Parasetamol, Migren, dan Medication Overuse Headache (MOH)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello Sehat

Parasetamol atau acetaminophen merupakan obat yang digunakan secara luas sebagai penurun panas (antipiretik) dan pereda nyeri (analgesik). Parasetamol sebagai analgesik dapat digunakan sebagai salah satu terapi nyeri kepala primer yaitu migren. Penggunaan Parasetamol cukup popular di masyarakat karena mempunyai beberapa keuntungan yaitu indeks terapinya lebar, bioavaibilitas yang bagus setelah pemberian oral, eliminasi cepat, interaksi dengan obat lain dalam jumlah kecil, harga yang murah, bisa dibeli bebas tanpa resep dokter dan efek sampingnya sedikit.

Keuntungan Parasetamol membuat obat ini sering digunakan jangka panjang sebagai analgesik pada terapi migren. Penggunaan jangka panjang Parasetamol sebagai analgesik pada terapi migren dapat menyebabkan efek samping yaitu timbulnya Medication Overuse Headache (MOH). MOH adalah nyeri kepala yang terjadi lebih dari 15 hari setiap bulan, penggunaan secara berlebihan satu atau lebih obat secara rutin selama lebih dari 3 bulan yang digunakan untuk terapi akut atau simtomatik nyeri kepala, dan adanya nyeri kepala yang semakin berkembang dan memburuk selama penggunaan obat secara berlebihan. Mekanisme patofisiologi migren meliputi jalur perifer dan sentral yang melibatkan kompleks trigeminocervical dan thalamus. Parasetamol sebagai analgesik pada migren mempunyai mekanisme hambatan pada jalur perifer dan sentral. Perubahan pada beberapa tahapan jalur nyeri mengakibatkan peningkatan frekuensi nyeri kepala. Pada MOH, terjadi  perubahan eksitabilitas saraf kortikal, peningkatan sensitifitas sistem nosisepsi trigeminal sentral dan perifer, dan kekacauan sistem kontrol endogen sentral.

Beberapa penelitian menggunakan hewan coba untuk mengetahui mekanisme patofisiologi MOH akibat penggunaan jangka panjang pada migren juga telah dilakukan. Penelitian tersebut menyimpulkan adanya tiga mekanisme yang mendasari timbulnya MOH yaitu efek pada korteks serebral, nosisepsi trigeminal, dan sistem modulasi sentral. Terapi migren sendiri terdiri dari terapi preventif dan terapi akut. Terapi preventif bertujuan untuk mengurangi frekuensi serangan dan keparahan migren, sedangkan terapi akut bertujuan untuk menghilangkan gejala ketika terjadi serangan. Terapi akut dikelompokkan menjadi obat non spesifik (analgesik dan Non Steroid Anti Inflamatory Drug-NSAID) dan obat spesifik (derivat ergot dan triptan). Parasetamol merupakan obat non spesifik pada migren dengan dosis yang direkomendasikan sebesar 1000 mg. Untuk mencegah terjadinya MOH, penggunaan analgesik seperti Parasetamol dibatasi 15 hari tiap bulan dan kombinasi analgesik digunakan tidak lebih dari 10 hari tiap bulan. Selain itu, ketika memulai terapi migren perlu dijelaskan kepada pasien mengenai resiko timbulnya MOH. Terapi pada MOH meliputi banyak hal yaitu edukasi, penghentian obat penyebab MOH, terapi transisi (bridge therapy), penetapan regimen terapi migren, follow up, dan tindakan pencegahan.

Penulis: Anung Kustriyani, Hanik Badriyah Hidayati

Detail tulisan ini dapat dilihat di: Kristiyani, A., Hidayati H.B., 2020. Paracetamol, Migraine, And Medication Overuse Headache (MOH)

Link: http://jphv.ub.ac.id/index.php/jphv/article/view/13

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu