Ancaman Wabah Leptospirosis di Musim Hujan dan Banjir

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Okezone.com

Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan kuman Leptospira, kuman ini menyebabkan infeksi pada hewan terutama tikus melalui kencing tikus yang terinfeksi, dan dapat ditularkan ke manusia dan menimbulkan penyakit yang bervariasi mulai ringan sampai berat bahkan kematian. Wabah penyakit Leptospirosis ini sering terjadi dan bersifat musiman, khususnya di musim penghujan, karena pada musim penghujan sering terjadi banjir atau air tergenang yang merupakan sumber penularan penyakit ini. Yang menjadi masalah adalah gejala penyakit ini mirip dengan penakit infeksi demam akut lainnya seperti infeksi virus dengue dan demam tifoid, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis, dan apabila tidak segera didiagnosis dan diobati maka kodisi penderita bisa fatal atau kematian.

Pasien terdaftar di penelitian Etiology of Acute Febrile Illness Requiring Hospitalization (AFIRE), dilakukan oleh INA-RESPOND (Riset Indonesia Partnership on Infectious Diseases) jaringan penelitian di Indonesia dari 2013-2016. Studi AFIRE merekrut pasien di delapan rumah sakit perawatan tersier yang datang untuk evaluasi demam akut, berusia minimal satu tahun, dirawat di rumah sakit dalam 24 jam terakhir, dan tidak dirawat di rumah sakit dalam tiga bulan terakhir. 

Spesimen dari pasien yang dirawat di rumah sakit dengan demam akut dikumpulkan saat pendaftaran, 14-28 hari, dan 3 bulan setelah pendaftaran. Informasi demografis dan klinis dikumpulkan selama kunjungan studi dan/atau diambil dari medis catatan dan dimasukkan dua kali ke dalam formulir laporan klinis. Setelah pemeriksaan awal untuk virus dengue dan penyakit lainnya, spesimen diuji di Laboratorium Referensi pusat untuk anti-Leptospira IgM menggunakan ELISA komersial kit dan untuk DNA Leptospira menggunakan uji PCR kuantitatif real-time internal.

Dari 1464 pasien yang terdaftar, 45 (3,1%) kasus dikonfirmasi (dengan PCR dan/atau sero-coverion atau peningkatan empat kali lipat IgM) dan 6 (0,4%) kemungkinan kasus (dengan IgM titer tinggi) leptospirosis diidentifikasi oleh Laboatorium Rujukan. Insiden penyakit di lokasi tempat penelitian berkisar dari 0 (0%) kasus di Denpasar sampai 17 (8,9%) kasus di Semarang. Usia rata-rata pasien berusia 41,2 tahun (kisaran 5,3 hingga 85,0 tahun), dan 67% pasien adalah laki-laki. Dua puluh dua pasien (43,1%) didiagnosis secara akurat di lokasi penelitian, dan 29 pasien (56,9%) secara klinis salah diagnosis sebagai pasien lain infeksi, paling sering demam berdarah (11, 37,9%).

Di lokasi penelitian dua pasien (3,9%) meninggal, keduanya karena gagal napas. Lima belas pasien (29,4%) secara klinis didiagnosis dengan leptospirosis. Leptospirosis masih menjadi penyebab penting rawat inap di Indonesia. Dari penderita dengan demam akut yang memerlukan rawat inap di Rumah Sakit angka kejadiannya cukup tinggi (3,1%).

Penyakit ini dapat memiliki beragam klinis presentasi, sehingga sulit dibedakan dari infeksi tropis umum lainnya. Pemeriksaan klinis secara teliti sangat diperlukan untuk mencurigai penyakit leptospirosis ini, khususnya untuk membedakan infeksi virus atau bakteri. Pada Leptospirosis ini organ tubuh yang paling sering terkena adalah hati, ginjal dan otot sehingga gejala klinisnya yang penting adalah adanya mata kuning, nyeri otot betis dan kencing darah atau kencingnya sedikit bahkan bisa tidak keluar kencingnya. Pada kondisi penyakit yang berat dapat terjadi penurunan kesadaran. Penyakit ini sebenarnya mudah diobati apabila ditemukan kurang dari satu minggu dari gejala awal penyakitnya, tetapi kalau terlambat didiagnosis dan lebih dari satu minggu maka akan sulit diobati karena sudah menyerang berbagai organ tubuh dan sudah terjadi kegagalan fungsi dari organ yang terkena dampak penyakit ini.

Pada kondisi awal obat utamanya adalah pemberian antibiotik dan pada kondisi lanjut pengubatan hanya bersifat suportif yaitu dengan menjadi keseimbangan cairan tubuh, elektrolit darah, takanan darah, suhu, dan membuang sampah hasil metabolisme dengan alat pencuci darah atau hemodialisis.

Gejala klinis penderita demam akut perlu dicurigai adanya penyakit leptospirosis. PCR dikombinasikan dengan pemeriksaan serologi sangat membantu diagnosis khususnya untuk daerah dengan keterbatasan pemeriksaan laboratorium. Pengobatan awal dengan antibiotik yang sesuai sangat membantu menyembuhkan penyakit ini, kalau terlambat didiagnosis maka prognosisnya jelek. Daerah dengan kondisi sering terjadi banjir atau genangan air harus lebih mewaspadai adanya pennyakit ini

Penulis: Usman Hadi

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://bmcinfectdis.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12879-020-4903-5

Leptospirosis in Indonesia: diagnostic challenges associated with atypical clinical manifestations and limited laboratory capacity. BMC Infectious Diseases (2020) 20:179 https://doi.org/10.1186/s12879-020-4903-5.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu