Parameter Laboratorium Baru Reticulocyte Hemoglobin Equivalent pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi hemodialisis. (Sumber: halodoc)

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) atau yang lebih dikenal dengan penyakit gagal ginjal  adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya kerusakan ginjal atau penurunan laju filtrasi glomerulus  kurang dari 60 ml/ menit/ 1,73 m2  jangka waktu ≥ 3 bulan. Anemia merupakan komplikasi tersering pada pasien dengan penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis rutin. Reticulocyte Hemoglobin Equivalent  (Ret-He) merupakan parameter baru yang mencerminkan ketersediaan besi yang digunakan untuk proses eritropoesis di sumsum tulang.

Apakah kadar Ret-He mengalami perubahan dengan dilakukannya hemodialisis pada pasien PGK?

Riset ini dilakukan karena belum pernah ada penelitian serupa sebelumnya yang membandingkan kadar Ret-He sebelum dan sesudah hemodialisis. Riset ini juga dilakukan untuk melihat apakah terdapat pengaruh proses ultrafiltrasi hemodialisis terhadap kadar Ret-He pada pasien penyakit ginjal kronik.

Parameter Ret-He dan Anemia

Proses hemodialisis seringkali menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi. Parameter Ret-He merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menunjukkan ketersediaan besi di sumsum tulang yang akan digunakan untuk sintesis hemoglobin. Anemia merupakan komplikasi tersering pada pasien dengan penyakit ginjal kronik terutama pada pasien dengan hemodialisis rutin. Hal ini disebabkan oleh jumlah eritropoesis endogen yang tidak adekuat. Ret-He merupakan parameter baru yang digunakan untuk mencerminkan ketersediaan besi yang akan digunakan untuk proses eritropoesis di sumsum tulang.

Retikulosit memiliki pergantian yang cepat dalam sirkulasi dibandingkan dengan eritrosit matur, sehingga diperkirakan retikulosit lebih sensitif dalam dalam mendeteksi aktivitas eritropoesis. Sekilas tentang ultrafiltrasi. Ultrafiltrasi (UF) adalah  aliran konveksi  ( air dan zat terlarut ) yang terjadi akibat adanya perbedaan tekanan hidrostatik maupun tekanan osmotik dan bertujuan menghilangkan kelebihan air dalam darah. Selama proses hemodialisis terjadi proses difusi dan ultrafiltrasi. Nah pengaruh ultrafiltrasi hemodialisis terhadap kadar Ret-He inilah yang akan diamati dalam riset ini.

Penelitian Dalimunthe yang dilakukan pada tahun 2016 menyebutkan bahwa Ret-He merupakan penanda paling awal adanya anemia defisiensi besi dan penanda awal terhadap respon terapi besi intravena pada pasien dengan hemodialisis rutin. Pengukuran Ret-He dapat dilakukan dalam waktu 4 minggu setelah pemberian terapi besi intravena lebih dini bila dibandingkan dengan parameter feritin serum dan saturasi transferin serum yang sebaiknya diukur dalam waktu 3 bulan setelah pemberian terapi.

Riset ini dilakukan terhadap 50 orang pasien PGK yang terdiri dari 25 orang laki-laki dan 25 orang perempuan yang menjalani hemodialisis rutin di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Agustus sampai September 2017 yang telah terlebih dahulu menandatangani persetujuan untuk ikut serta dalam riset ini. Sampel dibedakan kedalam dua kelompok yang melakukan hemodialisis dengan pemberian UF < 2L dan satu kelompok lain dengan UF >2L. Masing-masing pasien dilakukan pengambilan sampel darah sebanyak dua kali, sebelum dan segera setelah hemodialisis. Pemeriksaan darah dilakukan dengan menggunakan alat hematologi Sysmex XN1000.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan pemberian ultrafiltrasi pada saat hemodialisis dapat meningkatkan kadar Ret-He pada pasien PGK dengan hemodialisis. Analisis ini juga menunjukkan bahwa kadar Ret-He pada kelompok dengan ultrafiltrasi < 2L lebih tinggi dibandingkan  kelompok dengan ultrafiltrasi  ≥ 2L setelah hemodialisis dilakukan.

Pasien PGK dengan terapi hemodialisis seringkali didapatkan keadaan dengan anemia defisiensi besi yang dapat ditegakkan dengan pemeriksaan Serum Iron, Total Iron Binding Capacity dan Feritin. Pemeriksaan feritin serum dan Saturasi Transferin dipengaruhi oleh proses inflamasi yang akan mempengaruhi status besi pasien  sehingga dicari parameter alternatif yang stabil untuk menilai status besi pada pasien PGK dengan hemodialisis. Salah satu uji laboratorium adalah menilai kandungan hemoglobin retikulosit atau reticulocyte hemoglobin content  (CHr) yang menggambarkan kandungan besi dalam retikulosit. Parameter Ret-He ini sama dengan pemeriksaan CHR.

Pemeriksaan Ret-He pada pasien PGK dengan hemodialisis harus memperhatikan waktu pemeriksaan. Pada proses hemodialisis, penentuan ultrafiltrasi berhubungan dengan koefisien ultrafiltrasi, tekanan transmembran dialiser dan waktu hemodialisis. Hasil penelitian ini didapatkan peningkatan nilai Ret-He sebelum dan sesudah hemodialisis sehingga pemeriksaan Ret-He sebaiknya dilakukan sebelum hemodialisis karena ultrafiltrasi pada saat hemodialisis mempengaruhi nilai Ret-He.

Penulis: Yetti Hernaningsih

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://indonesianjournalofclinicalpathology.org/index.php/patologi/article/view/1556/pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu