MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus) di Indonesia: Permasalahan dan Solusi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Microscopemaster.com

MRSA adalah varian dari bakteri Staphylococcus aureus yang memiliki kharakter ganas dan resisten terhadap banyak antibiotika, dan sering menyebabkan infeksi nosocomial pada pasien rawat inap. Eradikasi MRSA merupakan salah satu solusi dan  perlu menjadi program utama di Program Pengendalian Infeksi Rumah Sakit (PPIRS).

Tulisan ini untuk mengulas strategi mengurangi kolonisasi MRSA pada pasien di rumah sakit, agar memberikan rasa aman bagi pasien rawat inap.

Infeksi nosocomial, diketahui minimal ada empat golongan, yakni HAP (Hospital Associated Pneumonia), Infeksi Saluran Kemih (ISK), Infeksi aliran darah primer, dan infeksi daerah operasi (SSI=Surgical site infection). MRSA paling sering menyerang Infeksi daerah operasi (IDO), yakni infeksi pada bekas luka irisan pada tindakan bedah. IDO dikenal ada tiga jenis, yakni: superfisial jika luka berada di lokasi kulit, dermis sampai di atas fascia, profunda jika mengikutkan fascia dan jaringan otot dan organ/space jika menyerang rongga tubuh dalam, seperti rongga peritoneum, ginjal, hati, usus dan organ dalam yang lain (CDC, HAIs for Surveillance, 2017).

Faktor resiko infeksi oleh MRSA adalah kolonisasi bakteri tersebut di kulit atau rongga hidung/tenggorok pasien itu sendiri, maupun petugas kesehatan. Kolonisasi juga diketahui bisa ditemukan di lipatan kulit, selakangan, ketiak, atau bagian permukaan tubuh yang lain. Usaha untuk menurunkan kolonisasi MRSA di permukaan kulit merupakan salah satu usaha untuk mengurangi prevalensi infeksi nosocomial akibat MRSA. Untuk menurunkan kolonisasi MRSA, telah dikenal secara luas tentang metode ‘Search & Destroy’ yang dikembangkan oleh peneliti Belanda (Bocher et al, Clin Microbiol Infect 2010; 16: 1427-34).

Di dalam konsep tersebut, jika di sebuah rumah sakit ditemui seseorang yang diketahui menderita infeksi yang disebabkan oleh MRSA melalui diagnosis Mikrobiologi Klinik, maka pasien di sekitarnya dan petugas kesehatan yang terlibat di dalam perawatan pasien tersebut, dilakukan pengambilan sampel swab hidung/tenggorok, untuk diperiksa di laboratorium mikrobiologi apakah ada kolonisasi MRSA atau tidak. Jika seorang pasien atau petugas kesehatan diketahui mengandung kolonisasi MRSA maka dilakukan eradikasi. Eradikasi dilakukan dengan melakukan. Pemberian salep mupirosin yang dioleskan di rongga hidung, pagi dan sore, selama enam hari, mandi dengan sabun antiseptik khlorheksidin 2% selama tujuh hari, serta minum antibiotika selama satu minggu. Antibiotika yang dipergunakan di Belanda adalah Rifampisin 300 mg sekali sehari dan Kotrimoksasol dua kali per hari, diberikan selama tujuh hari. Disamping itu, telah diketahui bahwa pen ingkatan MRSA juga dipengaruhi oleh tingkat hygiene sanitasi yang dicerminkan dengan kebiasaan cuci tangan. Makin rendah kepatuhan terhadap cuci tangan, akan semakin meningkatkan penyebaran MRSA. Pada studi di RS Saiful Anwar Malang, ditemukan bahwa tingkat kepatuhan cuci tangan pada petugas kesehatan di rumah sakit tersebut adalah sebesar 15%, dan setelah dilakukan intervensi berkaitan pentingnya kepatuhan cuci tangan, meningkat menjadi 65%.

Setelah proses intervensi selama dua bulan, termasuk program isolasi pasien yang terinfeksi MRSA, ternyata resiko bagi pasien di rumah sakit tersebut terhadap kolonisasi MRSA yang didapat selama rawat inap, menurun dari 9/1000 hari-pasien rawat inap, menjadi 3/1000 haris-pasioen rawat inap. Hal seperti ini sudah sangat rutin dilakukan di Belanda, sehingga angka prevalensi MRSA di Belanda mencapai di bawah 1%. Angka prevalensi resiko pasien rawat inap di RSUD Dr. Soetomo Surabaya terhadap kolonisasi MRSA adalah sebesar 8,1%.

Hasil survailans nasional yang mengikutkan delapan rumah sakit rujukan utama, menunjukkan bahwa permasalahan MRSA ini sangat tinggi. Prevalen infeksi akibat MRSA menunjukkan rentang antara 25%-65% dengan rata-rata nasional adalah 38% (KPRA, Kementerian Kesehatan R.I., 2017). Pada rumah sakit dengan angka prevalensi MRSA pada pasien sebesar 65% menunjukkan tingginya angka resiko dan infeksi MRSA di rumah sakit tersebut. Hal ini selain menunjukkan tingkat prevalensi sudah mencapai tingkat berbahaya, juga sebagai indikator nasional PPIRS (Program Pengendalian Infeksi Rumah Sakit) menunjukkan angka yang kurang baik. Untuk bisa mengendalikan hal tersebut, prosedur search & destroy yang dilakukan di belanda, dan juga yang dicoba di RS Saiful Anwar Malang, akan mampu meredam berkembangnya angka kejadian infeksi akibat MRSA.

Penulis: Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS, SpMK(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2590088919300289

(Reducing transmission of methicillin-resistant Staphylococcus aureus in a surgical ward of a resource-limited hospital in Indonesia: an intervention study)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu