Pengukuran Produktifitas Perawat serta Faktor yang Mempengaruhinya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Gustinerz.com

Analisis pada produktivitas perawat merupakan salah satu faktor beban kerja yang dapat digunakan untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan rumah sakit. Produktivitas kerja bergantung pada berbagai faktor antara lain sikap mental, pendidikan, keterampilan, manajemen, hubungan industrial, pendapatan, gizi dan kesehatan, jaminan sosial, lingkungan kerja dan fasilitas kerja. Faktor penting lainnya adalah suasana kerja, yang merupakan salah satu penyebab stres kerja paling signifikan dan dapat menyebabkan produktivitas yang rendah, yang dampaknya dapat dirasakan pada layanan berkualitas rendah. Kasus ini pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan jumlah pelanggan karena pada umumnya pelanggan akan cenderung pindah ke organisasi lain yang lebih baik dengan kualitas layanan yang lebih tinggi.

Di Indonesia, studi tentang produktivitas perawat dan determinannya masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas perawat dengan berfokus pada rumah sakit umum di Surabaya dan menganalisis pengaruh dari semua faktor yang telah diidentifikasi pada penelitian sebelumnya, yang semuanya diyakini penting dalam mempengaruhi produktivitas perawat.

Data produktivitas perawat dinilai dengan menggunakan kuesioner Behaviorally Anchored Rating Scale (BARS). Skala BARS digunakan untuk menilai kinerja karyawan dan merupakan mekanisme penilaian yang mencoba mengintegrasikan manfaat narasi, insiden kritis, dan peringkat terukur dengan menambatkan skala terukur dengan deskripsi spesifik kinerja mulai dari memuaskan hingga tidak memuaskan. BARS diperkenalkan oleh Smith dan Kendall pada tahun 1963 dan diakui sebagai metode penilaian kinerja yang andal dan valid. BARS dibagi menjadi tujuh domain untuk mengukur kinerja responden dalam memberikan layanan yang efektif, seperti inisiatif dan etos kerja, keterampilan komunikasi, fleksibilitas dan ketahanan, keterampilan pemecahan masalah, tanggung jawab, dan kerja tim.

19 dari 52 perawat dinilai produktif berdasarkan respon terhadap kuesioner BARS, dengan 33 perawat lainnya ditemukan cukup produktif. Hasil penelitian juga menunjukkan hubungan antara sebelas faktor demografi dan gaya hidup dan produktivitas perawat, jenis kelamin (p=0,084) dan masa kerja (p=0,062) dengan tingkat signifikansi p<0,1. Pada kelompok usia produktif, lebih dari separuh adalah laki-laki (57,9%) dan melaporkan durasi pengalaman kerja 1-9 tahun (63,2%). Kedua faktor signifikan, jenis kelamin dan durasi kerja, ditambahkan ke regresi logistik dan BMI serta shift kerja juga dipertahankan dalam model karena banyak penelitian sebelumnya melaporkan bahwa obesitas dan shift kerja merupakan faktor risiko pekerjaan potensial yang mempengaruhi produktivitas.

Hasil regresi logistik untuk menunjukkan bahwa kontribusi signifikansi terhadap produktivitas perawat adalah masa kerja. Perawat dengan pengalaman kerja kurang dari sembilan tahun memiliki kemungkinan 3,78 kali lebih produktif dibandingkan dengan perawat dengan pengalaman kerja lebih dari sembilan tahun. Perawat pria 2,56 kali lebih produktif dibandingkan perawat wanita. BMI dan shift kerja tidak ditemukan hubungan yang signifikan dengan produktivitas perawat.

Laki-laki dan memiliki masa kerja sembilan tahun atau lebih rendah memiliki produktivitas yang lebih tinggi pada perawat di IGD dan ICU rumah sakit umum di Surabaya tempat penelitian dilakukan. Memahami dampak faktor-faktor tersebut terhadap produktivitas staf perawat merupakan masalah penting, yang perlu diteliti lebih lanjut untuk membantu pemangku kepentingan dalam mengembangkan rencana strategis jangka panjang untuk layanan kesehatan. Gender dan lamanya pengalaman kerja merupakan faktor yang harus dipertimbangkan saat mengelola sumber daya manusia yang bekerja di IGD dan ICU. Pengembangan kompetensi dasar keperawatan wajib dilakukan untuk menjaga produktivitas. Akhirnya, perlu dicatat bahwa manajemen rumah sakit umum di Surabaya tempat penelitian ini dilakukan memberikan sanksi kepada perawat yang tidak mempertahankan tingkat produktivitasnya, sehingga hal ini mendorong perawat di IGD dan ICU untuk bekerja secara efektif, dan studi lebih lanjut mungkin juga dapat dilakukan. mempertimbangkan pengaruh sanksi manajemen dan insentif pada produktivitas perawat.

Penulis: Tofan Agung Eka Prasetya

Sumber: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00185868.2020.1798317

Prasetya, T. A. E., Mukhadiroh, L., Farapti, Chesoh, S., & Lim, A. (2020). Factors Contributing to Nurse Productivity in Public Hospitals in Surabaya, Indonesia. Hospital Topics, 98(4), 145–154. https://doi.org/10.1080/00185868.2020.1798317

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu