Disfungsi Koklea setelah Injeksi Kanamiycin pada Pasien Multidrug Resisten Tuberkulosis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Awal Bros

Kasus infeksi tuberkulosis yang resisten terhadap beberapa obat terus meningkat, terutama di negara berkembang. Aminoglikosida memiliki peranan pada kasus multidrug resistance tuberculosis (MDR TB) sebagai pengobatan lini kedua, namun terdapat limitasi dari penggunaan obat tersebut akibat adanya efek ototoksisitas. Kanamycin merupakan golongan antibiotik aminoglikosida yang memiliki spektrum luas sehingga dapat membunuh dan mencegah pertumbuhan bakteri. Salah satu manfaat khusus dari kanamycin ialah sebagai salah satu terapi pada pasien tuberculosis yang telah mengalami multidrug resisten. Kanamycin berkerja dengan mekanisme yang mengganggu sintesis protein bakteri. Dengan berikatan pada subunit ribososmal 30s bakteri, kanamycin dapat menyebabkan misreading t-RNA sehingga bakteri tidak dapat mensintesis protein yang merupakan komponen vital untuk pertumbuhan bakteri. 

Ototoksisitas menggambarkan reaksi merugikan farmakologis yang mempengaruhi telinga bagian dalam atau saraf pendengaran, yang ditandai dengan disfungsi koklea atau vestibular. Gangguan pendengaran bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, dewasa, hingga lansia. Telah diketahui bahwa deteksi dini ototoksisitas melalui pemantauan ototoxicity prospektif memungkinkan dilakukannya pertimbangan modifikasi pengobatan untuk meminimalkan atau mencegah gangguan pendengaran permanen dan gangguan keseimbangan. Pada penelitian klinis dan penelitian menggunakan uji coba hewan, efek samping ototoksisitas telah diketahui secara luas pada penggunaan antibiotik aminoglikosida jangka panjang, khususnya injeksi kanamycin. Kanamycin dapat menginduksi produksi reactive oxygen species (ROS) yang akan menyerang sel-sel rambut koklea, yang kedepannya akan mengakibatkan gangguan pendengaran yang bisa menjadi cedera permanen. 

Efek toksisitas koklea dapat diketahui dari pemeriksaan Distortion Product Otoacoustic Emission (DPOAE).  Otoacoustic Emission (OAE) adalah gelombang yang dihasilkan oleh sel rambut halus bagian luar dari koklea, setelah diberi stimulus. Munculnya gelombang ini mengindikasikan bahwa koklea bekerja dengan baik, yang dapat berhubungan secara langsung dengan fungsi pendengaran. Dalam pemeriksaan Distortion Product Otoacoustic Emission (DPOAE), suara dipancarkan sebagai respons terhadap 2 nada simultan dari frekuensi yang berbeda, sehingga DPOAE dapat digunakan sebagai alat untuk memonitor fungsi dari indera pendengaran. Selain DPOAE, dapat pula menggunakan tes audiometri sebagai pemeriksaan yang dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan mendengar dan mendeteksi masalah pada pendengaran sejak dini. Pemeriksaan dengan menggunakan audiometer dapat dilakukan untuk mengetahui ambang pendengaran, jenis ketulian dan derajat ketulian. Efek toksisitas biasanya terjadi pertama kali pada frekuensi tinggi yang kemudian meluas ke arah frekuensi yang lebih rendah tergantung pada lamanya pemaparan dan dosis kanamycin yang diberikan.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Aditya Brahmono, dr., Sp.THT-KL, Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THT-KL (K)FICS, dan Bakti Surarso, dr. Sp. THT-KL (K) pada September 2020 lalu, diambil data dari 15 pasien rawat jalan MDR TB Departemen Paru dan Bagian Komunitas Otolaringologi Bagian ORL-HNS RSUP Dr. Soetomo Surabaya selama 3 bulan pada tahun 2018. Hasil pemeriksaan distortion product otoacoustic emission (DPOAE) menggunakan Mc Nemar test pada penelitian ini, mirip dengan penjelasan tentang ototoxicity setelah injeksi kanamycin selama 4 minggu yang menyebabkan kerusakan sel rambut di basal koklea sehingga disfungsi koklea muncul pertama kali pada frekuensi tertinggi yaitu 10.000 Hertz (Hz). Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya perbedaan bermakna pada frekuensi 10.000 Hertz (Hz) sebanyak 7 telinga kanan dan 6 telinga kiri dari total 30 telinga yang diperiksa pada penelitian ini. Sedangkan pada hasil pemeriksaan audiometri nada murni menunjukkan ambang pendengaran 30 telinga masih dalam batas normal.

Maka dari itu, agar kualitas hidup pasien tetap terjaga, deteksi dini ototoksisitas ini bisa dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk menciptakan suatu modifikasi pengobatan sehingga dapat meminimalkan atau mencegah gangguan pendengaran permanen dan gangguan keseimbangan. Melalui data yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan oleh Aditya Brahmono, dr., Sp.THT-KL, Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THT-KL (K)FICS, dan Bakti Surarso, dr. Sp. THT-KL (K) diharapkan adanya suatu inovasi metode pengobatan MDR TB yang tidak menimbulkan efek samping yang bisa merugikan kualitas hidup pasien untuk kedepannya. 

Penulis: Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THT-KL(K)

Link jurnal terkait tulisan di atas: https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/22189

Brahmono A, Purnami N, Surarso B, 2020. Cochlear Dysfunction After Kanamycin Injection in Multidrug Resistant Tuberculosis Patients. Folia Medica Indonesiana, 56(3), pp. 216-222

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu