Analisis Perubahan Kadar Kolesterol Total pada Model Tikus Hiperlipidemia yang Diberi Ekstrak Teripang Emas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatq.com

Hiperkolesterol adalah kondisi ketika kolesterol LDL (low-density lipoprotein) dan kolesterol total dalam darah meningkat di atas batas normal dan kolesterol HDL (high-density lipoprotein) dalam darah menurun di bawah batas normal. Hiperkolesterolemia dapat terjadi karena berat badan, usia, kurang olah raga, stres, gangguan metabolisme, kelainan genetik, dan pola makan tinggi kolesterol dan asam lemak jenuh. Kolesterol total dan kolesterol LDL berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan aterosklerosis pada arteri terutama di jantung, otak, ginjal, mata sehingga menjadi salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner. dan stroke (penyakit jantung koroner).

Indonesia merupakan negara dengan potensi teripang terbesar di dunia. Teripang emas (Stichopus hermanii) merupakan salah satu jenis teripang yang sering diperdagangkan. Pemanfaatan teripang emas (Stichopus hermanii) tidak hanya sebagai bahan pangan tetapi juga dapat digunakan dalam bidang kesehatan untuk pengobatan. Teripang emas (Stichopus hermanii) mengandung glikoprotein, kolagen, glikosaminoglikan, asam hialuronat, kondroitin sulfat, dermatan sulfat, heparin, heparin sulfat, mucopolysaccharide, proteoglikan, asam docosahexaenoic (EPA-DHA), flavonoid emas, saponin mentimun dapat mempercepat proses penyembuhan luka, memiliki aktivitas antibakteri, antijamur dan antioksidan.  Aktivitas antioksidan teripang emas dapat dilihat pada penelitian yang menyatakan pemberian ekstrak etanol teripang emas telah terbukti dapat menghambat peningkatan lipid peroksidase, penurunan aktivitas katalase, Penelitian untuk mengetahui aktivitas antioksidan teripang emas terhadap LDL, HDL dan kolesterol total dalam darah penting dilakukan sebagai pertimbangan alternatif untuk pengobatan hiperkolesterolemia.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental (true experimental study) dengan metode randomized post test only control group.  Ekstraksi teripang emas dibuat dengan membekukan dan mengeringkan teripang emas yang telah disiapkan menggunakan alat pengering beku. Kemudian teripang emas tersebut ditumbuk menjadi bubuk menggunakan blender biasa. 200 gram bubuk dilarutkan dalam etanol 96% selama satu hari, larutan disaring menggunakan kertas saring. Filtrat diuapkan menggunakan evaporator, sehingga diperoleh ekstrak teripang emas yang kemudian disimpan dalam keadaan steril di lemari es pada suhu 4oC.

Hewan coba yang digunakan adalah 36 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (KN) dan 3 kelompok perlakuan (P1, P2, P3). Tiap kelompok terdiri dari sembilan ekor tikus wistar jantan. Proses adaptasi dilakukan selama tujuh hari dan selama proses adaptasi semua tikus diberi perlakuan yang sama yaitu diberi pakan tikus standar.

Selanjutnya semua kelompok tikus akan diberikan pakan tinggi lemak dengan komposisi 40% pakan ayam, 40% kuning telur itik, dan 20% lemak babi selama 60 hari. Pada hari ke 60 diambil sampel darah secara acak sebanyak satu ekor tikus dan dilakukan pengukuran kadar LDL, HDL dan kolesterol total di Laboratorium Kesehatan Daerah untuk memastikan keadaan hiperkolesterol pada mencit. Setelah terjadi hiperkolesterolemia maka diberikan ekstrak teripang emas diberikan selama dua minggu dengan dosis 4,25 mg/kgBB perhari pada kelompok P1,  dosis 8,5 mg/kg BB per hari pada kelompok P2, dan dosis 17 mg/kgBB perhari untuk kelompok P3. Kelompok kontrol negatif tidak diberikan ekstrak teripang emas diganti dengan plasebo berupa aquadest. Seluruh kelompok tikus terus diberikan pakan tinggi lemak selama masa perlakuan untuk menghindari kemungkinan kolesterol kembali normal akibat pakan tikus standar.

Pengumpulan sampel darah Sampel darah diambil pada akhir minggu ke-2. Darah tikus diperoleh dengan pengambilan darah menggunakan metode tusukan jantung. Pengambilan sampel darah dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah dipelajari oleh (Beeton, Garcia, dan Chandy, 2007). Setelah diambil sampel darahnya, tikus dikubur dlokasi yang telah disediakan.  Pengukuran kadar LDL dan HDL serum tikus dengan menggunakan metode presipitasi (langsung) dengan menggunakan analyzer dan dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah. 

Data yang diperoleh diuji normalitasnya menggunakan Shapiro Wilk atau Kolmogorov Smirnov (n<50) dan diperoleh data berdistribusi normal yang kemudian dianalisis dengan statistik parametrik menggunakan ANOVA. Analisis data menggunakan program SPSS 23 dan nilai p <0,05 dinyatakan signifikan.

Tikus hiperkolesterolemia yang diberi ekstrak etanol teripang emas (Stichopus hermanii) dengan dosis kgBB, 8,5 mg/kgBB memiliki kadar kolesterol total dan LDL yang lebih rendah dibandingkan dengan tikus hiperkolesterolemia yang tidak diberi ekstrak teripang emas, tetapi rasio masing-masing kelompok tidak signifikan.

Penulis: Farmindo Hartono, Indri Safitri Mukono, Maftuchah Rochmanti

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: file:///Users/profindrisafitri/Downloads/IJPHRD%20May_2020%20(2)-1.pdf

(Effects of Golden Sea Cucumber (Stichopus Hermanii) Ethanol Extracts on Cholesterol Levels of Hypercholesterolemic Rats)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu