Strategi Adaptif Wanita Kusta di Indonesia: Pengalaman Psikis Wanita Penderita Kusta dalam Menjalani Hidup Bermasyarakat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pasien kusta perempuan. (Sumber: SehatQ)

Penyakit kusta selalu dikaitkan dengan peristiwa yang traumatis depresi, dan kecemasan yang dapat menimbulkan masalah psiko-emosional. Hal itu dialami perempuan kusta sepanjang hidupnya, sehingga mereka terkadang sulit untuk menjadi yang terbaik dalam hidupnya. Penyakit kusta bagi wanita dianggap sebagai monster yang menakutkan, selain berpengaruh terhadap kondisi fisik, penyakit kusta juga dapat merusak mahkota kecantikannya, karena karakteristik penyakit tersebut sangat merusak tubuh dan bersifat opurtunistik

Insidensi endemic kusta secara tidak proporsional telah berpengaruh terhadap kecacatan permanen wanita di dunia, yakni 34% dari populasi penderita kusta pada akhir 2019, dan sekitar 17,3 % penderita di Indonesia juga mengalami cacat permanen dengan proporsi yang dialami lebih banyak dari pada laki-laki. Bahkan penelitian lain melaporkan adanya pelecehan seksual terhadap wanita penderita kusta. Beberapa penderita kemudian mencoba membuat keseimbangan tekanan fisik dan sosial, namun wanita kusta belum cukup mempunyai kemampuan diri untuk memenuhi tuntutan masyarakat, sehingga strategi adaptasi yang dipilih cenderung mal-adaptive.

Secara umum, beban penderitaan sangat dirasakan oleh perempuan kusta yang selalu dihubungkan dengan stigma social, sikap stigmatisasi diri dan diskriminasi. Suasana tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup mereka, sehingga status kusta yang mereka terima dirasa jauh sangat menyakitkan. Berbagai problem tersebut menjadikan semua penderita kusta sulit keluar dari masalah yang dihadapi dan ada tuntutan kemampuan untuk mandiri dalam mengatasi penyakit mereka

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagaimana strategi aaptif yang dipilih saat ancaman terhadap stigma sosial dan diskriminasi terhadap wanita kusta akibat adanya perubahan bentuk tubuh maupun kecacatan yang dialami agar tetap bertahan menjalani kehidupan bermasyarakat.  

Praktek spiritual keagamaan adalah strategi yang paling efektif yang digunakan oleh partisipan untuk mengatasi penderitaan psiko-emosional mereka. Praktek ini dilakukan melalui upaya pasrah terhadap cobaan yang diterima, tetap patuh menjalankan perintah Tuhan dalam situasi apapun dan tetap selalu berdoa untuk kesembuhan penyakitnya. Ini menunjukkan bahwa penyakit yang diderita oleh wanita merupakan ujian dan cobaan, yang pada akhirnya semua itu dikembalikan kepada keagungan Tuhan, dan pada hambaNya untuk tetap selalu berusaha dan berdoa serta tetap teguh hati dalam mempertahankan peran, fungsi dan tugas sebagai wanita meskipun terkendala penyakit kusta yang menyertai.

Penulis: Abd.Nasir

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

doi: 10.31838/srp.2020.10.51

Abd. Nasir, Ah Yusuf, Muhammad Yulianto Listiawan, Susilo Harianto, Nuruddin, Nuh Huda (2020). Adaptive Strategy of Women`s Leprosy in Indonesia Psychic Experience of Women with Leprosy in Living a Community Life. Sys Rev Pharm 2020;11(10):306-312. http://www.sysrevpharm.org/?mno=27054    nomor 51

Link Scopus https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85096228448&origin=AuthorNamesList&txGid=20cdcbd957ab1adca6405c08bc36f273

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu