Menilik Performa Dua Rapid Diagnostic Tests Malaria dan Real-Time PCR dan Baku Emas Deteksi Mikroskopis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alamy

Indonesia merupakan daerah endemis malaria. Provinsi Papua memiliki tingkat infeksi malaria tertinggi di Indonesia. Semua spesies Plasmodium terdapat di Papua, termasuk Plasmodium knowlesi (P. knowlesi) yang awalnya ditemukan di Pulau Kalimantan. Jenis infeksi Plasmodium yang paling umum di Papua adalah Plasmodium falciparum (P. falciparum) dan Plasmodium vivax (P. vivax). Plasmodium ovale (P. ovale) dan Plasmodium malariae (P. malariae) juga dapat ditemukan di Papua.

Tes diagnosis malaria sebagian besar didasarkan pada Rapid Diagnostic Tests (RDTs) dan deteksi dengan mikroskop. Polymerase Chain Reaction (PCR) juga merupakan metode deteksi sensitif. Hasil deteksi mikroskopis malaria tergantung pada kemampuan dan pengalaman pemeriksa. Beberapa RDT sudah didistribusikan di Indonesia yang perlu dievaluasi performanya.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja RDT RightSign dan ScreenPlus untuk mendeteksi Plasmodium dalam darah manusia. Hasil RDTs dibandingkan dengan RT-PCR abTESTMMalaria qPCRII dan baku emas metode deteksi mikroskop untuk mengukur performa diagnostik.

Metode dan Hasil:

Sampel studi didapatkan dari Rumah Sakit Merauke, Papua dari bulam November 2018-June 2019. Sebanyak sampel darah utuh didapatkan dalam studi ini. Spesimen darah dievaluasi menggunakan RightSign RDT, ScreenPlus RDT, deteksi Mikroskopi, dan RT-PCR. Perbedaan spesifisitas (Sp), sensitivitas (Sn), nilai prediksi positif (PPV), dan nilai prediksi negatif (NPV) dianalisis menggunakan analisis McNemar dan Kruskal Wallis.

Sebanyak 105 subjek direkrut. Berdasarkan uji mikroskopis, RDT RightSign memiliki sensitivitas, Spesifisitas, PPV, NPV sebagai berikut 100%, 98%, 98,2%, 100%. ScreenPlus menunjukkan sensitivitas 100%, spesifisitas 98%, PPV 98,2%, NPV 100%. Sensitivitas kedua RDT menjadi lebih rendah (75%) dan spesifisitas lebih tinggi (100%) saat menggunakan PCR waktu nyata. Kedua RDT menunjukkan kesesuaian 100%. RT-PCR mendeteksi infeksi campuran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mikroskop dan RDTs.

Sensitivitas RDT dipengaruhi oleh berbagai faktor yang meliputi lokasi dan pengambilan sampel populasi, antigenemia dalam sampel itu sendiri dan stabilitas suhu optimal dari kit reagen. Satu hasil positif palsu P. falci parum di RightSign dan ScreenPlus ini. dapat dikaitkan dengan antigenemia protein HRP-2 parasit malaria yang masih dapat diidentifikasi dalam darah pasien hingga 30 hari setelah terapi antimalaria karena pembersihan lambat HRP-2 dalam darah, atau adanya gametosit dalam darah setelah terapi antimalaria. Gametosit dalam darah terus menghasilkan ketiga protein antigenemia (HRP-2, p-LDH dan aldolase). Antigenemia p-LDH dan protein aldolase memiliki waktu pembersihan yang lebih cepat dari darah setelah terapi antimalaria. Faktor reumatoid dan antibodi heterofilik dalam darah pasien adalah penyebab lain dari positif palsu dalam RDT.

Hasil perbandingan antara RDT dan pemeriksaan baku emas mikroskopis tidak berbeda secara signifikan secara statistik. Pemeriksa yang terlibat dalam pemeriksaan mikroskop akan mempengaruhi hasil, sehingga, pemeriksa mikroskopis malaria  sebaiknya yang terlatih dan bersertifikat. Kesesuaian antara hasil RDT dan mikroskop juga tidak terlepas dari kepadatan parasitemia.. Pasien dengan P. falciparum parasitemia tinggi dapat memberikan hasil positif palsu pada pLDH P. vivax yang tinggi pada pemeriksaan RDT. Sensitivitas RightSign dan ScreenPlus terhadap RT-PCR lebih rendah daripada sensitivitas terhadap mikroskop sebagai standar emas untuk penelitian malaria, tetapi spesifisitasnya lebih tinggi. Sebuah penelitian di Flores melaporkan bahwa  RT PCR mampu mendeteksi hampir 8 kali lebih banyak kasus infeksi Plasmodium dibandingkan pemeriksaan mikroskopis sebagai standar emas untuk pengujian malaria. Hal ini disebabkan kemampuan RT PCR untuk mendeteksi infeksi submikroskopis, baik dengan atau tanpa malaria klinis yang tidak terdeteksi secara mikroskopis. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh kemampuan RT PCR untuk mendeteksi fragmen DNA parasit malaria saat mendeteksi keberadaan malaria Plasmodium secara mikroskopis.

Metode molekuler secara universal lebih sensitif daripada mikroskopis, namun PCR (PCR multipleks, RT PCR, atau konvensional) membutuhkan laboratorium yang lebih canggih, tenaga terlatih, waktu lebih lama, dan biaya lebih tinggi karena pemeriksaan PCR bukan menjadi pemeriksaan rutin malaria. Hasil pemeriksaan malaria dapat lebih akurat jika PCR digunakan sebagai standar acuan pengujian malaria karena metode PCR mampu mendeteksi parasitemia di bawah batas mikroskopis.

Kesimpulan

RightSign dan ScreenPlus RDT memiliki performa yang bagus. Analisis deteksi antigen Plasmodium dengan penelitian RightSign, ScreenPlus, dan mikroskop tidak berbeda signifikan. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui nilai diagnostik Plasmodium non-falciparum dan non-vivax pada RightSign dan ScreenPlus. Realtime PCR mendeteksi infeksi campuran yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mikroskopis dan RDT, oleh karena itu metode RT PCR dapat dianggap sebagai alat konfirmasi yang efektif untuk diagnosis malaria.

Penulis: Dr. Puspa Wardhani.dr. Sp.PK(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.mdpi.com/2036-7449/12/11/8731

Puspa Wardhani, Trieva Verawaty Butarbutar, Christophorus Oetama Adiatmaja, Amarensi Milka Betaubun, Nur Chamidah, Aryati (2020). Performance Comparison of Two Malaria Rapid Diagnostic Test with Real Time Polymerase Chain Reaction and Gold Standard of Microscopy Detection Method. Infect. Dis. Rep. 202012(S1), 56-60 https://doi.org/10.4081/idr.2020.8731

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu