Analisa Anti Peradangan pada Permukaan Sel Limfosit

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi sel limfosit. (Sumber: SehatQ)

Gigi berlubang merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh berbagai faktor yaitu kuman, karbohidrat, dan faktor sosial, sedangkan gigi berlubang pada anak usia pra sekolah sering ditemukan pada anak dengan kondisi sosial ekonomi rendah.

Sistem kekebalan tubuh merupakan kumpulan sel yang sangat variatif, terdiri dari dua bagian sistem kekebalan tubuh bawaan dan yang didapat. Sistem kekebalan tubuh bawaan dan yang didapat saling terkait, dapat menyebabkan aktivasi respon sistem  kekebalan yang didapat. Komponen yang mengatur sistem kekebalan tubuh, seperti sel pengatur imun dan pengatur sitokin, baik alami maupun didapat yang diinduksi oleh antigen berperan penting dalam mengontrol berbagai respon kekebalan baik fisiologis maupun patologis.

Sistem kekebalan dalam rongga mulut memiliki peran penting yaitu menyeimbangkan jumlah mikroba. Ronng mulut merupakan pintu masuk dan pertukaran dengan lingkungan luar, oleh karena itu faktor homeostasis harus dievaluasi dan dikendalikan oleh sistem kekebaan tubuh. Respon imun terhadap patogen melibatkan aktivasi cepat dari sekresi sitokin pro-inflamasi, yang berfungsi untuk memulai pertahanan tubuh terhadap invasi mikroba. Namun, sitokin inflamasi yang berlebihan di jaringan dapat menyebabkan gangguan metabolik dan hemodinamik sistemik yang berbahaya bagi tubuh, akibatnya sistem kekebalan telah berevolusi untuk membentuk fungsi anti-inflamasi untuk menekan produksi sitokin pro-inflamasi yang berfungsi untuk membatasi kerusakan jaringan dan untuk mempertahankan homeostasis jaringan. IL-10 adalah sitokin anti-inflamasi yang memainkan peran penting dalam mencegah peradangan yang berkepanjangan.

Enam belas anak dengan gigi berlubang yang parah dan bebas karies diambil dari saliva anak prasekolah berusia 4–6 tahun di wilayah surabaya selatan kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pertama anak dengan diagnosis gigi berlubang yang parah yang ditanda dengan def-t > 6 sedangkan kelompok kedua adalah anak-anak prasekolah yang didiagnosis dengan karies bebas yang ditandai dengan def-t = 0.

Pengambilan sampel dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti terlatih menggunakan protokol standar. Subjek diminta untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman, atau menyikat gigi selama 60 menit sebelum penelitian dilakukan. Ekspresi IL-10 dianalisis menggunakan flow cytometry dan data dianalisis dengan uji t independen untuk melihat perbedaan ekspresinya pada anak bebas gigi berlubang dan gigi berlubang yang parah.

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji t yang sebelumnya dilakukan uji normalitas dan homogenitas menggunakan SPSS Shapiro – Wilk test. Hasil pengujian ini menunjukkan nilai P> 0,05 yang berarti semua data berdistribusi normal dan homogen. Uji normalitas dengan menggunakan data Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi normal, sedangkan hasil uji Levene menunjukkan data yang homogen. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata IL-10 pada kelompok bebas gigi berlubang lebih tinggi dibandingkan kelompok gigi berlubang yang parah, tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik antara anak bebas gigi berlubang dan anak dengan gigi berlubang yang parah.

Hal tersebut terjadi karena kemungkinan pada anak prasekolah dengan gigi berlubang yang parah itu lebih banyak merespons antigen yaitu bakteri S. mutans yang jumlahnya relatif tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang tidak memiliki gigi berlubang. Struktur antigen yang disebut PAMPs, yang akan dikenali oleh PRRs yaitu TLRs, sangat penting untuk memicu efek atau fase respon imun bawaan. TLR2 dan TLR4 yang terlibat dalam pengenalan bakteri gram positif dan gram negatif yang telah terdeteksi dalam membran sel odontoblas di pulpa yang sehat menunjukkan bahwa odontoblas memiliki kemampuan untuk mengenali patogen ini ketika mereka berdifusi melalui tubulus dentin selama infeksi karies.

Ekspresi IL-10 pada permukaan sel limfosit dari saliva pada anak-anak dengan gigi berlubang yang parah  lebih rendah dibandingkan pada anak-anak bebas gigi berlubang.

Penulis: Muhammad luthfi

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.jioh.org/

Retno Indrawati, Muhammad Luthfi, Aqsa S. Oki , Yuliati, Agung Sosiawan, Priyawan Rachmadi , Muhaimin Rifai (2020). Analysis of Interleukin-10 Anti-inflammatory Cytokines in Salivary Lymphocyte Surface: A cross Sectional Study. Journal of International Oral Health;Volume 12; Issue 5; September-October 2020

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu