Sindroma Inflamasi Multi Sistem pada Anak: Tinjauan Kepustakaan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hipwee.com

Pandemi Covid-19 masih menjadi persoalan yang membebani seluruh dunia. Dari segi umur, kelompok anak relatif tidak banyak terinfeksi. Dari yang terinfeksi pun sangat sedikit yang meninggal dunia. Ada beberapa perbedaan antara anak dan dewasa. Salah satu perbedaan yang mencolok adalah gambaran klinis yang terjadi. Dari sekian banyak gambaran klinis pada anak, ada fenomena khusus yang dikelompokkan dalam Sindroma Inflamasi Multi Sistem Anak (Multisystem Inflammatory Syndrome in Children atau MIS-C). Nama lain yang digunakan adalah PIMS (Pediatric Inflammatory Multisystem Syndrome). Beberapa klinisi menyebutkan spektrum penyakit ini dapat dibagi atas tiga yaitu yang ditandai syok, yang ditandai gambaran seperti penyakit Kawasaki, dan gambaran demam plus inflamasi/keradangan. Penyakit Kawasaki sendiri adalah sebuah penyakit yang banyak didapatkan di Asia Timur, diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Tomisaku Kawasaki pada tahun 1960-an. Istilah pertama kali yang dituliskan adalah acute febrile mucocutaneous lymph node syndrome. Penyebab penyakit ini belum jelas hingga saat ini dan kepastian diagnosis ditentukan secara sindromik atau ditemukannya beberapa kondisi pada satu penderita secara bersamaan. Hingga bulan Juni 2020 publikasi mengenai MIS-C mencapai lebih dari 1400 tulisan.

Laporan pertama kasus MIS-C datang dari Inggris Raya pada 25 April 2020. National Health Service (NHS) di Inggris melaporkan kewaspadaan akan adanya kasus dengan gambaran seperti penyakit Kawasaki. Pada tanggal 1 Mei 2020 Royal College of Pediatric Child and Health mengeluarkan pedoman mengenai kasus ini. Setelah itu terbit laporan kasus yang memaparkan 8 penderita di Bergamo Italia. Bergamo adalah salah satu pusat utama kasus Covid-19 di negara tersebut. Laporan-laporan selanjutnya bermunculan dari Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Spanyol, Iran, dan Timur Tengah, namun tidak dari negara Asia Timur.

Proses terjadinya penyakit di tingkat sel belum banyak diketahui seperti juga yang dialami Penyakit Kawasaki. Semua pasien menunjukkan hasil pemeriksaan antibodi Covid-19 atau bahkan virus SARS-CoV-2 namun tidak dijumpai gejala dan tanda yang berat sebelum episode sakit ini. Proses saat MIS-C sendiri tergolong berat dan dianggap sebagai manifestasi respon imun yang terlambat dari proses inflamasi yang tidak terkendali. Keradangan pembuluh darah juga sering ditemukan. Secara umum dapat dikatakan proses pada MIS-C relative lebih berat dibandingkan pada Penyakit Kawasaki.

Faktor genetik diduga berperan pada MIS-C. Salah satu temuan utama adalah keterlibatan gen TMEM173. Aktivasi berlebihan gen ini dapat menimbulkan pembekuan darah yang berlebihan. Baik pada Penyakit Kawasaki maupun MIS-C hal ini ditemukan.

Penderita MIS-C sering mengeluhkan gejala pencernaan yang tidak umum, selain beberapa gejala dan tanda yang biasa ditemukan pada Penyakit Kawasaki, yang mencakup demam, gejala dan tanda pada kulit dan permukaan rongga dalam tubuh seperti bercak merah, lidah seperti strawberi, bibir merah dan pecah-pecah, bengkak pada telapak tangan dan kaki, serta kemerahan pada mata. Sering dijumpai pula pembesaran kelenjar dan gangguan pada jantung. Memang komplikasi tersering dan paling ditakuti pada penyakit Kawasaki adalah pelebaran pembuluh darah jantung yang jika pecah akan langsung menyebabkan kematian. Hal lain yang sering dijumpai adalah keluhan saraf dalam berbagai bentuk. Sebagian dokter menggolongkan MIS-C menjadi ringan, sedang, dan berat.

Pemeriksaan laboratorium biasanya menunjukkan peningkatan pada petanda keradangan dan angka yang tampak bisa sangat tinggi. Pemeriksaan jantung sering merupakan keharusan, baik dalam bentuk foto dada, elektrokardiografi, maupun ekokardiografi. . Karena kerusakan ginjal bisa diderita pada MIS-C, pemeriksaan kencing dan fungsi ginjal juga penting. Secara umum peningkatan petanda keradangan juga terlihat pada pasien Covid-19.

Penegakan diagnosis pasti tidak bergantung hanya ada satu metode namun lebih kea rah gabungan gejala dan tanda. WHO dan Lembaga CDC di Amerika Serikat mengeluarkan pedoman mengenai persyaratan diagnosis ini.

Pengobatan yang diberikan selain bersifat penunjang sesuai keluhan, juga terdiri dari immunoglobulin, obat steroid, serta beberapa obat yang juga diberikan pada pasien Covid-19. Mereka yang mengalami gangguan tekanan darah dan dimasukkan ke ruang perawatan intensif tentu memerlukan tambahan obat untuk mempertahankaan tekanan darah tersebut. Pasien dengan gangguan nafas yang berat yang bahkan mengalami kegagalan sistem pernafasan tentu memerlukan alat bantu nafas.

Sekalipun bisa mencapai taraf berat, angka kematian penderita MIS-C relatif sedikit. Sebagian besar pasien bertahan hidup setelah perawatan rumah sakit. Beberapa gejala sisa mungkin didapatkan namun tidak semua bertahan secara permanen.

Penulis: Dominicus Husada

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: Multisystem Inflammatory Syndrome In Children:Literature Review | Husada | JURNAL WIDYA MEDIKA

(MULTISYSTEM INFLAMMATORY SYNDROME IN CHILDREN: LITERATURE REVIEW)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu