Peran Biofilm pada Bakteri Staphylococcus epidermidis Penyebab Infeksi Oportunistik di Rumah Sakit

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh inilah.com

Staphylococcus epidermidis adalah bakteri flora normal di permukaan kulit tubuh manusia dan juga banyak ditemukan di sekitar kehidupan manusia. Dalam keradaan normal, bakteri tersebut adalah sahabat kita semua, manusia. Keberadaan bakteri flora dan system pertahanan tubuh manusia berada dalam keadaan keseimbangan, sehingga tdaik menyebabkan penyakit pada manusia atau infeksi pada manusia.

Pertahanan tubuh kita ada beberapa tingkat, seperti pertahanan kulit kita yang kuat, enzim-enzim di permukaan mukosa, dan jika masuk ke dalam lagi adalah sistem pertahanan seluler dan kekebalan. Adanya jejas pada permukaan kulit, akan berakibat adanya lokus minor yang berakibat bakteri bisa masuk, namun seringkali bisa dilawan dengan  pertahanan seluler dan pertahanan lain, sehingga tidak berakibat timbulnya sakit infeksi.

Namun bagi pasien yang sedang dirawat di rumah sakit, khususnya pasien dengan penyakit berat, seringkali sistem pertahanan tubuhnya jatus di bawah ukuran rata-rata. Disamping itu, pasien tersebut sering menggunakan perangkat medis yang masuk ke tubuh, seperti jarum infus, ventilator, atau bahan inplant. Jarum infus yang ditancapkan melalui kulit, sejatinya adalah sangat aseptic, namun dalam perjalanan, bakteri flora yang ada di permukaan kulit secara bertahap akan berkembang ke semua area di permukaan kulit, termasuk di tempat jarum infus. Di sinilah peran kemampuan bakteri untuk melekat dan berkembang biak di permukaan jarung infus melalui mediator yang sering dikenal dengan biofilm. Bio-film adalah matriks polisakharida dan berbagai zat lainnya, berusaha dihasilkan oleh bakteri, agar bakteri mampu bertahan hidup dan tumbuh di setiap permukaan (surface). Pertumbuhan dimulai dari jarung infus yang berada di permukaan kulit, dan secara bertahap tumbuh terus masuk ke dalam menembus lapisan luar kult di sekitar jarung infus, yang berakibat infeksi.

Pada penelitian ini dibahas seberapa peran gen pengkode biofilm di dalam dampak untuk agar bakteri bisa menghasilkan biofilm. Biofilm dibentuk melalui produksi ‘polysacharide adhesin (PSA) maupun ‘polysacharide intracellular adhesin’ (PIA). Dikenal ada dua gen utama pengkode biofilm, icaA dan icaD. Apakah produksi biofilm hanya ditentukan oleh keradaan gen tersebut ataukan ada faktor lain.

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 42,9% bakteri yang tidak memiliki gen icaA, masih bisa memproduksi biofilm, demikian juga sebanyak 37,5% bakteri yang tidak memiliki gen icaD, mampu menghasilkan biofilm. Hal ini mencerminkan bahwa selain keberadaan gen yang secara bermakda merupakan factor pemicu produksi biofilm (p=0.047 untuk gen icaA dan 0,03 untuk gen icaD), namun masih banyak factor lain, khususnya nutrien yang ada di sekitar lingkungan bakteri dan keadaah lingkungan yang lain, yang masih perlu diungkap lebih jauh.

Bagi para klinisi yang merawat pasien, hal ini perlu menjadi perhatian bahwa, resiko infeksi oportunistik akibat flora tubuh ini perlu menjadi perhatian khusus untuk mencegahnya. Dua hal yang saat ini menjadi protokol rutin di rumah sakit pada perawatan pasien yang menggunakan infus adalah tindakan aseptic pada saat pemasangan dan menutup lokasi tempat masuknya jarung infus menggunakan prnutup transparat steril, sehingga mampu mencegah masuknya bakteri di sekitar lokasi untuk mendekati port of entry yang ada di sekitar jarum infus. Tidak cukup hanya memproteksi jalur masuk, juga menjaga sistem pertahanan tubuh secara holistik, khususnya pera nutrisi, menjadi sangat penting.

Permasalahan lain adalah sulitnya mengatasi bakteri pembentuk biofilm yang berada di dalam tubuh kita. Hal ini karena disamping bakteri bisa berada di dalam keadaan dormant yakni tidak berbiak, namun tetap hidup atau berbiak secara sangat lambat, juga bakteri yang berada di dalam lapisan biofilm ini sulit ditembus oleh bahan antibiotika akibat pertahanan biofilm. Kendala ini sangat sering menjadi oersoalan di klinik, sehingga jika terjadi pada bahan inplant, tidak jarang Dokter mengambil langkah pelepasan bahan inplant tersebut.

Hal ini tidak hanya terjadi pada Staphylococcus epidermidis, namun juga bakteri lain yang sering menyerang infeksi saluran kemih melalui pembentukan biofilm di kateter urin, misalnya Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae dan Pseudomonas aeruginosa.

Penulis: Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., SpMK(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://www.researchgate.net/publication/339455342_The_Correlation_between_icaA_and_icaD_Genes_with_Biofilm_Formation_Staphylococcus_epidermidis_In_Vitro

(THE CORRELATION BETWEEN icaA AND icaD GENES WITH BIOFILM FORMATION

Staphylococcus epidermidis IN VITRO)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu