Efektivitas Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut Sargassum Sp. dengan Menggunakan Metoda Rakit Dasar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh telaah.id

Rumput laut di Indonesia sudah banyak dimanfaatkan penggunaannya, misal untuk sayuran, acar, kue, pudding, permen dan lain sebagainya. Salah satu rumput laut yang juga digunakan sebagai bahan makanan adalah Sargassum sp. termasuk kelompok rumput laut coklat (Phaeophyta) yang banyak tumbuh di perairan tropis. Rumput laut membutuhkan nutrisi, protein dan mineral essensial dimana dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh jarak tanam bibit rumput laut dan gerakan arus air yang membawa bahan nutrisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jarak tanam berdasarkan metoda rakit dasar yang dilaksanakan di perairan Probolinggo.

Penelitian yang dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (Complete Randomized Design) dengan 4 perlakuan perbedaan jarak tanam bibit rumput laut Sargassum, yaitu 20 cm (J1), 30 cm (J2), 40 cm (J3) dan 50 cm (J4) serta 6 ulangan, di mana dilakukan penanaman 50 gr Sargassum sp. pada setiap treatment. Bibit Sargassum sp. dibudidayakan selama 28 hari dan dilakukan identifikasi setiap 7 hari sekali untuk mengetahui performane pertumbuhan yang terjadi. Uji ANOVA juga dilakukan untuk mengetahui perbedaan nyata pada setiap perlakuan. Analisis data dilakukan menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat signifikansi 0.05. Parameter kualitas air di tempat pembudidayaan rumput laut juga dilakukan seperti temperature, salinitas, pH, DO, turbiditas, kecepatan arus, kandungan nitrat dan phosphate.

Hasil yang diperoleh sejalan dengan hasil penelitian (Prihaningrum et al., 2001) yang menyatakan bahwa jarak antar tanaman akan memberikan asupan nutrisi berbeda pada peningkatan pertumbuhan. Laju pertumbuhan spesifik rumput laut Sargassum sp. pada hari ke-7, 14, 21 dan 28. Afrianto dan Liviawaty (1993) merekomendasikan untuk jarak penanaman rumput laut terbaik sebaiknya tidak kurang dari 20 cm. Ketika jarak antar tanaman lebih pendek akan menyebabkan microplant shaping (MOSS) dan splotches pada thallus Sargassum sp. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan yang lambat akibat kompetisi di antara bibit untuk mendapatkan nutrisi (Abdan et al., 2013). Analisis statistic menunjukkan bahwa jarak tanam bibit rumput laut 40 cm merupakan perlakuan terbaik dimana perbedaan nyata di antara perlakuan terlihat berbeda kecuali pada sampling minggu pertama. Pada sampling hari berikutnya maka laju pertumbuhan spesifik berbanding terbalik akibat kompetisi nutrisi dan jarak yang berakibat pada proses fotosintesis yang terjadi.

Kualitas air merupakan factor menentukan kelulushidupan dari Sargassum sp. Temperatur air laut dipengaruhi paparan sinar matahari, kedalaman, arus air laut dan pasang surut (Poncomulyo et al., 2006). Temperatur selama perlakuan berada pada kisaran 29.4-33.5oC sedangkan temperature optimal pertumbuhan rumput laut Sargassum sp. berada pada kisaran 25-35oC (Widyartini et al., 2017). Faktor penting lainnya adalah salinitas yang berpengaruh juga pada kelulushidupan dan pertumbuhan rumput laut. Salinitas yang terukur sebesar 28.9 ppt sebagaimana pernyataan dari Widyartini et al. (2017) juga menyebutkan bahwa salinitas yang mendukung pertumbuhan rumput laut berada pada kisaran 28-35 ppt. pH selama penelitian juga terukur 8.09 merupakan ph ideal untuk pertumbuhan Sargassum sp. Kecerahan pada pantai Probolinggo antara 6-7.5 m sehingga merupakan perairan yang kondusif untuk tumbuh kembang rumput laut Sargassum sp. Kadi (2005) menyatakan bahwa Sargassum sp. dapat tumbuh optimal pada kecerahan 6.6-7.5. Kecepatan arus di pantai Probolinggo terukur 0.20-0.26 cm/second sehingga menghasilkan sirkulasi yang baik dan penyebaran nutrisi yang cukup.

Penulis: Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D.

Link jurnal terkait tulisan di atas: Penulis: Dio Alif Utama, Annur Ahadi Abdillah, Pratiwi Pudjiastuti and Mochammad Amin Alamsjah. 2020. Planting Distance Effectivity on Sargassum sp. Seaweed Growth Using Raft Bottom Method. The Indian Veterinary Journal 97 (03): 18-20.

https://ivj.org.in/archives/showpage.ashx?ArticleID=9436

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu