Pendekatan Santai & Muslihat Strategis: Dualitas Strategi Rusia dalam Merespon Pandemi COVID-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh dw.com

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara singkat respons awal pemerintahan Rusia, di bawah pemerintahan Putin, terhadap krisis pandemi Covid-19 sejak awal Januari sampai dengan awal September ketika Rusia meluncurkan vaksin Sputnik V. Penulis berargumen bahwa respons Rusia memiliki karakteristik khas: dualitas antara pendekatan santai disertai dengan segala bentuk disinformasi serta kontranarasi dalam kerangka muslihat strategis untuk mencapai tujuan.

Data penyebaran Covid-19 menunjukkan bahwa Rusia menempati posisi keempat di bawah AS, India, dan Brazil, dalam hal total kasus yang mencapai angka 1.057.362 jiwa (per 12 September 2020, berdasar data laman Worldometers). Selain total jumlah kasus, yang mengkhawatirkan dari Rusia juga adalah penambahan kasus per hari. Sejak bulan Mei sampai September, penambahan kasus di Rusia sempat tercatat sebagai yang terbesar kedua di dunia (per 12 September masih tercatat sekitar 5.488 kasus, menempati posisi 9 dunia). Yang menarik, dari segi jumlah kematian, total kematian terkait Covid-19 di Rusia hanya sekitar 18.484 kasus (per 12 September 2020). Jumlah ini menempatkan Rusia di peringkat 12 di bawah AS, India, Brazil, dan beberapa negara Eropa seperti Perancis, Inggris Raya, Italia, ataupun Spanyol.

Di tengah fakta mengenai pandemi tersebut, respons Rusia justru menunjukkan adanya dualitas karakter yang tumpang tindih antara pendekatan santai dengan kontranarasi dan disinformasi. Karakter pertama adalah pendekatan laid-back, yang bisa diartikan pendekatan santai atau tidak terlalu serius. Karakteristik ini nampak nyata dalam upaya respons awal yang cepat namun justru disertai upaya menegasikan bahaya dari virus ini. Selain itu, kecenderungan rezim yang berkuasa untuk mendelegasikan tugas pada pejabat di level yang lebih rendah (baik lokal maupun regional) justru menunjukkan kegagalan rezim yang selama ini mendapatkan legitimasi kekuasaannya dari kontrol penuh terhadap pengambilan kebijakan.

Sementara itu, karakter kedua yang muncul dari kecenderungan melakukan kontranarasi di level global serta disinformasi dan propaganda di level domestik bisa disebut sebagai kebiasaan melakukan strategic deception (muslihat strategis) demi tujuan pencapaian kepentingan nasional. Dalam konteks ini, kepentingan nasional Rusia yang nampak adalah menyelamatkan legitimasi rezim secara internal, dan memosisikan Rusia sebagai negara besar di level global.

Karakter ini tercermin dalam setidaknya tiga indikasi langkah strategis Rusia dalam menangani Covid-19 yaitu pertama, pergeseran dari sistem yang sentralistis dan bersifat top-down menjadi bottom up dengan pendelegasian kewenangan pada daerah. Langkah ini diambil Presiden Putin dengan memberikan kontrol leluasa pada pemerintahan daerah. Hal ini tidak biasa karena sturktur pemerintahan di Rusia yang biasanya sangat rigid dan hierarkis oleh pemerintah pusat menjadi terfokus pada pemerintah daerah. Langkah ini juga berbeda dengan norma umum karena beberapa negara lain, baik yang demokratis maupun otoriter, cenderung merespons pandemi dengan pengambilalihan birokrasi dan peningkatan kekuasaan negara.

Indikasi kedua adalah adanya politisasi dan propaganda di ranah domestik. Di level domestik, untuk meningkatkan legitimasi pemerintah, cara yang dilakukan adalah dengan memunculkan informasi yang keliru menggunakan karisma seorang tokoh ataupun selebriti. Salah satu tokoh utama yang menggunakan cara ini adalah dokter, selebriti, sekaligus kepala Pusat Informasi Corona Rusia, Aleksandr Myasnikov. Myasnikov sering sekali menggunakan media Telegram untuk mengutarakan pandangan kontroversialnya. Ia mengatakan bahwa pandemi berguna bagi warga Rusia karena mendorong mereka untuk mencuci tangan dan menjaga kebersihan; bahwa sistem kesehatan Rusia lebih bisa mengatasi pandemi dibandingkan sistem kesehatan Barat; bahwa pandemi akan berakhir di pertengahan April; dan bahwa sebaiknya pemerintah menunggu sampai herd immunity muncul.

Indikasi ketiga, adalah adanya upaya kontranarasi Rusia di tingkat global. Salah satu cara lain Rusia merespons pandemi dan krisis ini adalah dengan cara yang serupa dengan kecenderungan kebijakan mereka akhir-akhir ini: menggunakan media-media massa utama mereka seperti Russia Today (RT) dan Sputnik untuk mendorong narasi alternatif di level global. Kecenderungan untuk menyusun narasi alternatif ini merupakan ciri khas Rusia di era kontemporer. Salah satu bentuk disinformasi yang dimunculkan misalnya adalah bahwa virus Covid-19 ini tidak seberbahaya yang diberitakan media pada umumnya. Contoh upaya ini bisa dilihat dari video unggahan RT dengan judul “Could Covid-19 be milder than we thought?”.

Ketiga indikasi di atas menunjukkan bahwa terdapat dualitas dalam strategi penanganan Covid-19 di Rusia yang di satu sisi cenderung santai melalui delegasi otoritas dari pusat ke daerah sementara di sisi lain melakukan disinformasi pada tingkat domestik dan kontranarasi pada tingkat global.

Penulis: Radityo Dharmaputra

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan saya di: https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/22033

Radityo Dharmaputra (2020). Laid-Back Approach and Strategic Deception: Russia’s Dual Strategy in Responding to the COVID-19 Pandemic. Global Strategis, 14(2): 209-224; http://dx.doi.org/10.20473/jgs.14.2.2020.209-224

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu