Airlangga Photography Society Sajikan Suka Duka Tahun 2020 melalui Pameran Fotografi Virtual

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana pameran virtual Imajifest Vol. 3.0 yang diselenggarakan oleh APS UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Tahun 2020 dalam sejarah umat manusia akan selalu menjadi penggalan kisah yang penuh dengan lika-liku dan suka duka. Kehadiran pagebluk COVID-19 di pembuka dekade ini merubah hampir seluruh tatanan masyarakat dalam waktu yang sekejap mata dan ia masih belum selesai mencetak kabar duka baru bagi korban-korbannya serta siapapun yang berjuang untuk memeranginya.

Beberapa jiwa dan manifestasi asanya dipaksa untuk beradaptasi dan berjalan melalui layar, tanpa pertemuan. Entah itu mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikannya, pekerja kantoran dan diari hiruk-pikuknya, maupun panggung seorang musisi dan lantunan nadanya. Beberapa jiwa yang lain di tahun ini terpaksa harus diputus hubungan kerjanya oleh atasan akibat krisis ekonomi. Beberapa jiwa juga kesusahan mencari sesuap nasi akibat dagangannya nihil yang membeli. Inilah kompleksitas dari pandemi di tahun ini, dan tahun ini sebentar lagi akan berganti.

Dilatarbelakangi semua itu, Airlangga Photography Society (APS) mengajak audiens untuk merefleksikan semua itu melalui potretan tustel dan secarik untaian kata, melalui Imajifest Vol. 3.0.Ketua Pelaksana Imajifest Vol. 3.0 Hasna Shufiah menuturkan bahwa tema dari pameran fotografi ini adalah “20.20 — Terjadi, Melalui, Penuh Arti“. Hasna, sapaan karibnya, mengatakan bahwa APS ingin mempresentasikan pengalaman dan memori pengkarya atas apa saja yang terjadi di tahun 2020. Sekitar ada 21 karya yang ditampilkan dalam pameran ini dan akan dilaksanakan pada 28 November – 12 Desember 2020 secara virtual.

“Kami mengajak audiens untuk dapat berhenti sejenak dan merefleksikan apa saja yang sudah terjadi di tahun yang penuh lika-liku ini sebelum kita melanjutkan kehidupan di tahun 2021. Ini merupakan tahun ketiga kami melaksanakan Imajifest dan tentunya ini kali pertama kami melakukannya secara virtual,” ujar mahasiswa prodi Sastra Indonesia itu.

Audiens pameran itu akan disambut oleh foto hitam putih boneka beruang yang memakai masker beserta beberapa barang yang berserakan. Terpampang disitu karya Zahra Wijayanti yang sepertinya membahas terkait meningkatnya gangguan kesehatan mental selama pandemi. Disitu dihidangkan juga puisi sederhana yang apabila dibaca dari depan adalah isi pikiran seseorang yang telah kalah dan menyerah. Namun, apabila kita mengikuti instruksi yang tertulis di akhir puisi itu untuk membaca dari belakang, maka narasi puisi itu sekejap berubah menjadi motivasi yang diwarnai dengan semangat optimistik.

Problema sosial yang diakibatkan pandemi juga dibahas oleh karya yang berjudul “Beban di Belakang”. Disitu pengkarya membahas terkait bagaimana hasrat konsumerisme impulsif manusia meningkat drastis saat pandemi. Karya yang berjudul “Perubahan” membahas terkait fenomena zoom fatigue dimana seseorang merasa bosan dan lelah karena harus menatap layar komputer/ponsel setiap saat. Karya “Jangan Jadi Aku” menceritakan meningkatnya misinformasi dan xenofobia terhadap beberapa kelompok masyarakat pada awal merebaknya pagebluk.

Problema kesehatan juga tak luput dipresentasikan dalam Imajifest Vol. 3.0. Karya Dwiki Oktaviandani yang menggambarkan sebuah wajah tertimbun oleh tumpukan masker putih, menceritakan terkait bagaimana masker sekali pakai yang dibuang dapat berpotensi menimbulkan krisis lingkungan baru. Topik lain yang dibahas melalui karya-karya dalam pameran ini adalah terkait pemutusan hubungan kerja, mulai lalainya masyarakat terkait pemenuhan protokol kesehatan, dan long distance relationship selama pandemi.

Penulis: Pradnya Wicaksana

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu