Pentingnya Tanaman Obat: Alpinia galanga

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Merdeka.com

Masyarakat kelas menengah yang tinggal di pedesaan atau perkotaan seringkali kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan yang modern, sehingga mereka lebih sering menggunakan obat tradisional yang didapat dari tanaman herbal yang tumbuh disekitarnya. Pengobatan dengan herbal bisa menjadi pengobatan alternatif bila pengobatan modern sulit untuk didapatkan. Pengobatan dengan tanaman herbal banyak digunakan di negara berkembang, terutama di negara-negara yang masyarakatnya memiliki perekonomian yang kurang mampu. Obat-obatan herbal bersifat organik atau alami. Orang Afrika dan Asia paling banyak menggunakan herbal, diikuti oleh orang Australia dan Amerika Utara. Sekitar 100 juta orang Eropa telah mulai menggunakan tanaman herbal sebagai obat alternatif.

Alpinia galanga (Zingiberaceae), sering disebut juga lengkuas merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang banyak ditanam di Asia. Banyak negara berkembang yang membudidayakan tanaman ini, termasuk di Indonesia. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pengobatan berbagai macam penyakit. Rimpang lengkuas efektif digunakan sebagai pengobatan terapi berbagai macam penyakit, karena mengandung aktivitas antibakteri, antijamur, antiradang, antihepatotoksik, antioksidan, imunodulator, antiulseratif, antitumor, dan antialergi. Dapat digunakan untuk mengobati sakit perut, sakit punggung, rematik, asma, diabetes, penyakit jantung, gangguan hati, penyakit ginjal, dan untuk meningkatkan nafsu makan. Rimpang lengkuas juga dapat digunakan sebagai pengganti antibiotik, desinfektan, dan penyedap makanan. Biji lengkuas dapat digunakan sebagai terapi lambung dan untuk mengobati lesi kardiotonik, dan memiliki aktivitas diuretik, antiplatelet, antijamur, dan antitumor. Umbi tanaman lengkuas sering digunakan sebagai terapi batuk pada anak-anak yang diikuti dengan penyakit asma, demam, dispepsia, bronkitis, diabetes melitus, dan iritasi.

Pada rimpang lengkuas terdapat berbagai senyawa yaitu minyak atsiri, flavonoid, asam fenolat, saponin, dan terpenoid, sedangkan pada rimpang lengkuas terdapat senyawa aktif utama yaitu lengkuas asetat, kaempferol, dan 1, 8-cineole. Meskipun rimpang lengkuas merupakan bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan dan dipelajari, namun bunga pada tumbuhan lengkuas juga dapat memberikan manfaat tambahan karena memiliki sifat antimikroba dan antioksidan, walaupun komposisi kimianya berbeda dengan bagian rimpang lengkuas.

Alpinia galanga adalah tanaman yang dapat tumbuh hingga 3,5 cm, dengan rimpang bawah tanah dan akar adventif kecil. Rimpang berwarna merah kecokelatan pada permukaannya, sedangkan bagian dalam rimpang berwarna cokelat jingga. Panjangnya 2,5–10 cm dengan batang semu yang tegak dan ditutupi daun. Ukuran dan bentuk daun 3,8–11,5 cm, lonjong lanset, licin, distichous, dan lancip. Bunga majemuk dan panjang 3–4 cm dengan bau yang menyenangkan, dengan mahkota bunga berwarna hijau di pangkal dan kuncup putih. Buahnya berbentuk ellipsoidal dan kapsul dengan diameter 1,5 cm, berwarna jingga hingga merah. Lengkuas memiliki jumlah kromosom 2n sebanyak 48. Ada variasi spesies dan tanaman ini mudah tumbuh di negara-negara yang memiliki kondisi agro-ekologi yang sesuai.

Terdapat rimpang lengkuas berwarna merah muda dan rimpang lengkuas berwarna kuning keputihan. Rimpang lengkuas merah muda berdiameter 8–10 cm, dengan panjang batang semu 3 m. Rimpang lengkuas berwarna putih kekuningan memiliki diameter lebih kecil 1-2 cm, dan panjang batang semu 1–1,5 m. Alpinia galanga tumbuh di beberapa negara di Asia seperti India, Arab, Cina, Sri Lanka, dan Indonesia. Tanaman ini menyukai tempat-tempat panas yang terkena sinar matahari yang luas, tetapi juga dapat tumbuh di semak, hutan, dan tempat terbuka. Di India, tanaman lengkuas diekspor ke wilayah Ghats Barat dan Himalaya.

Alpinia galanga dan Alpinia officinarum adalah dua spesies tanaman lengkuas yang paling umum dan banyak dipelajari, karena memiliki khasiat obat dan etnobotani. Alpinia galanga memiliki sifat farmakologis yang berkaitan dengan fitokimia pada berbagai jenis tanaman lengkuas. Fitokimia merupakan senyawa heterogen yang memiliki keragaman struktur dan sebaran struktur yang luas. Dilihat dari mekanisme biosintesis metabolik, banyak fitokimia yang dapat dibagi menjadi tiga kelas: senyawa terpene, fenolat, dan alkaloid. Fitokimia pada spesies Alpinia galanga sebagian besar terdiri dari senyawa terpene dan fenolik. Distribusi geografis dispersi Alpinia galanga juga sangat berpengaruh terhadap distribusi senyawa terpene dan senyawa fenolik.

Penulis : Tridiganita Intan Solikhah, drh., M.Si

Informasi detaild dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: http://www.sysrevpharm.org/?mno=28939

Khairullah, A. R., Solikhah, T. I., Nur, A., Ansori, M., Fadholly, A., & Cashyer, S. (2020). A review of an important medicinal plant : Alpinia galanga (L.) willd. Systematic Reviews in Pharmacy, 11(10), 387–395.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu