Penilaian Risiko Kuantitatif Paparan Kristal Silika di Industri Keramik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Bisnis.tempo.co

Paparan bahaya yang ada di lingkungan kerja di industri keramik yang paling banyak ditemui adalah debu silika, debu total, dan tekanan panas. Debu silika adalah polutan utama dalam industri keramik karena merupakan salah satu bagian dalam bahan baku. Silika kristal adalah salah satu mineral bumi yang paling banyak dijumpai, dengan paparan yang luas di lingkungan kerja dan lingkungan sekitar. Silika termasuk kelompok zat 1 yang bersifat karsinogenik pada manusia. Di Cina, hubungan antara paparan debu silika dengan mortalitas dari semua penyebab penyakit pernapasan, TBC resporatori, dan penyakit kardiovaskular adalah signifikan. Di seluruh dunia diperkirakan setidaknya dua atau tiga juta pekerja bekerja secara kasar terpapar silika setiap tahun. Debu kristal silika yang terhirup dari lingkungan kerja dapat menyebabkan fibrosis paru (silikosis), penurunan fungsi paru-paru, peradangan paru-paru, dan kanker paru-paru telah dikaitkan dengan glumerulonefritis dan gangguan pada hati, limpa, dan sistem kekebalan tubuh. Prevalensi data silikosis bervariasi dari satu negara ke negara. Studi yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ada 3600-7300 kasus baru silikosis per tahun pada 1987-1996. Studi yang dilakukan di pabrik semen menemukan kecurigaan radiologis silikosis 0,5%. Sebuah studi yang dilakukan di salah satu pabrik semen di Jawa Barat menunjukkan bahwa kejadian silikosis adalah 2,06% pada tahun 1990-2003. Sebuah studi sebelumnya menunjukkan bahwa 32% sampel bahan keramik mengandung silika gratis di seluruh Taiwan.

Beberapa studi epidemiologi baru-baru ini menunjukkan bahwa nilai sekarang dari debu silika standar tidak cukup untuk pedoman untuk melindungi dan mencegah silikosis kronis. Nilai ambang debu kristal silika di Indonesia didasarkan pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER.13/MEN/X/2011 tentang nilai ambang faktor fisika dan kimia di tempat kerja yang ditetapkan sebesar 0,05 mg/m3. Kasus pneumoconiosis menduduki peringkat pertama Penyakit Akibat Kerja (PAK) di Jepang dan Cina. Berdasarkan program surveilans silikosis di Ontario, sangat disangka bahwa insiden silikosis mengalami peningkatan yang signifikan pada lebih dari 8% responden setelah terpapar debu silika selama 35 tahun. Pendekatan analisis risiko adalah salah satu cara untuk menentukan tingkat risiko akibat debu silika kristalin yang ada atau waktu yang sama di masa mendatang sehingga memungkinkan upaya pencegahan dini.

Paparan debu c-silika secara terus-menerus dapat memiliki efek jangka panjang dan jangka pendek. Sumber produksi bagian debu c-silika berasal dari bahan baku berupa tanah liat dan pasir silika yang mengandung silika bebas yang membuat keramik menjadi lebih keras dan kuat. Proses pemanasan dalam proses produksi sampai suhu sekitar 1200oC juga membuat fraksi lain dari debu c-silika yang lebih reaktif. Tingkat debu c-silika memiliki distribusi yang seragam di seluruh tempat kerja dengan nilai rata-rata 0,068 mg/m3. Suhu yang digunakan dalam proses produksi juga akan mempengaruhi konveksi dan radiasi terhadap kenaikan suhu lingkungan kerja. Suhu lingkungan kerja berkisar antara 31,3-36,6 oC yang membuat debu c-silika menjadi lebih kering dan lebih ringan sehingga mudah dibawa oleh aliran udara yang ada di lingkungan kerja dan dapat memperluas penyebaran debu. Silikosis masih ada pada pekerja yang meninggal terkena paparan debu silika antara 0,05-0,1 mg/m3. Dari hasil pengukuran debu c-silika di lingkungan kerja dengan menggunakan sampler pribadi pada setiap hasil yang didapat menunjukkan responden yang melebihi nilai batas berdasarkan peraturan indonesia (Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER.13/MEN/X/2011) sebesar 55,3%. Nilai konsentrasi sangat berpengaruh pada nilai asupan pada pekerja, semakin tinggi konsentrasi debu c-silika di lingkungan kerja semakin tinggi nilai asupan sehingga nilai risiko juga akan meningkat.

Radiografi dada dapat digunakan untuk menilai paparan debu silika. Interpretasi hasil pemeriksaan thorax harus dilakukan dengan menggunakan radiografi pedoman pneumoconiosis dari ILO. Berdasarkan perhitungan nilai risiko 20 tahun ke depan, terdapat peningkatan risiko. Ini terjadi karena paparan debu c-silika berdampak lebih jauh jika tidak dikontrol secara efektif.

Penulis: Moch. Sahri, Abdul Rohim Tualeka

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: http://repository.unusa.ac.id/5841/1/Quantitative%20Risk%20Assesment%20of%20Crystalline%20Silica%20Exposure%20in%20Ceramics%20Industry.pdf

(Quantitative Risk Assesment of Crystalline Silica Exposure in Ceramics Industry)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu