Kesuksesan Strategi Taiwan dalam Memerangi Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Taiwantoday.tw

Ketika Taiwan melaporkan kasus pertama virus Korona pada 21 Januari 2020, negara ini diprediksi bakal mengalami dampak pandemi Covid-19 yang lebih buruk dibandingkan negara-negara lain. Namun, sebelas bulan setelah pandemi berlangsung, Taiwan justru menjadi contoh sukses dengan hanya mencatatkan 716 total kasus Covid-19 dan menyisakan 142 kasus aktif pada 7 Desember 2020. Kesuksesan ini bersumber dari kecepatan respons dan ketepatan strategi pemerintahan Presiden Tsai Ing-wen. Persoalannya, tantangan muncul ketika pelonjakan kasus di tingkat global berdampak buruk terhadap keamanan kesehatan domestik yang telah terkendali. Pada saat yang sama, upaya Taiwan untuk meningkatkan peran internasional terhambat oleh isolasi diplomatik yang terus dilancarkan China.

Pengalaman buruk ketika dihantam wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada 2003 membuat Taiwan cepat menanggapi kemungkinan penularan Covid-19. Sebelum wabah mulai merebak di China pada Desember 2019, pemerintah Taiwan telah melakukan sistem pengawasan menyeluruh yang mengintegrasikan informasi dari aneka sumber. Ketika wabah terdeteksi melalui pengawasan media sosial dan situasi di China semakin memburuk, otoritas Taiwan mulai memeriksa suhu tubuh semua penumpang pesawat yang datang dari Wuhan pada 31 Desember 2019. Pemeriksaan dilakukan di dalam pesawat untuk memastikan semua orang yang akan masuk wilayah Taiwan terbebas dari gejala Covid-19.

Kecepatan respons bersandarkan strategi pengawasan langsung dengan penilaian risiko, kontrol perbatasan dan karantina, dan peningkatan kapabilitas laboratorium terbukti sangat ampuh menahan laju persebaran Covid-19 di fase awal pandemi (Cheng, Li, dan Yang, 2020). Tiga pilar kebijakan tersebut tecermin dalam 124 perangkat kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Taiwan mulai 31 Desember 2019 hingga 24 Februari 2020. Di antara semua kebijakan tersebut, kebijakan yang paling berkontribusi signifikan untuk mencegah perluasan Covid-19 adalah identifikasi kasus menggunakan pelacakan riwayat perjalanan individu melalui integrasi mahadata (big data) dan  pengelolaan produksi dan distribusi masker melalui kolaborasi lintassektor.

Semua kebijakan Taiwan berbasis riset ilmiah dan bertumpu pada kumpulan informasi yang tersimpan dalam mahadata. Kumpulan informasi tersebut diolah secara digital melalui perangkat teknologi integratif yang menghubungkan data kependudukan, kesehatan, imigrasi, transportasi, dan mobilitas individu. Melalui integrasi mahadata digital, Taiwan mampu secara cepat melacak pergerakan pasien yang terinfeksi Covid-19 sekaligus orang-orang yang berinteraksi dengan pasien tersebut.

Analisis mahadata memungkinkan Taiwan mengintegrasikan catatan perjalanan individu dengan data kartu asuransi kesehatan yang merekam riwayat kesehatan pasien. Melalui sistem registrasi kependudukan, pemerintah mampu melacak individu dengan risiko tinggi. Dengan memanfaatkan data penggunaan kartu asuransi kesehatan, pemerintah mengetahui riwayat penyakit yang diderita pasien. Pasien yang pernah menderita demam tinggi dipanggil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Uji laboratorium ini dilakukan berulang kali hingga dipastikan bahwa pasien benar-benar negatif Covid-19.

Melalui digitalisasi informasi, Taiwan menjamin semua informasi terkait Covid-19 dapat diakses publik secara transparan. Setiap hari Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Chen Shih-chung menyelenggarakan konferensi pers untuk menginformasikan data terbaru kasus Covid-19 sekaligus kebijakan yang diputuskan pemerintah. Hasil dari konferensi pers itu diinformasikan secara terbuka melalui kanal-kanal resmi pemerintah dan disirkulasikan ke berbagai media. Transparan sistem informasi berkontribusi menciptakan rasa saling percaya antara pemerintah dan masyarakat. Kepercayaan itulah yang mendorong semua pihak di Taiwan untuk disiplin mematuhi protokol kesehatan.

Kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat mendorong terwujudnya kolaborasi lintassektor yang melibatkan korporasi dan akademisi. Dengan dukungan pemerintah, sejumlah perusahaan bioteknologi dan lembaga riset saling bekerja sama melakukan penelitian yang hasilnya berupa produk kesehatan. Untuk menggenjot produksi masker medis, pemerintah memberikan subsidi kepada perusahaan, merekrut seratus teknisi, dan mengerahkan personel militer ke berbagai lini produksi (Wang, Chang, dan Mazzetta 2020). Hasilnya, produksi masker meroket dari 1,88 juta ke 19,11 juta lembar per hari dalam waktu empat bulan (Lee, 2020).

Dengan produksi masker medis berlimpah, Taiwan mulai menyumbangkan masker ke negara-negara lain ketika pandemi di tingkat domestik terkendali. Ketika produksi masker mencapai 13 juta lembar per hari pada 1 April 2020, Presiden Tsai menyatakan Taiwan akan mendonasikan 10 juta masker ke negara-negara yang terdampak serius Covid-19 (Yang, 1 April 2020). Pernyataan Tsai merupakan momentum dimulainya kampanye “Taiwan can help” secara global. Kampanye ini dijalankan tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi masyarakat. Wujudnya berupa pengumpulan jutaan masker untuk didonasikan ke berbagai negara. Diplomasi masker ini menandai upaya Taiwan untuk kian meningkatkan peran internasionalnya.

Melalui diplomasi masker, Taiwan berhasil melonjakkan citra positifnya di dunia. Persoalannya, upaya untuk meluaskan peran internasional selalu terhambat oleh isolasi diplomatik yang terus digaungkan China. Inilah tantangan internasional terbesar yang dihadapi Taiwan di bawah kepemimpinan Presiden Tsai. Keberhasilan Taiwan dalam mengatasi tantangan itu sangat tergantung pada pilihan strategi yang diambil Tsai. Ketepatan strategi bakal mendongkrak peran internasional Taiwan sehingga berpotensi meraup dukungan diplomatik dari negara-negara lain. Kesalahan strategi dapat berujung pada semakin terkucilnya Taipei dalam kancah diplomasi global.

Penulis: A. Safril Mubah & Sarah Anabarja

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/21711

Dilengkapi data terkini kasus Covid-19 di Taiwan pada 7 Desember 2020, tulisan ini merupakan ringkasan dari artikel jurnal berjudul “Dari Integrasi Mahadata ke Diplomasi Masker: Upaya Taiwan Meningkatkan Peran Internasional” yang dipublikasikan di Global Strategis, Th. 14, No. 2, 2020, hlm. 15-28 (https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/21711, DOI:10.20473/jgs.14.2.2020.189-202).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu