Dukungan Sebaya dan Akses Informasi sebagai prediktor Pemeriksaan HIV

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alodokter.com

Penderita HIV/AIDS di sebagian besar negara Asia terkonsentrasi pada populasi berisiko, seperti Wanita Pekerja Seks (WPS). Di Indonesia, WPS di Bali memiliki angka infeksi HIV yang cukup tinggi. Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung (WPSTL), mempunyai risiko yang cukup besar juga untuk terinfeksi HIV, oleh karena itu perlu diperhatikan, supaya angka HIV/AID tidak semakin tinggi. Tindakan deteksi dini perlu dilakukan, misalnya dengan teratur melakukan pemeriksaan atau tes HIV. Untuk itu perlu dikaji, faktor yang berpengaruh terhadap aktifitas pemeriksaan atau tes HIV yang dilakukan oleh WPSTL.

Peneliti ini menggunakan data sekunder, yang bersumber dari  proyek penelitian yang dilakukan oleh Center for Public Health Innovation (CPHI) di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Indonesia. Proyek penelitian itu berjudul “The Social Capital Survey and Internet Utilization among Indirect Female Sex Workers in Denpasar, Bali, in 2017”. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Agustus sampai Oktober 2017, dan terdapat 200 WPSTL yang menjadi responden. Variabel yang diteliti adalah pemeriksaan/tes HIV yang dilakuka oleh WPSTL, demografi (umur, pendidikan, status perkawinan, jenis pekerjaan), dukungan sebaya, dan akses informasi tentang pencegahan HIV.

Usia rata-rata WPSTL 29 tahun, dan  76,0% pada usia subur untuk wanita (antara 20-35 tahun). Sebesar  54% WPSTL berpendidikan sekolah menengah atau lebih tinggi. Sebesar 59,5% telah menikah dan janda/cerai, 36,5% bekerja di kafe dan bar. Sebesar 70,0% WPSTL di Denpasar terakhir kali melakukan pemeriksaan/tes HIV pada 6 bulan yang lalu. Sebesar 56,5% WPSTL merasa tidak mempunyai teman sebaya atau rekan kerja yang memberi dukungan terkait HIV/AIDS, dan 63,5% menyatakan memiliki akses yang memadai ke informasi tentang pemeriksaan/tes HIV. Akses informasi tentang HIV/AIDS dan dukungan sebaya berpengaruh terhadap aktifitas pemeriksaan/tes HIV yang dilakukan oleh WPSTL.

WPSTL yang mempunyai akses informasi yang baik, kemungkinan untuk melakukan pemeriksaan/tes HIV 2,2 kali lebih lebih besar dibandingkan dengan yang tidak mempunyai akses  ke informasi tentang pemeriksaaan/tes HIV yang baik. Memberikan informasi tentang HIV/AIDS yang berkualitas tinggi dan akurat kepada WPSTL akan menimbulkan persepsi positif tentang pemeriksaan/tes HIV. Penelitian lain yang dilakukan di Sub-Sahara Afrika dan Thailand menyarankan penyediaan informasi tentang HIV di telephon seluler.

WPSTL yang mempunyai dukungan sebaya mempunyai kemungkinan untuk melakukan pemeriksaan/tes HIV 2,3 kali lebih besar dibandingkan dengan WPSTL yang tidak mempunyai dukungan sebaya. Dukungan sebaya bisa meningkatkan pertukaran informasi tentang HIV dan memperkuat motivasi mereka untuk berpartisipasi dalam inisiatif pencegahan HIV/AIDS, seperti pemeriksaan/tes HIV. Dukungan dari teman dengan kehidupan yang sama atau lingkungan kerja yang sama memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dukungan dari orang luar.

Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melakukan pemeriksaan/tes HIV merupakan langkah pertama untuk mencegah peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS. Memastikan kondisi kesehatan WPSTL baik, HIV-negatif (non-reaktif), tetap tidak terinfeksi adalah upaya yang harus terus dilakukan. Di era kebijakan ‘test-and-treat‘, intervensi pengobatan dini untuk mereka yang HIV-positif akan mengurangi risiko penularan HIV ke mitra seksual mereka.

Pemerintah Indonesia telah menerapkan strategi nasional untuk mengendalikan epidemi HIV di kalangan pekerja seks. Pemerintah telah menerapkan inisiatif untuk memberikan standar pencegahan HIV, yang dikombinasikan dengan pengembangan model dukungan sebaya. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan masih rendahnya WPSTL melakukan pemeriksaan/tes HIV secara rutin, maka diperlukan inovasi terkait dengan penyediaan informasi tentang HIV. Menggunakan metode pemeriksaan/tes HIV mandiri, juga bisa dipertimbangkan di masa depan. Sebuah studi di Zambia pada WPS mengungkapkan bahwa tes mandiri memberikan pintu masuk untuk pencegahan HIV.

Penulis : Dr. Mahmudah, Ir., M.Kes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.termedia.pl/Peer-support-and-access-to-information-as-predictors-of-HIV-testing-among-indirect-female-sex-workers-in-Bali-Indonesia,106,41527,0,1.html

Putu Erma Pradnyani, Pande Putu Januraga, Mahmudah, Arief Wibowo (2020). Peer Support And Access To Information As Predictors Of HIV Testing Among Indirect Female Sex Workers In Bali, Indonesia. International Journal of HIV-Related Problems, 2020 Vol 19.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu