Pengaruh Lama Kerja terhadap Kapasitas Vital Paru Pekerja Bubut di Yogyakarta

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kenshusei.com

Debu, uap, gas yang mengelilingi para pekerja di lingkungan kerja akan mengganggu produktivitas dan kesehatan pekerja. Bisa juga menyebabkan pengurangan kenyamanan, penglihatan, gangguan fungsi pernapasan dari gangguan paru. Ukuran, bentuk, konsentrasi, solvabilitas, bahan kimia sifat dan paparan debu yang lama adalah penyebab timbulnya gangguan fungsi paru.

Faktor-faktor yang mempengaruhi toksisitas zat adalah eksposur karakteristik dalam bentuk eksposurdosis dan durasi pajanan. Lingkungan kerja jugamemiliki dampak pada zat kimia toksisitas tersebut seperti suhu dan kelembaban. Hipotesis terkait menyatakan bahwa kerentanan individu seperti usia, jenis kelamin, berat badan, status gizi, riwayat penyakit juga memiliki hubungan dengan toksisitas kimia dalam tubuh.

CV Z Yogyakarta adalah salah satu perusahaan di bidang industri logam aluminium yang memproduksi rumah tangga peralatan yang terbuat dari aluminium. Salah satu prosesnya yang memiliki risiko untuk menghirup debu aluminium adalah mesin bubut proses. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa 66,6% pekerja mesin bubut memiliki penurunan kapasitas vital paru. Sementara itu, 40% Pekerja bubut memiliki gangguan paru – paru nakal dibentuk kelainan restriksi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara durasi kerja, usia, dan masa kerja dengan kondisi gangguan paru-paru di pekerja bubut di Z Industri, Yogyakarta. Usia pekerja berdasarkan hasil dari kuesioner menunjukkan bahwa pekerja dibagian bubut X Industri hanya terdiri dari usia 26-45 tahun dan lebih dari 45 tahun. Tidak ada pekerja bubut berusia 1 7-25 tahun. Ini karena semua pekerja mulai beker jadi Z Industri sejak usia 17-25 tahun. Seluruh bagian pekerja X Industri bubut memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun. Kecil persentase pekerja memiliki masa kerja 1-5tahun. Sementara sebagian besar pekerja telah bekerja di atas 5 tahun. Ini karena selama 5 tahun terakhir industri X belum membuat rekrutmen tenaga kerja baru di bagian bubut.

Pemeriksaan kondisi gangguan paru-paru pada pekerja bagian bubut dalam bentuk pemeriksaan kapasitas vital paru atau menggunakan FEVl dan FVC. Pemeriksaan FEVl dan FVC adalah penilaian informatif dan sering tidak berarti dimenilai perkembangan paru-paru penyakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan paru-paru menggunakan spirolab II diperoleh sebagian pekerja melakukan kesalahan paru-paru. Adanya gangguan paru di bagian pekerja bubut,maka dalam waktu yang lama akan menyebabkan paru-paru penyakit. Penyakit paru-paru yang bisa muncul karena untuk gangguan penyakit parenkim paru-paru ini pembatasan atau fibrosis paru difus interstitial “.

Berdasarkan hasil uji tabulasi silang dapat dilihat bahwa seorang pekerja yang memiliki gangguan paru memiliki usia lebih banyak 45 tahun. Namun tetap saja, banyak pekerja berusia 45 tahun miliki kondisi paru-paru abnormal. Itu tidak mirip dengan yang lain penelitian bahwa kapasitas paru-paru akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Selain itu, ada menemukan bagian bubut pekerja memiliki gangguan paru-paru rentang usia 26-45 tahun.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, nilai koefisien kontingensi dengan 0,158; usia memiliki hubungan yang lemah dengan kondisi paru bubut pekerja di Industri Z. Ini mirip dengan yang lain Penelitian yang menyebutkan usia itu tidak terkait untuk kondisi gangguan paru-paru. Selain itu, yang lain penelitian bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara gangguan fungsi paru dengan pekerja umur di PT. Unit tonasa.

Berdasarkan hasil tabulasi silang, pekerja mesin bubut yangmemiliki masa kerja 5-10 tahun, tidak ada memiliki gangguan paru. Sedangkan semua pekerja yang punya gangguan paru lebih dari sepuluh tahun masa kerja. Ini kontras dengan pernyataan lain yang menyebutkan bahwa ada ahubungan yang bermakna antara fungsi parugangguan dengan pekerjaan yang bekerja Bentuk penyakit paru fibrosis muncul karena masa inkubasi debu selama bertahun-tahun.

Menghasilkan koefisien kontingensi koefisien dengan nilai 0,267. Maka bisa disimpulkan hubungan antara kerja yang kuatperiode dengan kondisi pekerja dipekerja bubut gangguan paru-paru. Hubungan yang lemah antara masa kerja dengan kondisi gangguan paru-paru pada pekerja bubut karena sebagian besar pekerja yang memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun usia memiliki kondisi paru-paru normal.

Durasi bekerja memiliki hubungan yang signifikan dengan paru-paru kondisi pekerja mesin bubut di Industri Z. Itu hasilnya mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh Armaeni et al., menyatakan bahwa karya lama atau paparan lama adalah kuatvariabel untuk menyebabkan gangguan lunglO. Sebanyak 10 orang mengalami pekerja dengan gangguan parujam kerja 8 jam sehari. Berdasarkan ini bisa menyimpulkan bahwa pekerja mesin bubut memiliki risiko mengalami gangguan karena paparan yang lama ke lingkungan kerja gangguan paru-paru dapat terjadi karena durasi apaparan seseorang terhadap lingkungan berdebu secara terus menerus dan adanya faktor internal lainnya seperti usia, jenis kelamin, masa kerja, status gizi, kebiasaan merokok, paparan lama, alat pelindung diri. Ini berarti hubungan antara durasi bekerja dan kondisi kerusakan paru-paru pada pekerja bubut bisa jadi karena faktor lain yang juga berpengaruh.

Umur, masa kerja, dan lamanya bekerja adalah terkait dengan kapasitas vital paru-paru pekerja bubut. Itu yang membedakan adalah seberapa kuat pergaulan antara dua variabel. Pada variabel umur dan masa kerja dengan gangguan paru-paru kondisi memiliki nilai koefisien kontingensi 0,158 dan 0,279 artinya memiliki asosiasi yang lemah sedangkan durasi bekerja memiliki koefisien kontingensinilai 0,729 berarti keterkaitannya kuat cukup. Karena itu, semakin tinggi zat toksinnya akan meningkatkan risiko kerusakan pada fungsi paru-paru.

Penulis: Abdul Rohim Tualeka1,Hujatul Kalamillah

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: http://repository.unair.ac.id/93125/1/18%20Association%20between%20Duration%20Working%20with%20Lung%20Disruption.pdf

(Association between Duration Working with Lung Disruption Condition using Pulmonary Vital Capacity (PVC) test on Lathe Worker at Yogyakarta, Indonesia)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu