Penanganan COVID-19 di Singapura

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Klikdokter.com

Artikel ini fokus kepada strategi penanganan COVID-19 di Singapura. Singapura adalah salah satu negara yang terjangkit. Sampai 31 Juli 2020 jumlah kasus di Singapura adalah 52.087 orang dan jumlah pasien meninggal adalah 27 orang. Penanganan COVID-19 di Singapura menarik karena Singapura adalah hub regional. Mobilitas orang dari dan ke Tiongkok adalah besar tiap bulannya. Menurut Singapore Tourism Board, jumlah pengunjung dari Tiongkok adalah 330.000 orang tiap bulan di tahun 2019. Praktis mobilitas orang, barang dan modal adalah tinggi di Singapura. Tingginya mobilitas orang, barang dan jasa seharusnya membuat sebaran virus menjadi mudah. Namun, Singapura dianggap sebagai tiga negara yang berhasil dan banyak dijadikan rujukan penanganan COVID-19 bersama Korea Selatan dan Taiwan.

Ada tiga hal yang mendorong keberhasilan Singapura: memiliki sistem mitigasi bencana kesehatan yang responsif dan efisien; legitimasi pemerintah yang tinggi; dan adanya modal sosial di masyarakat yang pernah mengalami kondisi pendemi yaitu SARS. Pertama adalah kualitas layanan kesehatan. Singapura termasuk negara yang memiliki kualitas layanan kesehatan yang efisien dan terjangkau. Pemerintah juga menggunakan big data dan artificial intelligence untuk kebutuhan tracing. Singapura menjadi lebih unggul dalam penanganan karena berhasil mengkombinasikan kompetensi tehnik dengan keahlian scientific. Kedua adalah legitimasi pemerintah yang ditentukan oleh kapasitas negara. Singapura memiliki pemerintah semi terpusat dengan legitimasi tinggi. Ketika COVID-19 ditemukan di Wuhan pada 31 Desember 2019, tanggal 2 Januari 2020 Kementrian Kesehatan Singapura meningkatkan level kewaspadaan kesehatan nasional dan telah mengeluarkan panduan identifikasi orang dengan COVID-19. Respon pemerintah yang cepat ini tidak terlepas dari legitimasi tinggi pemerintahannya. Ketiga adalah modal sosial. Modal sosial yang dimaksud adalah pengalaman penanganan pendemi di masa lalu. Pengalaman Singapura dengan SARS dimasa lalu membuat warga Singapura memahami benar apa dampak pendemi bagi aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial mereka. Hal ini membuat manajemen pendemi yang dilakukan oleh pemerintah lebih mudah dilakukan.

Di balik banyak cerita sukses penanganan COVID-19 oleh Singapura, ada dua catatan yang diangkat dalam tulisan ini. Pertama, ledakan kasus reaktif COVID-19 pada beberapa asrama pekerja migran. Kluster asrama pekerja migran adalah kluster terbanyak ditemukan kasus COVID-19 dan lebih dari 90 persen kasus nasional berasal dari kelompok ini. Ini menunjukkan sistem mitigasi bencana kesehatan hanya berlaku maksimal untuk warga lokal, sedangkan warga asing khususnya para pekerja migran kerah biru tidak banyak dijangkau. Kedua, menurunnya pertumbuhan Singapura sampai dengan minus 13,2 persen pada kuartal kedua 2020 dan Singapura menyatakan resesi. Kebijakan stimulus fiscal dan moneter yang diberikan tidak mampu mendorong pertumbuhan karena ekonomi Singapura yang dependen terhadap ekonomi global; dan dominasi sektor transportasi, jasa, dan pariwista di ekonomi Singapura adalah sektor-sektor yang paling terdampak akibat pendemi.

Penulis: Citra Hennida

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/21365

(The Success of Handling Covid-19 in Singapore: the Case of the Migrant Worker Cluster and the Economic Recession)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).