Malaria, Spesies Parasit, dan Parameter Hematologi: Apa yang Dapat Dipelajari dari Ujung Timur Indonesia?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi: alodokter

Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi mematikan yang masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia, terutama di negara-negara tropis. Laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 219 juta penduduk dunia terinfeksi malaria dengan 445 ribu diantaranya meninggal dunia. Indonesia sebagai salah satu negara tropis telah berkomitmen untuk mewujudkan eradikasi malaria pada tahun 230. Namun, data WHO menyebutkan terdapat peningkatan kasus baru yang mencapai 100 ribu pada perioder 2016-2017.

Plasmodium falciparum dan P. vivax merupakan etiologi tersering malaria di dunia, termasuk Indonesia. P. falciparum, dibandingkan spesies lain, merupakan penyebab utama malaria berat, meskipun beberapa studi juga melaporkan adanya malaria berat karena infeksi P. vivax. Diagnosis dini dan inisiasi terapi sedini menjadi penting untuk mencegah progresi klinis malaria. Namun demikian, pemeriksaan mikroskopis malaria sebagai baku emas malaria menunjukkan beberapa limitasi, diantaranya tenaga terlatih dan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan hasilnya.

Parameter hematologi yang umum dan rutin diperiksakan, dalam beberapa studi di berbagai daerah endemik, menunjukkan adanya potensi dalam membedakan kedua spesies penyebab utama malaria tersebut. Hal ini menjadi mungkin karena meskipun keduanya sesama parasit darah, keduanya memiliki perbedaan karakteristik biologi yang diprediksikan dapat mempengaruhi dinamika parameter hematologi dan mungkin dapat memberikan signifikansi klinis dalam meningkatkan kecurigaan spesies pada pasien yang datang dengan presentasi klinis tipikal malaria, terutama di daerah endemik seperti Indonesia.

Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi perbedaan parameter hematologi pada pasien terinfeksi P. falciparum dengan P. vivax di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke yang beroperasi di provinsi dengan endemisitas tertinggi di Indonesia, yakni Provinsi Papua. Selain itu, penelitian ini juga tertarik untuk menghubungkan densitas parasit (DP) dengan parameter hematologi pada kedua spesies yang mungkin dapat membantu dalam memperkirakan densitas parasit melalui hasil pemeriksaan darah lengkap yang rutin diperiksakan pada kasus infeksi dengan hasil yang lebih cepat tersedia.

Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong-lintang yang dilakukan di RSUD Merauke sejak Januari hingga Juli 2019. Sampel darah utuh didapatkan atas persetujuan pasien untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopi dan darah lengkap. Sebanyak 87 subjek direkrut yang terdiri dari 30 infeksi P. falciparum dan  57 infeksi P.vivax. DP pada kedua spesies tidak berbeda signifikan meskipun analisis subkelompok menunjukkan bahwa proporsi pasien dengan DP>50.000 parasit/mikroliter lebih tinggi secara signifikan pada kelompok P. falciparum (p=0.03). Proporsi pasien dengan anemia juga lebih cenderung lebih tinggi pada kelompok P. falciparum (p=0.01). Kejadian trombositopenia (>70%) menujukkan hasil yang serupa meskipun secara statistik tidak berbeda berbeda.

Analisis komparasi parameter hematologi menemukan bahwa hanya hitung basofil dan eosinofil yang menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok spesies. Hitung basofil cenderung lebih tinggi pada P. falciparum dibandingkan P. vivax, namun hitung hitung eosinofil menunjukkan hasil yang sebaliknya (p<0.05). Sementara itu, analisis korelasi DP dengan parameter hematologi pada kedua spesies hanya menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara DP dengan hitung eosinofil (r=+0.28, p=0.04).

Kecenderungan tingginya parasitemia, kejadian anemia, maupun trombositopenia pada kelompok P. falciparum dapat terjadi karena kemampuan spesies untuk membelah diri jauh lebih tinggi dibandingkan P. vivax yang sejalan dengan peningkatan destruksi eritrosit sebagai sel targetnya. Basofil yang lebih tinggi pada P. falciparum mungkin dapat mendukung temuan adanya kemampuan spesies tersebut untuk menghasilkan molekul PfTCTP yang memiliki peran penting dalam regulasi basofil dan eosinofil.

Namun demikian, eosinofil yang lebih tinggi pada P. vivax mungkin mengindikasikan proses patologi lain yang memerlukan investigasi lanjutan. Korelasi positif yang signifikan antara DP dan eosinofil pada P. vivax dapat memberikan gambaran prediktif DP pada individu sakit dengan melihat profil eosinofilnya. Adapun insignifikansi hasil pada parameter yang lain mungkin merupakan akibat adanya fenomena sekuestrasi eritrosit, leukosit, dan trombosit pada infeksi P. falciparum yang menyebabkan parameter yang diperiksa dari sampel perifer tidak dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

Abnormalitas hematologi merupakan temuan umum dijumpai pada malaria. Anemia, abnormalitas hitung leukosit, dan trombositopenia cenderung terjadi pada infeksi P. falciparum. Perbedaan yang signifikan pada hasil hitung basofil dan eosinofil dapat memberikan data penunjang bagi klinisi dalam meningkatkan kecurigaan spesies tertentu pada pasien dengan karakteristik klinis tipikal malaria, terutama di daerah endemik dengan sumber daya yang terbatas. Korelasi yang bermakna antara hitung eosinofil dengan DP dapat memberikan prediksi derajat parasitemia pada individu terinfeksi. Penelitian lebih lanjut terkait nilai diagnostik basofil dan eosinofil maupun peran kedua parameter dalam infeksi P. falciparum maupun P. vivax masih diperlukan untuk dieksplorasi lebih mendalam.

Penulis: Puspa Wardhani

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.id-press.eu/mjms/article/view/4881

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu