Fakultas Vokasi UNAIR Latih Digital Entrepreneurship UMKM di Tuban

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Vokasi Universitas Airlangga memberikan pelatihan Digital Entrepreurship kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Tuban. Pelatihan ini merupakan bagian dari salah satu tugas dosen yaitu pengabdian kepada masyarakat (pengmas).

Kegiatan dilaksanakan melalui Zoom pada Kamis (24/10/2020). Penggunaan media Zoom ini untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 sehingga tidak adanya kegiatan tatap muka.

Pelatihan ini disambut baik oleh para pelaku UMKM di Tuban. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya jumlah peserta yang terdaftar yaitu 43 UMKM. Para peserta didominasi oleh usaha makanan dan  minuman. Selain itu juga ada jenis usaha lainnya seperti buket bunga, toko bangunan, dan fashion.

Instruktur pertama, Novyandri Taufik Bahtera, S.E., M.Sc. menyampaikan materi terkait keuangan digital dengan menggunakan aplikasi BukuWarung. Aplikasi ini dapat diunduh di gawai peserta masing-masing. Dalam pemaparannya, instruktur mengawali dengan menyampaikan manfaat dalam pembukuan toko secara digital.

Novyandri  selanjutnya menjelaskan langkah demi langkah dalam penggunakan aplikasi BukuWarung. Dimulai dari pembuatan nama profil usaha, memasukkan data pemasukan dan pengeluaran dana, hingga mencatat hutang dan piutang usaha.

Instruktur kedua, Moh. Darus Salam, SE., MBA, memulai pemaparan materinya dengan sub materi digital marketing dan perilaku masyarakat Indonesia. Pada sub materi ini, dipaparkan mengenai definisi dari digital marketing dan istilah lainnya yang serupa dengan itu serta data statistik berkaitan dengan perilaku masyarakat Indonesia terhadap digital.

Pada sub materi kedua, Darus menjelaskan cara mengelola target pasar yang tepat. Pada sub materi ini, peserta dilibatkan secara langsung dalam menentukan segmentasi dan target pasar di usahanya masing-masing. Para peserta diminta untuk membuat persona dari target pasar mereka yang berisikan biodata, pekerjaan, hobi, tujuan atau mimpi, dan solusi yang dapat ditawarkan oleh usaha peserta.

Pada sub materi ketiga, instruktur menjelaskan mengenai bagaiaman mengelola media sosial sehingga dapat menguntungkan usaha peserta. Media sosial yang difokuskan adalah Instagram. Instruktur menjelaskan mengenai teori AIDA yaitu Attention, Interest, Desire dan Action.

Instruktur juga memaparkan berbagai aspek penting Instagram seperti memahami merek, produk dan pasar, katergori akun Instagram, copywriting. Story highlight, content, caption, hashtag dan iklan. Di akhir sub materi ini, pemateri memberikan contoh praktik terbaik di dunia nyata berkaitan dengan pemasaran melalui Instagram. 

Pada sub materi terakhir, Darus mendeskripsikan bagaimana mengelola marketplace, khususnya Shopee. Instruktur memaparkan data mengenai nilai bisnis di e-commerce di berbagai industri yang ada di Indonesia meliputi industri fesyen elektronik dan makanan dan minuman. Instruktur memaparkan dengan membagikan tautan yang berisi penjelasan untuk membuat akun Shopee.

Dalam mengelola akun media sosial dan marketplace, Darus berpesan agar dilandasi dengan pemahaman mengenai konsumen dan berkomunikasi dengan mereka. Pelaku UMKM harus tahu terlebih dahulu siapa target pasarnya, sehingga nantinya UMKM dapat mendesain pola komunikasi dan pemasaran yang baik untuk konsumen dengan karakterisik tertentu dengan cara tertentu.

Instruktur ketiga, Sidarta Prassetyo, S.S.,M.A.TESOL, memaparkan materi mengenai digital photography. Sub materi yang dijelaskan yaitu pentingnya fotografi dalam bisnis online dan tips memotret produk menggunakan telepon seluler.

Pada sub materi yang pertama, Sidarta mengajak para peserta untuk memilih produk dari foto yang ditampilkan. Dari foto-foto tersebut, instruktur menyimpulkan mengenai pentingnya menampilkan foto yang tepat di media online untuk memasarkan produk.

Sidarta juga menampilkan data statistik berdasarkan penelitian yang menggambarkan bahwa pembeli online akan melakukan pembeliannya dipengaruhi oleh foto produk yang ditampilkan. Salah satu contohnya adalah 90% pembeli online berkata bahwa kualitas foto adalah faktor terpenting dalam penjualan online.

Selain itu, Sidarta juga menyampaikan penelitian lainnya yang menyatakan bahwa di dunia perdagangan daring dimana konsumen tidak dapat memeriksa produk secara langsung, deskripsi tekstual, gambar produk, reputasi penjual memainkan peran kunci.

Pada sub materi kedua, Sidarta memaparkan mengenai tips memotret produk khususnya makanan menggunakan telepon seluler. Tips pertama yang diberikan adalah pemilih ponsel berkamera yang tepat. Dengan begitu, hasil yang didapatkan dapat lebih bersih dan jernih. Tips kedua yaitu penggunaan cahaya alami. Alasannya adalah, dengan menggunakan cahaya alami, hasil foto yang didapat sesuai dengan produknya secara langsung.

Tips yang ketiga yaitu pengendalian bayangan. Dengan kemampuan ini, bayangan yang ada dapat menambah estetika sebuah foto. Tips yang keempat yaitu penggunaan latar belakang dengan nuansa atau warna netral. Dengan warna yang netral, maka foto produk dapat lebih fokus dan terkonsentrasi.

Tips kelima hingga ketiga belas yaitu kombinasi warna, gunakan sudut terbaik, susun dengan rapi, berikan objek celah untuk bernapas, tambahkan ornamen hiasan, ciptakan sebuah cerita, tambahkan elemen manusia, pertahankan kesederhanaan, gunakan white backdrope atau ministudio, dan edit jika diperlukan.

Pada masing-masing materi, para peserta diberikan proyek tugas untuk dikerjakan. Proyek ini untuk mengevaluasi sejauh mana para peserta telah memahami dan mampu menerapkan materi yang telah diberikan ke usahanya masing-masing. (*)

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu