Durasi Menyusui pada Bayi Late Preterm: Faktor Ibu dan Bayi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatq.com

Angka kelahiran hidup tiap tahun di Indonesia adalah 138/1000 pada wanita umur 25–29 tahun (Kementerian Kesehatan Indonesia, 2017). Lebih dari 550.000 bayi dilahirkan late preterm yaitu bayi yang lahir dengan usia kehamilan antara 34 0/7 dan 36 6/7 minggu. Bayi late preterm  berkontribusi pada 75% bayi dengan berat lahir rendah. Sebagian besar dokter spesialis anak beranggapan bahwa bayi late preterm memiliki cara perkembangan yang sama dengan bayi cukup bulan. Bayi late preterm memiliki lebih banyak komplikasi dibandingkan dengan bayi cukup bulan, baik pada saat persalinan maupun di kemudian hari. Komplikasi yang terlihat pada periode perinatal termasuk asfiksia, infeksi, dan hipoglikemia (Karnati et al., 2020). Pertumbuhan juga lebih rendah pada bayi late preterm dibandingkan dengan bayi cukup bulan (Karnati et al., 2020). Masih belum jelas apakah masalah ini pada bayi prematur terlambat disebabkan oleh faktor yang sama yang bertanggung jawab pada persalinan prematur, atau apakah masalah ini disebabkan oleh komplikasi pada periode peri dan pasca kelahiran, misalnya asfiksia dan hipoglikemia (Coletti et al., 2015; Karnati dkk., 2020; Stewart & Barfield, 2019).

Menyusui adalah nutrisi paling optimal untuk semua bayi baru lahir. ASI mengandung imunoglobulin dan faktor pertumbuhan yang penting. Oleh karena itu, sangat penting bagi bayi late preterm mendapatkan ASI, tidak hanya segera setelah lahir, tetapi juga secara berkelanjutan di kemudian hari. Kesuksesan inisiasi dan kelanjutan menyusui dipengaruhi banyak faktor yang dapat diklasifikasikan sebagai baik faktor bayi dan faktor  ibu. Faktor bayi meliputi kemampuan menghisap dan menelan. Instrumen untuk mengevaluasi aktivitas menyusui antara lain Infant Breastfeeding Assessment Tool (IBFAT; Altuntas et al., 2014), LATCH (Diercks et al.,2020), Preterm Infant Breastfeeding Behavior Scale (PIBBS;Lober et al., 2020), Mother Baby Assessment (MBA; Altuntas et al., 2014), dan Systematic Assessment of the Infant at the Breast (SAIB; Sartorio et al., 2017). Dari instrument-instrumen tersebut, IBFAT lebih sesuai untuk digunakan di setting rumah sakit kami.

Metode IBFAT menilai dan mengevaluasi perilaku menyusui pada bayi selama beberapa hari setelah lahir. Alat ini juga bisa digunakan untukmengidentifikasi bayi yang mengalami masalah dalam proses menyusui dengan menilai kesiapan untuk menyusu, reflek rooting, perlekatan, danmenghisap (Altuntas et al., 2014; Boies & Vaucher, 2016; Ingramet et al., 2015). Faktor ibu mengenai kepercayaan diri ibu terkait menyusui dapat dinilai dengan Breastfeeding Self-Efficacy Scale–Short Form (BSES-SF; Ipdkk., 2016). Saat ini tidak diketahui apakah faktor ibu ataubayi yang lebih prediktif untuk keberhasilan menyusui pada bayi late pretem. Hal ini penting untuk membantu dalam merancang metode dukungan menyusui bayi ibu dan bayinya dalam mencapai keberhasilan menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah IBFAT atau BSES-SF lebih prediktif dalam keberhasilan menyusui bayi late pretem .

Desain penelitian adalah penelitian prospektif observasional kohort tunggal longitudinal  dengan perbandingan dua kelompok berdasarkan durasi menyusui. Penelitian ini memiliki izin etik (No. 205/Panke.KKE/III/2017). Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan Pendidikan, di Surabaya, Indonesia. Prevalensi ASI eksklusif selama 6 bulan di Indonesia hanya 37,3% (Badan Litbang Kesehatan [NIHRD], 2018). Rumah sakit ini merupakan rumah sakit rujukan untuk Indonesia bagian timur, khususnya di Jawa Timur. Ibu yang datang dan dirujuk ke rumah sakit kami sebagian besar karena komplikasi kehamilan (misalnya obesitas, pre-eklamsia, dan diabetes).

Populasi target penelitian ini adalah ibu yang melahirkan bayi late preterm di rumah sakit kami. Kriteria inklusi ibu adalah kondisi ibu harus stabil dan dalam kondisi siap menyusui. Kriteria inklusi bayi adalah bayi dalam keadaan sehat, tanpa komplikasi setelah lahir dan tanpa kelainan bawaan multipel. Ibu dengan kehamilan ganda atau kontraindikasi untuk menyusui (misalnya, HIV atau kemoterapi) dilakukan eksklusi. Semua ibu yang melahirkan bayi antara usia kehamilan 34 0/7 dan 36 6/7 minggu dan memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian dengan memberikan persetujuan. Delapan bayi tidak dilibatkan untuk analisis lebih lanjut tentang hubungan antara durasi menyusui dengan BSES-SF dan IBFAT karena ibu tidak bisa dihubungi sehimgga durasi menyusui tidak diketahui.

Faktor maternal yang diukur menggunakan BSES-SF lebih penting dalam mencapai keberhasilan menyusui pada bayi late preterm dibandingkan faktor bayi yang diukur dengan IBFAT. Mendukung ibu dengan skor BSES-SF rendah saat periode postnatal dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu, sehingga meningkatkan durasimenyusui.

Penulis: Kartika Darma Handayani, dr., Sp.A(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/0890334420978380 Top of Form

Bottom of Form

Kartika Darma Handayani, Irwanto, Melinda Masturina, Risa Etika, Agus Harianto, and Pieter J.J. Sauer: Duration of Breastfeeding in Late Preterm Infants: Maternal and Infant Factors. Journal of Human Lactation; Desember 2020, Pages 1-8.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu