Potensi Peripheral Blood Mononuclear Cells sebagai Pencetus Apoptosis Jalur Sinyal Sitokin Pada Stem Cell Osteosarkoma

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi apoptopis. (Sumber: sridianti.com)

Osteosarkoma (OS) merupakan neoplasma ganas dengan sel neoplastik yang menghasilkan tulang. OS merupakan sarkoma primer tulang yang paling banyak terjadi. Jumlah kasus OS di RSUD Dr. Soetomo Surabaya memiliki pola peningkatan tiap tahunnya. Pada rentang periode 2013-2014 tercatat 30 kasus OS dan pada 2015-2016 terdapat peningkatan hingga 55 kasus. Tata laksana untuk OS yang baru terdiagnosis meliputi tiga komponen utama: kemoterapi pra-operasi, reseksi pembedahan, dan kemoterapi pasca-operasi.

Strategi manajemen tersebut telah meningkatkan hasil terapi pada pasien dengan OS yang masih terlokalisir. Namun pasien dengan OS lanjut, metastasis, dan kasus rekuren masih memiliki prognosis yang buruk. Setelah mendapat terapi agresif dengan pembedahan dan kemoterapi, angka kehidupan 5 tahun pada pasien dengan OS lokal sekitar 65% dan <20% untuk pasien OS dengan metastasis.

OS tetap menjadi penyebab terbanyak kedua kematian berhubungan dengan kanker pada anak dan dewasa muda. Menghadapi hal tersebut, diperlukan pendekatan terapi yang baru. Kegagalan terapi saat ini berhubungan dengan kegegalan untuk menarget stem cell kanker. Stem cell kanker merupakan bagian dari sel tumor dengan kemampuan memperbarui diri, meningkatkan tumorogenitas, serta resisten terhadap bahan kemoterapi. Resistensi pada kematian sel dan kemampuan untuk menghindar dari skrining sistem imunitas merupakan dua mekanisme utama yang menyebabkan pertumbuhan tumor pada tubuh. Sehingga tidak hanya mengembalikan kerentanan tumor terhadap kematian sel, namun memperkuat dan meningkatkan kemampuan pengenalan sistem imunitas terhadap sel kanker akan meningkatkan kemampuan terapi.

Pada beberapa tahun terakhir, pendekatan imunoterapi berbasis sel dan antibodi telah cukup berhasil pada terapi keganasan anak. Salah satu yang menarik perhatian adalah potensi yang dimiliki oleh sel mononuklear darah perifer atau yang dikenal secara internasional dengan Peripheral Blood Mononuclear Cells (PBMCs). PBMCs lebih unggul dibandingkan dengan sumber terapi berbasis sel lainnya. Jika dibandingkan dengan sumsum tulang atau sumber sel multipoten lainnya, isolasi darah perifer lebih tidak invasif dan tidak membutuhkan pembiusan total. Selain itu, tranplantasi PBMCs autologus tidak memerlukan terapi imunosupresif jangka panjang dan dapat diterapkan tanpa hambatan dari segi etik.

Cara kerja imunoterapi pada keganasan yaitu dengan memanfaatkan sistem kekebalan pasien sendiri untuk mengeleminasi tumor. Granulocyte-Macrophage Colony-Stimulating Factor (GM-CSF, yang juga disebut CSF-2), merupakan sitokin yang poten dalam merangsang diferensiasi sel myeloid. Selain itu GM-CSF juga dapat berfungsi sebagai stimulus tambahan sistem imun untuk menghasilkan imunitas anti tumor. GM-CSF juga berperan penting dalam diferensiasi sel dendritik, sel yang bertanggung jawab dalam memproses dan mempresentasikan antigen tumor pada anti tumor primer Limfosit T sitotoksik.

Pendekatan terapi terbaru yang sedang dipelajari untuk berbagai jenis kanker saat ini adalah dengan berbasis pada penggunaan stem cell, seperti mesenchimal stem cells (MSCs). MSCc merupakan sel progenitor multipoten dengan kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel adiposit, osteoblas, dan kondrosit (multipoten). Secretome yang didapatkan dari media MSC yang dikondisikan (CM MSCs) mengandung faktor biologi aktif yang bervariasi yang memiliki efektivitas sama dengan MSC tersebut. Selain itu secretome MSC dianggap lebih aman untuk penggunaan karena tidak mengandung elemen seluler. Hal tersebut membuatnya terbebas dari kemungkinan mutasi dan transformasi menjadi cancer-associated fibroblast pada lingkungan mikro kanker.

Terapi menggunakan PBMCs yang tersensitivasi mengeradikasi tumor melalui proses apoptosis. Hal tersebut memberikan keuntungan berupa dampak imunologis lebih minimal dibandingkan proses nekrosis yang biasa terjadi pada tatalaksana kemoterapi. Dengan terapi alternatif ini, diharapkan kualitas hidup maupun angka bertahan hidup 5 tahun pada pasien OS dapat ditingkatkan. Disamping itu, dasar terapi dengan PBMCs yang telah tersensitivasi ini diharapkan dapat memacu perkembangan serta eksplorasi lebih luas dala bidang imunoterapi, khususnya pada tatalaksana OS.

Penelitian in-vivo terhadap hewan perlu dilakukan untuk membuktikan efekasi lebih lanjut PBMCs yang tersensitivasi terhadap OS. Hasil penelitian in-vivo tersebut diharapkan memberikan hasil sebagai dasar untuk penelitan lannjutan sebelum dilakukan uji klinis pada pasien. Disamping itu, perlu dilakukan identifikasi jalur lain yang mungkin berperan dalam proses apoptosis oleh PBMCs yang tersensitivasi. Data tersebut dapat melengkapi pengetahuan tentang mekanisme apoptosis secara lengkap sehingga modifikasi maupun optimalisasi dapat dilakukan jika diperlukan di kemudian hari.

Penulis: Ferdiansyah Mahyudin

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link jurnal berikut ini: https://www.japtr.org/article.asp?issn=2231-4040;year=2020;volume=11;issue=4;spage=213;epage=219;aulast=Mahyudin

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu