Perlunya Kewaspadaan Terhadap Infeksi Cacing pada Ikan Kerapu Cantang di Perairan Teluk Lamong

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh BisnisUKM

Ikan kerapu merupakan salah satu ikan laut komersial yang saat ini banyak dibudidayakan dan menjadi komoditas ekspor. Budidaya ikan kerapu di Surabaya terletak di di perairan Teluk Lamong  adalah kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus laneolatus), Budidaya ini merupakan budidaya yang baru dimulai pada bulan Desember 2014. Ikan kerapu (E. fuscoguttatus lanceolatus) merupakan salah satu jenis ikan hasil rekayasa hibridisasi kerapu betina (E. fuscoguttatus) dan ikan kerapu kertang jantan (E.lanceolatus). Hasil pemantauan air laut di Teluk Lamong Surabaya tahun 2014 menunjukkan bahwa kualitas air laut berada di bawah baku mutu air laut untuk biota.

Hal tersebut menunjukkan adanya pencemaran di perairan teluk Lamong. Parameter kualitas air pada kondisi budidaya yang tidak stabil menyebabkan stres pada ikan dan meningkatkan kerentanan ikan terhadap penyakit. Akibat dari kurang baiknya kualitas air laut tersebut menyebabkan terjadinya infeksi cacing trematoda khususnya cacing ektoparasit pada ikan kerapu cantang di keramba jaring apung Teluk Lamong Surabaya.

Hasil identifikasi cacing trematoda pada ikan kerapu cantang pada keramba jaring apung di Teluk Lamong Surabaya ditemukan adanya tiga jenis cacing trematoda yaitu Benedenia epinepheli, Neobenedenia girellae, dan Pseudorhabdosynochus epinepheli.Ketiga jenis cacing tersebut habitatnya di permukaan tubuh inang, yaitu pada kulit, sirip, mata dan insang. Angka prevalensi infeksi cacing Trematoda pada ikan kerapu cantang yang dibudidayakan di keramba jaring apung Teluk Lamong Surabaya sebesar 38,0%, hal ini menunjukkan keadaan yang biasa terjadi.  Adanya infeksi cacing trematoda pada ikan kerapu cantang di budidaya keramba jaring apung di perairan Teluk Lamong dapat disebabkan oleh pemeliharaan ikan yang buruk dan kualitas air yang tidak terkontrol karena tergantung pada musim.

Trematoda tersebut termasuk subclass monogenea dan memiliki siklus hidup langsung, sehingga jika cacing monogenean tersebut menemukan inang yang tepat, maka parasit cacing akan menempel dan berkembang dengan baik. Faktor terpenting untuk terjadinya penularan adalah adanya kontak langsung antara parasite cacing dan inang,  dalam hal ini ikan kerapu cantang. Jika kondisi inangnya sesuai untuk cacing tersebut, maka parasit cacing dapat bertahan hidup. Faktor lain yang diduga karena menurunnya daya tahan inang akibat ikan stres karena adanya arus dan sirkulasi air yang terganggu akibat jaring yang kotor. Oleh karenanya perlu dilakukan perawatan terhadap keramba jaring apung agar selalu dalam keadaan bersih untuk mencegah terjadinya kontak dengan parasit cacing tersebut.

Penulis: Prof. Sri Subekti

Link jurnal terkait  tulisan di atas: IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 2020 | conference-paper DOI: 10.1088/1755-1315/416/1/012002

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu