Menjawab Kebutuhan Psikologis Remaja di Masa Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Merebaknya kasus pandemi global COVID-19 telah mengguncang banyak sisi kehidupan, salah satunya pada bidang pendidikan. Sejak tanggal 23 Maret 2020 sudah ada 166 Pemda yang meniadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah dan meminta siswa belajar dari rumah, termasuk Surabaya. Kondisi ini berpengaruh besar pada siswa di seluruh jenjang namun lebih utama pada remaja siswa SMA.

Pengaruh pandemi yang dialami remaja siswa SMA, menyebabkan permasalahan psikologis berupa kecemasan dengan intensitas yang beragam. Kecemasan yang dialami remaja tingkat SMA dapat berakibat pada permasalahan lain seperti kemampuan konsentrasi, performa akademik, dan masalah perilaku.

Oleh karena itu, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga bekerja sama dengan Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) mengadakan psikoedukasi mengatasi kecemasan remaja SLTA menghadapi pandemi COVID-19 melalui kegiatan seminar daring bertajuk “Memahami dan Mengatasi Keluhan Psikologis akibat Pandemi Covid-19”.

Psikoedukasi yang diadakan tanggal 26 September 2020, dihadiri oleh 90 peserta yang berasal dari 17 SMA di Surabaya dan luar Surabaya, dan mendapat respon positif dalam platform YouTube yang telah dilihat oleh 133 orang. Tidak hanya siswa, guru dari Surabaya dan luar Surabaya pun menjadi peserta dalam kegiatan itu.

Diketuai oleh Prof. Dr. Cholichul Hadi, kegiatan itu bertujuan agar remaja mendapatkan informasi yang tepat, sebagian besar pertanyaan mereka terjawab, dan kecemasan yang dimiliki dapat dikurangi. Peserta juga diajak untuk mengatasi kebosanan, kecemasan dan keterasingan melalui media ekspresif, sebuah cara pengelolaan emosi dan perilaku yang sesuai dengan perkembangan masa remaja.

“Metode presentasi secara online oleh pemateri yang sesuai dengan bidang keahliannya, diselingi dengan kegiatan interaktif berupa survey kepada peserta dipilih sebagai cara untuk memperkuat pemahaman, kedekatan dan kebenaran materi dengan situasi peserta dalam kegiatan ini,” ucap Cholichul Hadi.

Dari survey yang telah disebar, diperoleh kenyataan suasana psikologis siswa SMA selama menjalani belajar dari rumah dan pembatasan sosial karena pandemi. Remaja pun banyak menggunakan waktu melalui metode seni dan metode ekspresif lainnya seperti memasak, menggambar, dan menulis. Namun banyak pula yang masih menggunakan waktu secara pasif.

Webinar yang dilakukan Cholichul Hadi bersama Endang R. Surjaningrum, M AppPsych, PhD dari Fakultas Psikologi UNAIR dan Edi Dwi Riyanto, M Hum, PhD dari Fakultas Ilmu Budaya UNAIR, memberikan materi mengenali Pandemi COVID-19, Aspek Psikologis Pandemi pada Remaja, dan Metode Ekspresif pada Remaja.

Yang cukup memprihatinkan juga adalah sebagian peserta mengalami kekhawatiran bahwa mereka tidak tahu bagaimana caranya berbicara dengan orang lain atau teman, karena telah begitu lama tidak memiliki kesempatan berinteraksi secara langsung. Kondisi permasalahan semacam ini menjadi suatu catatan penting bagi Psikolog Endang Surjaningrum karena masa remaja adalah masa untuk membangun identitas diri dan kesempatan interaksi social merupakan satu cara utama dalam proses membentuk identitas diri ini.

“Target jangka panjang dari program ini adalah rendahnya peluang terjadinya permasalahan psikologis yang berlanjut ketika masa pandemi berakhir dan siswa kembali pada proses belajar yang normal. Maka pendekatan ekspresif bisa menjadi salah satu jembatan interaksi dengan dunia luar,” ujar Cholichul Hadi.

Setelah kegiatan webinar ini, para peserta diundang untuk mengirimkan karya ekspresif mereka yang akan diterbitkan menjadi buku. Cukup banyak siswa yang mengirimkan karyanya, mulai puisi, cerita pendek, gambar, dan lukisan. (*)

Penulis: Roosendy Annisa P.

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu