Preferential Trade Agreement (Pta) dan Ekspor Asean+4

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi ekspor. (Sumber: Detikcom)

Pentingnya integrasi ekonomi

Integrasi terus menerus dari Uni Eropa (UE), pembentukan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), dan melambatnya perundingan di tingkat multilateral mengakibatkan negara-negara di dunia menjadikan Preferential Trade Agreement (PTA) sebagai minat baru dalam perdagangan internasional dua dekade terakhir. PTA adalah perjanjian internasional dengan keanggotaan terbatas dan bertujuan untuk mengamankan atau meningkatkan akses pasar masing-masing negara yang berpartisipasi. PTA sendiri merupakan batu loncatan menuju perdagangan bebas di seluruh dunia.

Wilayah perdagangan bebas merupakan blok/kelompok kerja sama ekonomi antarnegara yang terletak pada kawasan tertentu. Wilayah perdagangan bebas ini merupakan salah satu bentuk kerja sama ekonomi yang membuat setiap lini kehidupan semakin berkembang termasuk perdagangan. PTA membuat perdagangan barang atau jasa antarnegara dapat melewati perbatasan negara lain tanpa hambatan tarif atau nontarif. Hambatan tarif berkaitan dengan pungutan yang dikenakan pada barang dari suatu negara seperti bea masuk atau pajak dalam rangka impor (PDRI). Sementara itu, hambatan nontarif umumnya berkaitan dengan tindakan nonperpajakan yang digunakan pemerintah untuk membatasi impor dari negara lain. Misalnya pembatasan atau larangan hingga persyaratan tertentu yang membuat barang impor lebih sukar untuk masuk ke dalam negeri.

Pembentukan PTA ditujukan untuk memungkinkan perkembangan bisnis antarnegara menjadi lebih pesat. Hal ini berarti PTA diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam kesepakatan tersebut.

Manfaat PTA

Manfaat yang dapat diperoleh dari FTA antara lain terjadinya trade creation dan trade diversion. Trade creation adalah terciptanya transaksi dagang antaranggota PTA yang sebelumnya tidak pernah terjadi, akibat adanya insentif yang berasal dari pembentukan FTA. Sementara itu, trade diversion merupakan peralihan impor dari satu negara ke negara lain. Trade diversion umumnya terjadi karena peralihan tersebut dianggap lebih efisien atau menguntungkan dari sudut pandang ekonomi. Misalnya penurunan tarif membuat Indonesia yang sebelumnya selalu mengimpor gula dari Brazil beralih menjadi mengimpor gula dari Thailand. Peralihan tersebut terjadi karena biaya impor gula dari Thailand dianggap lebih efisien dan membuat Indonesia berhenti mengimpor gula dari China. Selain itu, adanya PTA dapat membuat eksportir pada suatu negara memperoleh tarif preferensi. Tarif preferensi ini membuat eksportir maupun pengusaha dapat menekan biaya produksi sehingga dapat meningkatkan daya saing industri.

Artikel ini mencoba menganalisis pengaruh PTA terhadap ekspor negara anggota ASEAN (Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Myanmar) dan empat negara mitra dialog ASEAN yaitu Republik Rakyat Tiongkok (RRT/ China), Korea Selatan, Jepang, dan India. Pengaruh PTA terhadap Ekspor sangat penting untuk menangkap apakah PTA menciptakan perdagangan (trade creation) atau membagi perdagangan (trade diversion).

Metode dan Hasil

Penelitian ini menggunakan pendekatan Poisson Pseudo-Maximum Likelihood (PPML) untuk memperhitungkan arus perdagangan karena metode tersebut memungkinkan estimasi terhadap arus perdagangan dengan nilai nol Selain estimator PPML yang secara alami mencakup pengamatan yang nilai perdagangannya nol, estimator tersebut juga konsisten dengan adanya efek tetap yang dapat dimasukkan sebagai variabel dummy seperti pada OLS dan interpretasi koefisien dari model PPML sangat mudah dan mengikuti pola yang sama persis seperti di bawah OLS.

Pendapatan nasional negara tujuan ekspor menggambarkan ukuran pasar dari negara tujuan dan menggambarkan sisi permintaan. Semakin tinggi pendpatan nasional negara tujuan ekspor maka kemampuan negara tersebut untuk membeli atau mengimpor barang akan semakin tinggi pula. PTA menunjukkan bahwa GDP negara tujuan ekspor berpengaruh positif. Di sisi lain, pendapatan nasional negara eksportir untuk menggambarkan sisi penawaran.

Ketika pendapatan negara eksportir meningkat maka kemampuan negara tersebut untuk memproduksi barang yang akan diekspor ikut meningkat pula.  Adanya PTA menunjukkan bahwa GDP negara tujuan ekspor juga berpengaruh positif. Jarak geografis (distance) antara negara eksportir dan negara tujuan ekspor merupakan variabel penting perdagangan internasional dalam kaitan dengan biaya transportasi. Semkain jauh jarak maka semakin rendah ekspor nya.

Dalam perdagangan internasional, hal yang menarik untuk dilihat juga apakah negara tujuan ekspor dan negara eksportir ada ikatan sejarah colonial. Negara yang berasal dari jajahan negara yang sama cenderung memiliki intensitas perdagngan yang lebih tinggi dibandingakan dengan yang tidak. Analaog dengan hal tersebut, bahasa yang sama memiliki kecenderungan kemudahan dalam berkomunikasi dan pada akhirnya perdagangan dua negara meningkat. Sementara itu, batas wilayah ternyata tidak berdampak terlalu besar terhadap perdagangan di antara negara-negara yang bersepakat membentuk PTA dalam kerangka ASEAN+4.

Pada akhirnya, PTA ASEAN+4 membuktikan bahwa perjanjian perdagangan bebas dapat mendorong perdagangan bilateral lebih banyak diantara negara anggota dan memungkinkan terjadinya penciptaan perdagangan (trade creation). Variabel Preferential Trade Agreement (PTA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor negara anggota ASEAN dan empat mitra dialog ASEAN. Hal tersebut terjadi karena dibawah kesepakatan PTA dapat mendorong perdagangan bilateral lebih banyak di antara negara-negara anggota dan meningkatkan volume perdagangan di antara negara-negara anggota. Setiap negara perlu mengadakan kesepakatan di bawah PTA untuk mendorong perdagangan dan meningkatkan akses pasar agar tidak terjadi kekalahan persaingan dengan negara lain yang lebih dahulu melakukan PTA.

Penulis: Rossanto Dwi handoyo, Wisnu Wibowo, Angga Erlando, Retno Putri Kumalasari Rossanto Dwi Handoyo, Wisnu Wibowo, Angga Erlando, and Retno Putri Nurkumalasari.

IMPACT OF PREFERENTIAL TRADE AGREEMENT (PTA) ON THE EXPORT OF ASEAN+4. http://www.sysrevpharm.org//?mno=134764 [Access: September 14, 2020].

doi:10.31838/srp.2020.12.32

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu