Pakar Tradisi Lisan Ungkap Makna Lakon “Sri Mulih” di Bersih Desa Solo Raya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
POTRET Dr. Trisna Kumala Satya Dewi. (Foto: Istimewa)
POTRET Dr. Trisna Kumala Satya Dewi. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Salah satu tradisi besar dalam masyarakat Jawa berkaitan erat dengan agraris yaitu mitos Nyai Roro Kidul dan Dewi Sri. Diketahui, dalam mitos Dewi Sri menyenaraikan perihal keagrarisan.

Menurut pakar tradisi lisan UNAIR, Dr. Trisna Kumala Satya Dewi, M.S, Lakon Dewi Sri yang tua adalah Sri Sadhana dan yang lebih muda adalah Lakon Sri Mulih. Salah satu desa di Boyolali, yakni Desa Madu, Kecamatan Mojosongo  setiap tahunnya rutin mementaskan lakon Sri Mulih dalam rangka bersih desa.

Trisna -sapaan akrabnya- menjelaskan bahwa masyarakat Solo Raya memiliki berbagai istilah dalam menyebut bersih desa, yakni rumah rosul, sedekah bumi, merti desa, atau nyadran dalam masyarakat Jawa Timur.

“Lakon Sri Mulih berlatar belakang cerita Mahabarata. Semua tokoh personal memiliki pandangan yang tidak bisa diabaikan,” jelas ketua minat Filologi UNAIR itu pada Selasa (10/10/2020).

Dikisahkan bahwa negara Dwarawati, Mandura, dan Ngamarta suatu saat tertimpa bencana yakni Pageblug Mayangkara (penyakit menular dan mengacaukan keadaan, Red). Akibatnya, korban meninggal jika terkena penyakit dan membuat ekonomi terkoyak-koyak.

Pageblug Mayangkara mengakibatkan banyak orang meninggal, kekeringan panjang, mahal sandang pangan, dan sebagainya. Lakon Sri Mulih relevan dengan kondisi pandemi saat ini. Krisis ekonomi berakibat pada krisis sosial dan mengacaukan ketenteraman.

Menghadapi wabah dengan lahiriah dan spiritual

Diceritakan, masyarakat Jawa merespon pageblug (wabah menular, Red) dalam lakon Sri Mulih dengan menghadapinya secara lahiriah dan spiritual. “Kresna mengatakan pageblug terjadi karena Dewi Sri dan Sadana meninggalkan masyarakat Jawa. Keadaan dapat pulih jika mereka kembali,” tandasnya.

Dewi Sri merupakan lambang dari dewi padi (pangan) dan Sadana hasil bumi, keduanya merupakan simbol kemakmuran. Dikisahkan bahwa dahulu terdapat seorang pemuda bernama Bambang Praba Kusuma yang bertekad kuat menghentikan pageblug.

“Dia menemukan Dewi Sri di negara Ujung Gribig dan berusaha membawanya kembali ke tanah Jawa,” ujarnya.

Di Desa Madu, Boyolali, tradisi bersih desa diaktualisasikan dengan lakon Sri Mulih. Setelah pagelaran, wayang Dewi Sri dan Sadana diarak masyarakat bersama gunungan dan sajian dengan filosofis persatuan warga. Tradisi Mbok Sri Boyong dilaksanakan dengan menggendong seikat padi dengan selendang baru menuju lumbung.

Pesan dari lakon tersebut, wabah yang terjadi dapat dihadapi dengan persatuan, patuh aturan, gotong royong, bertekad kuat, melestarikan pangan tradisional, berbagi, hingga saling mengasihi.

“Bersih desa sebagai bentuk katarsis jiwa, pembersihan secara fisik dan non-fisik serta melambangkan kerukunan umat,” ujarnya.

Masyarakat Jawa selalu menginginkan keseimbangan, mitos Dewi Sri mengajak masyarakat untuk melaksanakn ritual, karena mitos isinya pesan. Spirit dalam lakon Dewi Sri adalah pelestarian pangan untuk kesejahteraan umat. (*)

Penulis: Muhammad Wildan S

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu