestasi klinis CHIKV yang beragam. Pengenalan dan diagnosis yang lebih baik akan memudahkan pengobatan yang tepat dan tindakan kesehatan masyarakat yang lebih efektif untuk mengurangi penularan penyakit dan munculnya kuman kebal antibiotik. Walaupun penyakit ini tidak fatal tetapi memberikan dampak ekonomi yang cukup besar oleh karena penderita tidak bisa bekerja dalam beberapa hari sampai minggu.

Pengobatan utama adalah simptomatik dan suportif untuk mengurangi keluhan penyakit dan tidak diperlukan pemberian antibiotik. Pengembangan dan peningkatan akses ke tempat perawatan yang andal untuk menegakkan diagnosis CHIKV harus menjadi prioritas kesehatan masyarakat.

Penulis: Usman Hadi

Link terkait tulisan di atas: Chikungunya in Indonesia: Epidemiology and diagnostic challenges Mansyur Arif, Patricia Tauran, Herman Kosasih, et al. PLOS Neglected Tropical Diseases | https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0008355

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu