Potensi Antibakteri Asiaticoside dalam Daun Pegagan Terhadap Enterrococcus Faecalis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Good Doctor

Pemanfaatan tanaman obat dan derivatnya sebagai bahan obat anti bakteri saat ini semakin relevan karena semakin banyaknya angka kejadian resistensi obat. Beragam tanaman telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan terapi, termasuk Pegagan (C. asiatica) dan derivatnya. Pegagan banyak ditemukan di India, Sri Lanka, Malaysia, China, Australia, Jepang dan Indonesia. Tanaman ini terkenal karena memiliki banyak khasiat diantaranya sebagai anti oksidan, anti stres, anti bakteri dan penyembuhan luka. Semua khasiat tersebut didapat dari bahan aktif yang terdapat dalam Pegagan, diantaranya adalah madecassic acid, asiatic acid, madecassoside, dan asiaticoside. Diantara bahan aktif tersebut, asiatic acid dan asiaticoside yang berperan penting dalam potensi Pegagan sebagai bahan obat. Dari beberapa penelitian yang telah  ada, belum ada yang meneliti tentang mekanime potensi antibakteri dari Asiaticoside yang terdapat dalam Pegagan. Oleh karena itu, Peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui mekanisme potensi antibakteri Asiaticoside terhadap Enterrococcus faecalis yang merupakan bakteri persisten dan berperan beasr terhadap terjadinya infeksi saluran akar gigi.

Untuk mengetahui mekanisme potensi antibakteri dari Pegagan ini menggunakan 2 metode, yaitu PASS Prediction yang dilakukan menggunakan sistem aplikasi pada komputer, dilanjutkan dengan Uji daya hambat bakteri Asiaticoside terhadap Enterrococcus faecalis yang dilakukan di laboratorium. PASS Prediction merupakan suatu aplikasi berbasis web yang berguna untuk memprediksi spektrum aktifitas biologis suatu senyawa berdasarkan strukturnya. Aplikasi ini akan menginterpretasikan spektrum aktifitas biologis senyawa menggunakan struktur molekul 2 Dimensi (2D). Hasil  PASS Prediction  dari suatu senyawa akan  menunjukkan nilai Pa (Probability to be active) yang diinterpretasikan sebagai berikut :

  1. Apabila nilai Pa lebih dari 0.7 menandakan bahwa senyawa tersebut diprediksi memiliki potensi yang tinggi sebagai antibakteri secara komputasi maupun uji laboratorium. 
  2. Sedangkan apabila nilai Pa lebih dari 0.3 namun kurang dari 0.7 maka senyawa tersebut secara komputasi memiliki kemampuan sebagai antibakteri, namun secara uji laboratorium perlu dibuktikan lebih lanjut.

Hasil penelusuran nilai Pa terkait potensi antibakteri Asiaticoside menunjukkan nilai Pa sebesar 0,54. Hal ini menandakan bahwa Asiaticoside mempunyai potensi antibakteri, namun perlu dibuktikan lebih lanjut melalui uji laboratorium. Untuk membuktikan potensi antibakteri dilakukan uji in vitro menggunakan metode difusi. Potensi antibakteri Asiaticoside terhadap Enterrococcus faecalis ditunjukkan dengan adanya zona hambat bakteri pada Asiaticoside dengan konsentrasi 12,5%, 25% dan 50% sebesar 9,53mm, 12,23mm, dan 14,38mm. Hal ini menandakan bahwa memang benar Asiaticoside mempunyai potensi antibakteri terhadap Enterrococcus faecalis yang terdapat infeksi saluran akar gigi.  Penelitian ini membutuhkan penelitian lebih lanjut hingga nantinya dapat bermanfaat untuk menghasilkan suatu produk alternatif sebagai solusi bahan irigasi atau bahan sterilisasi saluran akar yang tidak toksik khususnya pada perawatan saluran akar gigi sulung serta sebagai dasar pengembangan dari pegagan yang berbasis bahan alam menjadi bahan pengobatan medis.

Penulis: Nailur Rahmy Wahdany, Seno Pradopo, dan  Mega Moeharyono Puteri

Link jurnal terkait tulisan di atas: http://www.connectjournals.com/toc2.php abstract=3233602H_4889A.pdf&&bookmark=CJ-033216

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu