Kemampuan Hambatan Pertumbuhan Bakteri Gram Positif dan Candida albicans oleh Ekstrak Kulit Buah Naga

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatq.com

Bakteri Gram-positif merupakan bakteri yang tidak memiliki membran luar namun memiliki lapisan peptidoglikan yang tebal. Beberapa bakteri Gram-positif yang sering didapatkan pada area rongga mulut yaitu Streptococcus mutans (S. mutans) yang merupakan penyebab utama karies gigi dan penghuni umum plak gigi serta Enterococcus faecalis (E. faecalis) yang dapat ditemukan pada penyakit di rongga mulut, seperti periodontitis, periimplantitis, dan karies. Di dalam rongga mulut juga dijumpai Candida albicans yang tersebar luas sebagai jamur komensal, jamur ini dapat bertransisi menjadi patogen saat sistem imun tertekan. Candida albicans dilengkapi dengan faktor virulensi yang dapat membantu jamur tersebut untuk berkoloni dalam mikrobiota pada fase komensal dan menyerang host selama infeksi. Buah naga (Hylocereus spp.) atau sering disebut dengan buah pitaya sudah banyak dikenal dan diteliti oleh para peneliti dikarenakan rasa, bentuk, dan warnanya yang unik serta khasiatnya yang berlimpah. Buah naga termasuk dalam famili Cactae serta berasal dari daerah tropis dan subtropis di Meksiko dan negara Amerika Selatan lainnya. Pemanfaatan buah naga saat ini makin dikembangkan karenakan kandungan buah naga yang berlimpah Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki kandungan senyawa antibakteri dan antijamur berupa flavonoid dan terpenoid. Beberapa penelitian telah dilakukan umtuk mengetahui kemampuan ekstrak kulit buah naga merah terhadap beberapa bakteri, pada penelitian ini dilakukan uji kemampuan antibakteri ekstrak kulit buah naga merah terhadap bakteri Gram positif yang meliputi  S. mutans dan E. faecalis, dan antijamur terhadap C. albicans.

Satu kilogram buah naga merah didapatkan 300-350 gram kulit buah naga merah.  Kulit buah naga merah dikeringkan selama lima menit dengan oven pada suhu 50º C, dipotong setebal 1 x 1 cm., dimasukkan ke dalam ekstraktor dan ditambahkan etanol 96% sebanyak 7,5 kali jumlah kulit (7,5 liter pelarut etanol 96% per 1 kilogram kulit buah naga merah). Kulit buah naga merah dimasukkan ke dalam shaker selama 24 jam, disaring dan diperoleh filtrat jernih, kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 50ºC hingga semua etanol 96% terpisah.

Minimum Bactericidal Concentration (MBC) ekstrak kulit buah naga merah terhadap S. mutans dan E. faecalis ditentukan dengan mengambil 10 µL sampel bakteri dari media cair. Jumlah koloni bakteri dihitung setelah dilakukan inkubasi selama 24 jam dan suhu 37oC. Nilai MBC ditentukan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni bakteri pada media agar. Nilai Minimum Fungicidal Concentration (MFC) ekstrak kulit buah naga merah terhadap C. albicans dengan cara mengambil 50 µL sampel jamur dari media cair, kemudian diteteskan ke dalam petri dish berisi media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan diinkubasi selama 24 jam, suhu 37o C.

Hasil MIC dari ekstrak kulit buah naga merah terhadap S. mutans dengan konsentrasi 6,25% yaitu 13 cfu/ml, 11 cfu/ml, dan 11 cfu/ml. Hasil pengukuran MIC terhadap E. faecalis dengan konsentrasi 6,25%, yaitu 10 cfu/ml, 10 cfu/ml, dan 12 cfu/ml. Hasil pengukuran MIC terhadap C. albicans dengan konsentrasi 12,5%; yaitu 17 cfu/ml; 15 cfu/ml; dan 15 cfu/ml. Nilai MBC dari S. mutans dan E. faecalis pada konsentrasi 12,5%; nilai MFC  pada C. albicans pada konsentrasi 25%.

Hambatan pertumbuhan pada S. mutans dan E. faecalis, karena adanya flavonoid, flavonoid menghambat sintesis asam nukleat melalui inhibisi enzim topoisomerase, sehingga terjadinya hambatan replikasi DNA yang menyebabkan hambatan pertumbuhan bakteri. Flavonoid melepas ion H+, ion H+ akan menyerang gugus fosfat pada membran sel , menyebabkan kerusakan karena terurainya komponen fosfolipid menjadi asam karboksilat, asam fosfat dan gliserol, sehingga bakteri memperoleh nutrisi dan pertumbuhan terhambat. Flavonoid berfungsi sebagai antijamur dengan merusak dinding sel atau membran plasma secara, terutama ergosterol dan biosintesisnya, sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan C. albicans.

Ekstrak kulit buah naga merah juga memiliki terpenoid yang bersifat lipofilik, mudah berinteraksi dengan dinding bakteri dan mengganggu biosintesis komponennya. Terpenoid menembus sel bakteri dan mengganggu sintesis protein serta mekanisme replikasi dan perbaikan DNA, sehingga mengganggu pertumbuhan. Terpenoid menyebabkan kerusakan porin dengan membentuk ikatan polimer terhadap porin (protein transmembran) pada membran sel bakteri. Kerusakan porin menghambat pertumbuhan bakteri karena adanya gangguan pada transpor nutrisi. Ekstrak kulit buah naga merah memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan S. mutans, E. faecalis, dan C. albicans.

Penulis : Dr. Rini Devijanti Ridwan drg., M.Kes

Informasi dan detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://connectjournals.com/toc2.php?abstract=3232802H_4839A.pdf&&bookmark=CJ-033216&&issue_id=&&yaer=2020

(The Ability of Hylocereus Polyrhizus for Gram Positive Bacteria and Candida Albicans)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu