FISIP UNAIR Anugerahkan Soetandyo Award Kepada Akademisi dan Pemerhati Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dekan FISIP Dr. Falih Suaedi Drs., M.Si (kanan) dan Prof Irwanto, Ph.D., Psikolog (kiri) saat penyerahan penghargaan Soetandyo Award via daring. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Dies Natalis ke-43 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR) kembali diperingati. FISIP UNAIR pun untuk keenam kalinya menggelar dan menganugerahkan Soetandyo Award and Scholarship kepada insan akademisi, ilmuwan, maupun tokoh masyarakat yang berkomitmen terhadap pluralisme, perjuangan masyarakat marginal, serta pendekatan ilmu interdisipliner. Dalam gelaran pada Kamis (3/12/2020) tersebut, Prof. Irwanto, Ph.D., Psikolog menjadi sosok yang menerima anugerah Soetandyo Award tahun keenam.

Jejak karir Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta tersebut telah malang melintang dalam perjuangan dan riset terhadap perlindungan anak, penanggulangan narkotika, hingga analisis penanggulangan kemiskinan. Sepak terjangnya turut membuat Prof Irwanto sering dipilih sebagai konsultan berbagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun mitra pembangunan bilateral, seperti UNICEF, ILO, UNAIDS, USAID, GIZ, maupun AUSAID.

Dalam pidatonya, peraih penghargaan Asia-Pacific Award for Outstanding Contribution to Teaching Social Work 2006 tersebut menggarisbawahi penelitiannya yang sejalan dengan perjuangan ilmu Prof Dr. Soetandyo Wignjosoebroto terkait masyarakat marginal dan ekualitas. Prof Irwanto sendiri menegaskan concern-nya perlindungan hukum anak di Indonesia.

“Mereka tulang punggung masa depan bangsa. Tapi respon dan progres hukum perlindungan anak di Indonesia masih sangat lambat. Kerentanan tersebut akan terus terjadi apabila regulasi dan undang-undang yang terbentuk tidak berorientasi pada kondisi sosial dan risiko pada anak,” imbuh lulusan Purdue University, USA tersebut.

Sementara itu dalam memorial lecture yang dibawakan Dosen Antropologi UNAIR Dr. Pinky Saptandari, Dra. MA, dirinya membawakan presentasi bertajuk Memori Kolektif Pemikiran Pak Tandyo dalam Pluralitas Permasalahan Perempuan, Anak, dan Kelompok Minoritas.

Dari kuliah singkat tersebut, Dr Pinky menggambarkan semangat keilmuan Prof Soetandyo dalam membangun kesadaran terhadap pluralitas dan inklusivitas di Indonesia. “Hari ini, bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional, saya turut ingin menyuarakan kembali hak dan perlindungan bagi kaum minoritas marginal Indonesia seperti anak-anak, perempuan, maupun kaum disabilitas,” imbuh Ketua Pusat Studi Afrika UNAIR tersebut.

Prof Soetandyo sendiri dikenal sebagai penggagas berdirinya FISIP UNAIR. Guru Besar sekaligus Dekan pertama FISIP tersebut sepanjang hidupnya selalu mengabdikan diri pada keilmuan serta perjuangan terhadap HAM dan ekualitas. Meski telah berpulang pada 2 September 2013, warisan ilmu dan semangatnya diperingati dari tahun ke tahun baik melalui Dies Natalis maupun ekosistem akademik di FISIP UNAIR.

Dalam acara yang digelar secara daring tersebut, turut hadir sederet petinggi fakultas FISIP UNAIR, tim dewan juri yang diketuai oleh Prof. Ramlan Surbakti, MA., Ph.D, para penerima Soetandyo Award tahun-tahun sebelumnya, serta segenap civitas akademika FISIP yang lain.

Penulis: Intang Arifia

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu