Tim Dosen Fakultas Vokasi Berikan Edukasi Pentingnya 3M dan Bagikan Masker dan Hand Sanitizer di Warung Kopi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Berdasarkan hasil dari salah satu studi yang tim kami jalankan, kami mendapati bahwa ternyata ada kecenderungan jika durasi bermain video game di dalam rumah adalah pendek, maka responden lebih banyak meluangkan waktu di luar rumah dan lokasi terbanyak adalah kafe maupun warung kopi yang ber-Wifi. Hal ini memberikan kita suatu pertanyaan, apakah protokol kesehatan benar-benar dilakukan dengan baik oleh masyarakat terutama pemuda di lapangan?

Kami melakukan observasi ke beberapa kafe, warung kopi, maupun pujasera yang tetap buka di malam hari. Kami memahami bahwa ekonomi usaha kecil sangatlah terpukul terutama dalam bidang restoran atau rumah makan. Untuk itu kami berinisiatif untuk membantu UMKM kecil seperti kafe dan warung kopi dengan melakukan pengabdian kepada masyarakat yakni membagikan masker dan hand sanitizer gratis serta memberikan edukasi kepada masyarakat yang berkunjung di kafe dan warung kopi tersebut tersebut.

Kami mendapati bahwa masih banyak pemuda-pemudi yang bermain game justru di café maupun warung kopi karena alasan mencari Wi-fi. Namun, didapati mereka tidak siap masker. Secara logis alasannya adalah karena café atau warung kopi adalah tempat makan dan minum, mana mungkin memakai masker. Namun alasan tersebut tidaklah kuat karena hal tersebut bukanlah alasan mereka untuk tidak membawa masker. Ini artinya, dari rumah mereka memang tidak membawa masker.

Melihat hal tersebut, kami membagikan masker ke kafe dan warung kopi setidaknya untuk menyentuh mereka dan mengedukasi mereka pentingnya memakai masker pada masa pandemi ini. Dalam kegiatan tersebut kami melibatkan 10 kafe dan warung kopi yang ada di Surabaya. Kafe dan warung kopi yang kami datangi adalah dengan pasar sasaran menengah ke bawah. Dalam pelaksanaannya, kami melakukan tes rapid terlebih dahulu dan anggota kami didapati dalam keadaan sehat (tidak reaktif Covid-19).

“Saya bingung dengan posisi ini. Nek langganan banyak, Alhamdulillah. Tapi kalau ndak pakai masker kabeh, kalau ada razia, saya yang kena, Pak.” ujar salah satu pengelola warung kopi yang bekerja sama dengan kami dalam kegiatan ini.

Di lapangan, para pemilik kafe dan warung kopi yang kami ajak bekerja sama menilai kegiatan ini sangat membantu mereka karena kebanyakan mereka mengeluh apabila pelanggan tidak memakai masker, justru tidak saja meningkatkan risiko penularan, secara bisnis pun tempat mereka terancam menjadi klaster penularan, dirazia dan ditutup.

“Asli pusing, Pak. Pelanggan gak pake masker, diingetin, mereka pelanggan. Kalau saya sediakan terus masker buat mereka, kepotong pak keuntungan. Kalau harga dinikin, gak payu, Pak,” keluhan salah satu pemilik warung kopi.

Hal ini adalah simalakama, karena keuntungan mereka yang sedikit, akan tergerus untuk biaya penyediaan masker dan handsanitizer, sehingga bisnis tidak lagi masuk akal. Kami berharap, jangan karena merasa masih muda maka mereka pasti kebal dan menyepelekan Covid-19. Apakah mereka tidak punya keluarga yang disayang dengan usia yang rentan terhadap Covid-19 di rumah mereka? Pertanyaan yang masih terngiang di benak kami.

Penulis: Damar Kristanto dan tim

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu