Menristek/BRIN Paparkan Inovasi Perguruan Tinggi di Era Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MENTERI Ristek/BRIN Bambang Brodjonegoro saat sampaikan materi dalam acara bertajuk WUACD on Webinars 2020 yang digelar Universitas Airlangga, Rabu (18/11/2020), melalui daring. (Foto: istimewa)
MENTERI Ristek/BRIN Bambang Brodjonegoro saat sampaikan materi dalam acara bertajuk WUACD on Webinars 2020 yang digelar Universitas Airlangga, Rabu (18/11/2020), melalui daring. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Pandemi COVID-19 memunculkan beragam problem baru di tengah masyarakat. Menteri Ristek/BRIN Bambang Brodjonegoro sebut telah ada beragam inovasi dari perguruan tinggi Indonesia untuk merespons problem-problem itu. Terutama terkait bidang teknologi kesehatan.

Paparan itu disampaikan Menristek Bambang dalam acara bertajuk WUACD on Webinars 2020 yang digelar Universitas Airlangga pada Rabu (18/11/2020). Menjadi Keynote Speaker dalam webinar internasional tersebut, Bambang sampaikan materi berjudul “Innovation of Higher Education in Developing Medical Technology in Pandemic Era”.

Riset dan inovasi penanganan COVID-19 itu di antaranya terkategori dalam 5 program kementerian Ristek/BRIN. Pertama, konsorsium riset dan inovasi COVID-19. Berisi kolaborasi antara pemerintah, universitas, lembaga penelitian, industri, diaspora, asosiasi, dan rumah sakit. Kedua, IDEAthon. Yakni, kesempatan bagi masyarakat untuk berinovasi melalui ide, solusi, produk, sistem, platform, dan seluler / web aplikasi.

Ketiga, SINTA – COVID-19. Yaitu, platform literatur ilmiah untuk set data yang didukung untuk menangani COVID-19 di Indonesia dari berbagai bidang. Keempat, innovation-research diaspora. Yakni, skema pendanaan riset dan inovasi yang dikelola bersama oleh LPDP dan DIPI untuk mendukung penanganan Pandemi COVID-19. Dan kelima, vaccine acceleration.

”Ini (vaccine acceleration, Red) upaya percepatan pengembangan, manufaktur, dan distribusi vaksin COVID-19,” imbuhnya.

Bambang menjelaskan, program konsorsium riset dan inovasi COVID-19 itu terdiri atas beberapa bidang. Yakni, bidang pencegahan, skrining dan diagnosis, sosial dan humaniora, alat kesehatan dan pendukung, serta obat-obatan dan terapi.

”Obat-obatan dan terapi misalnya multicenter clinical trial, convalescence plasma (serum dari pasien yang sembuh), produksi serum yang mengandung antibody, Mesenchymal Stem Cell,” ujarnya.

Sumber: ristek/BRIN

Total, imbuh Bambang, terdapat 61 produk riset inovasi Covid-19. Bahkan diluncurkan Presiden Jokowi pada 20 Oktober 2020 saat momen Kebangkitan Nasional 2020.

Ada 16 produk inovasi utama karya perguruan tinggi. Yakni, Rapid Diagnostic Test Microchip, Rapid Diagnostic Test RI-GHA, Real Time PCR Test Kit BioCov-19, Viral Transport Medium, Robot RAISA (Perawat Kesehatan), Robot RAISA TIARA, Robot RAISA BCL, Robot Dekontaminasi, Smart Syringe Pump, Autonomous UVC Mobile Robot, Convalescence Serum, Mobile Laboratory BSL-2, Powered Air Purifying Respirator, Ventilator Vent-I, Venindo V01, dan Venindo R03. Selengkapnya dapat dilihat di bit.ly/katalogprodukkonsorsium2020.

Sementara itu, Bambang menyebut Ristek/BRIN secara umum memiliki tugas untuk mengintegrasikan dan mengoordinasikan ekosistem riset. Terutama upaya terintegrasi pada penelitian, pengembangan, serta implementasi penemuan dan inovasi.

”Di Indonesia, ada tiga aktor penting dalam kerangka kerja riset dan inovasi nasional. Yakni disebut triple healic,” ucapnya.

Tiga aktor itu adalah pemerintah terkait regulasi, fasilitas, dan institusi; akademik terkait universitas dan peneliti; serta dunia industri terkait publik, perusahaan, investor, dan sektor privat. Menurut Bambang, yang terjadi sekarang dalam ekosistem inovasi, ada komunikasi dunia akademik dan industri yang kurang intensif.

”Seperti halnya produk atau prototype tidak dapat berakhir pada optimalisasi pemanfaatan inovasi untuk masyarakat atau masuk ke industri, produksi masal,” katanya.

Ke depan, akademik dan industri harus saling berkomunikasi dan berinteraksi. Dengan begitu, lanjut Bambang, Industri bisa mengatahui apa yang menjadi buah pikiran akademisi. Di sisi lain, lingkungan akademisi juga menjadi tahu tentang hal-hal yang diperlukan masyarakat atau problem di masyarakat (pasar). (*)

Penulis: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu