Penentuan Konsentrasi Aman Merkuri pada Kerang di Perairan Kayeli

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompasiana.com

Merkuri adalah salah satu logam di lingkungan yang terbentuk secara alami dan diklasifikasikan sebagai bahan berbahaya. Merkuri adalah perak putih yang berat logam dan memiliki sifat persisten. Itu cair, mudah menguap,bioakumulasi dan berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Merkuri terbentuk secara alami dan terdiri dari tiga bentuk, yaitu unsur, anorganikdan organik. Beberapa orang terpapar merkuri disetiap hari melalui kegiatan seperti inhalasi,konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi dan kontak kulit.

Sebagian besar merkuri di lingkungan datangdari kegiatan manusia, salah satunya adalah penambangan emas. Penambangan emas di Indonesia kebanyakan adalah emas tanpa izin penambangan (PETI). Proses penambangan emas semacam ini adalah tradisional karena menggunakan merkuri dalam penggabungan proses.

Biji emas yang diperoleh dari penambangan ini akan digiling dengan alat campur aduk dan ditambahkan dengan merkuri untuk membuatnya menjadi bubuk pasir. Setelah itu, bedaknya akan dicampur dengan merkuri untuk sekali lagi. Merkuri limbah dari proses ini akan mencemari tanah. Ini proses juga menghasilkan limbah dalam bentuk tailing yang akan dibuang ke sungai dan mencemari lingkungan.

Menurut Badan zat beracun dan Disease Registry, merkuri bisa membawa negatif berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Ini dapat merusak otak dan ginjal fungsi. Menghirup uap merkuri dalam bentuk metil merkuri menyebabkan merkuri pergi ke otak dan mempengaruhi sistem saraf, sambil mengkonsumsi merkuri terkontaminasi makanan akan menyebabkan akumulasi merkuri di ginjal yang nantinya bisa membahayakan ginjal. Broussard (2002) menyatakan bahwa saluran pencernaan adalah rute utama metil merkuri ke dalam tubuh. Namun, metil merkuri juga bisa diserap melalui paru-paru dan kulit. Lebih dari 90% metil merkuri yang diserap oleh tubuh memasuki eritrosit dan mengikat hemoglobin, sedangkan sisanya 10% ditemukan diotak dan perlahan mengalami demetilasi yang menyebabkan nekrosis neuron dan menjadi racun bagi korteks serebral.

Merkuri tidak hanya mempengaruhi kesehatan orang dewasa, tetapi juga kesehatan anak-anak. Paparan merkuri, yang bisa dibentuk makanan yang terkontaminasi seperti ikan dan kerang, dapat mempengaruhi proses perkembangan anak. Anak-anak yang terpapar merkuri dapat mengalami menurunnya kemampuan otak, keterbelakangan mental dan ketidakmampuan untuk bergerak. Merkuri juga berbahaya bagiwanita hamil. Wanita yang terpapar merkuri selama kehamilan memiliki risiko kebutaan, kejang, dan ketidakmampuan untuk berbicara

Konsentrasi paparan merkuri yang aman melalui inhalasi adalah 0,1 mg/m3. Di Indonesia, inhalasi telah ditetapkan bahwa konsentrasi merkuri amanpajanan adalah 0,001 mg/L untuk air minum dan 1 mg/untuk kerang. Ada sekitar 85,57% dari pekerja di bidang Penambangan Emas Tidak Berizin (PETI) yang mengkonsumsi kerang yang terkontaminasi merkuri dalam setiap hari. Namun, konsentrasi merkuri dalam kerang masih belum diketahui.

Sebuah studi sebelumnya menganalisis risiko kesehatan paparan merkuri di komunitas emas tanpa izin area pertambangan (PETI) di Provinsi Maluku Indonesia. Namun, itu hanya menghitung asupan dan konsumsi estimasi risk quotient (RQ) dan tidak menghitung Referensi Dosis (RfD) dan konsentrasi aman paparan merkuri dalam kerang. Oleh karena itu, penelitian ini adalah bertujuan untuk menghitung Dosis Referensi (RfD) dan aman konsentrasi paparan merkuri dalam cangkang menggunakan tingkat efek yang tidak teramati (NOAEL).

Pengukuran merkuri pada konsentrasi cangkang Polymesoda erosa di Kayeli Desa, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku digotongkeluar dari tiga lokasi pembuangan tailing yang berbedadi sekitar pantai. Tiga cangkang diambil sebagai sampeluntuk setiap lokasi, jadi totalnya adalah 9 kerang sampel.Hasil perhitungan NOAEL adalah 0,23mg/kg Hasil ini sejalan dengan nilai batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan Badan untuk Zat Beracun dan Registri Penyakit yang dinyatakan NOAEL merkuri menjadi 0,23 mg/kg. Lalu, itu bisa dapat dikatakan bahwa nilai No Efek Diamati Efek Level (NOAEL) aman untuk komunitas.

Referensi Dosis (RfD) dalam emas ilegalarea pertambangan di Desa Kayeli, Kabupaten Buru, MalukuProvinsi, Indonesia adalah 0,0023 mg/kg/hari. Di bawahRfD dari Badan Perlindungan Lingkungan di IndonesiaBroussard (2002) sebesar 0,3 mg/kg/hari. Dapat dikatakan demikian dosis referensi (RfD) merkuri dalam emas ilegal area penambangan di Desa Kayeli, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, Indonesia aman bagi masyarakat.

Hasil pengukuran konsentrasi aman paparan merkuri dalam kerang di emas ilegal area pertambangan di Desa Kayeli, Kabupaten Buru, Maluku Provinsi, Indonesia adalah 0,71 mg/kg. Itu di bawah standar peraturan yang ditetapkan oleh badan-badan lain. Menurut ke Administrasi Makanan dan Obat-obatan di Broussard (2002) konsentrasi merkuri yang aman adalah 1 mg/kgPeraturan Kepala Republik Indonesia Nomor Badan Pengawas Obat dan Makanan HK.00.06.1.52.4011.3 tentang Penentuan Batas Maksimum Mikroba dan Kimia Kontaminan dalam Makanan juga menyebutkan bahwa amanbatas merkuri dalam kerang adalah 1 mg/kg.12 Selain itu, Standar Nasional Indonesia tentangbatas maksimum kontaminasi logam berat dalam makanan disebutkan juga bahwa konsentrasi raksa aman pajanan terhadap kerang-kerangan adalah 1 mg/kg. Karenanya, bisa jadi mengatakan bahwa konsentrasi aman merkuri dalam kerang di Indonesia area penambangan emas tanpa izin di Desa Kayeli,Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, Indonesia aman dan amandapat digunakan sebagai referensi untuk komunitas.

Penulis: Nesya Eka Ramadhani, Abdul Rohim Tualeka

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: http://medicopublication.com/index.php/ijphrd/article/download/5367/4963/9867

(Determining Mercury Safe Concentration in Shells in theUnlicensed Gold Mining Area of Kayeli Village, Buru Regency,Maluku Province, Indonesia)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu