Sasindo Diskusikan Penanganan Wabah dari Tradisi Tulis dan Lisan Masa Lalu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI penanganan wabah di wilayah Nusantara masa lampau. (Foto: konfrontasi.com)
ILUSTRASI penanganan wabah di wilayah Nusantara masa lampau. (Foto: konfrontasi.com)

UNAIR NEWS – Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga menggelar webinar yang bertema “Wabah dan Obat dalam Tradisi Lisan dan Tradisi Tulis Nusantara” pada Selasa (10/11/2020). Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 300 peserta dari Indonesia dan Negeri Jiran.

Turut hadir sebagai pemantik diskusi Dr. Junaini Kasdan dari Universitas Kebangsaan Malaysia; Dr. Trisna Kumala Satya Dewi, pakar tradisi lisan UNAIR; dan Mochamad Ali, S.S., M.A. Min, sebagai moderator.

Dr. Junaini Kasdan mengawali materi diskusi dengan menyoal Manuskrip Kitab Tib yang merupakan rujukan pengobatan Melayu. Yang menjadi menarik, menurutnya, dulu pengobatan dilakukan masyarakat dengan memanfaatkan bahan alami, yakni bumbu dapur.

“Rempah-rempah memiliki banyak manfaat, terutama untuk menyembuhkan penyakit. Di dalam Kitab Tib dikisahkan bahwa orang Melayu pada masa lalu menggunakannya dan terbukti efektif,” jelas Junaini yang merupakan alumnus Sastra Indonesia UNAIR Angkatan 1990 itu.

Validitas dan khasiat, sambung Junaini, ramuan dan rempah yang termaktub di dalam manuskrip tersebut juga sudah diuji oleh ahli farmasi. Hasilnya memang terbukti secara scientific dan sistematis dalam mengatasi penyakit pada masa lampau.

Junaini juga menegaskan bahwa dosis dan tatacara penggunaan juga telah diatur dengan jelas dalam Kitab Tib. Terlebih, menurutnya, pengobatan Melayu masih relevan dengan kehidupan modern saat ini karena berasal dari sumber alami yang tidak tercemar bahan kimia berbahaya.

Sementara itu, Dr. Trisna Kumala Satya Dewi memaparkan perihal tradisi lisan Nusantara. Dia menyinggung perihal Lakon Sri Mulih. Trisna –sapaan akrabnya– mengatakan bahwa lakon tersebut merupakan bagian dari mitos Dewi Sri yang telah membumi di kalangan masyarakat Jawa.

Menurutnya, hingga saat ini masih ada satu desa di Boyolali, yakni Desa Madu, Kecamatan Mojosongo, yang setiap tahun rutin mementaskan lakon Sri Mulih dalam rangka bersih desa.

“Lakon Sri Mulih menceritakan bahwa negara Dwarawati, Mandura, dan Ngamarta tertimpa bencana Pageblug Mayangkara. Pageblug Mayangkara mengakibatkan banyak orang meninggal, kekeringan panjang, mahal sandang pangan, dan sebagainya. Lakon Sri Mulih relevan dengan kondisi pandemi saat ini. Krisis ekonomi berakibat pada krisis sosial dan mengacaukan ketenteraman,” jelas Trisna.

Menurutnya, dalam lakon tersebut wabah dihadapi dengan lahiriah dan spiritual. Masyarakat bergotong royong untuk mengembalikan keadaan dan senantiasa berdoa. Nilai filosofis yang dapat diambil bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada solusinya, termasuk wabah.

“Lakon Sri Mulih dapat menjadi contoh untuk menghadapi pandemi. Masyarakat harus bersatu, rukun, menjauhi pikiran dan hal negatif, berdoa pada tuhan, menjaga kebersihan lahir batin, patuh dan tidak berbuat sembarangan,” pungkasnya.(*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu