Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA): Peran Biofilm pada Permasalah Klinis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Ethicaldigest.com

Methicillin resistant Staphylococcus aureus atau sangat dikenal dengan nama MRSA adalah bakteri kelompok Staphylococcus aureus namun sifatnya sangat berbeda walaupun secara bakteriologi sama. Persamaannnya adalah bakteri ini adalah jenis yang patogen, atau sangat mudah megakibatkan penyakit infeksi pada masnusia. Hal ini tidak terlepas dari dimilikinya faktor virulen, khususnya memiliki kandungan kapsul yang disebut protein A. Kapsul protein A tersebut, tidak hanya berfungsi sebagai bungkus, namun memiliki kharakter khusus yakni mengganggu sistem opsonisasi. Sistem opsonisasi adalah proses fagositosis bakteri oleh sel makrofag. Proses ini sangat menguntungkan bagi MRSA namun sangat merugikan bagi manusia akibat mudahnya terinfeksi oleh MRSA. Hal lain adalah juga kemampuan MRSA membentuk biofilm, salah satu pintu masuk penyebab infeksi pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

Penelitian MRSA ini memfokuskan pada faktor genetik, khususnya peran gen icaA dna icaD pada pembentukan biofilm pada MRSA. Sebanyak 47 MRSA dikaji peran gen biofilm tersebut, terdiri 28 MRSA kolonisasi pada pasien yang dirawat di rumah sakit, dan 19 MRSA yang diisolasi dari kasus infeksi klinis. Hal yang sangat menarik, bahwa hampir semua MRSA mengandung gen icaA/D, baik isolat klinik maupun kolonisasi, namun kemampuan produksi biofilm, sangat tinggi pada MRSA kolonisasi (100%) disbanding isolat klinik (57.9%). Hal ini menunjukkan bahwa MRSA isolat klinik memang bersifat patogen untuk bisa menyebabkan infeksi pada manusia.

MRSA ini juga sangat menjadi perhatian besar bagi klinisi dan para mikrobiologis, bahkan di tingkat global sangat mewaspadai MRSA ini, karena selain patogen, juga bersifat resisten terhadap semua antibiotika golongan beta-lactam, dari beta-laktam yang paling sederhana seperti golongan penisilin, sampai beta-laktam yang sangat kuat, seperti karbapenem. Sampai, MRSA ini oleh WHO dijadikan indikator khusus untuk pemantauan infeksi di rumah sakit, khususnya bagi tim Pengendalian Infeksi Rumah Sakit.

MRSA ini selain bersitaf patogen, namun juga ternyata sering berada dalam kondisi kolonisasi, yakni menempel di mukosa hidung dan di kulit, dan bahkan di lingkungan sekitar kita. Pada penelitian tahun 2016 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, ternyata sebanyak 8% pasien, memiliki kolonisasi MRSA di mukosa hidung atau tenggoroknya. Keadaan ini sebenarnya sangat mengkhawatirkan, dan di dunia internasional, pasien yang mengalami kolonisasi dengan MRSA, harus dilakukan eradikasi. Namun untuk kebijakan di Indonesia masih memiliki banyak pertimbangan berkaitan dengan biaya yang makin mahal untuk screening dan eradikasi tersebut. Metoide eradikasi biasanya dilakukan dengan mandi menggunakan sabun khlorheksidin selama satu minggu, dan diberikan antibiotik organ selama seminggu, serta dioleskan mupirosin di rungga hidung selama satu minggu.

Peran gen icaA/D ini baru kali ini dilakukan di Indonesia, dalam kaitan isolat klinik dan kolonisasi, sehingga baru diketahui bahwa memang galur yang iusolat klinik ini memang ada sedikit perbedaan dengan galur kolonisasi. Galur MRSA kolonisasi yang sudah lama diketahui sebagai faktor resiko terjadinya infeksi MRSA, kelihatannya membutuhkan faktor lain untuk bisa mengakibatkan infeksi, salah satunya adalah faktor biofilm.

Tantangan terbesar bagi rumah sakit yang tidak memiliki sarana Laboratorium Mikrobiologi Klinik adalah menghadapi MRSA tersebut. Karena itu perlu dikembangkan cara diagnosis cepat untuk identifikasi MRSA di daerah dengan kapasitas sarana prasarana dan sumber daya terbatas, misalnya merujuk pada CLSI (Clinical Laboratory Standard Instutute, CDC, Atlanta), tidak harus menggunakan cara molekuler deteksi gen mecA, namun bisa cara sederhana dengan melakukan uji kepekaan terhadap cakram sefoksitin. Jika bakteri yang dicurigai Staphylococcus aureus, dan pada uji kepekaan hasilnya resisten terhadap cakram sefoksitin, maka bisa digolongkan sebsebagaiauia MRSA, yang resisten terhadap semua antibiotika golongan beta-laktam. Memang saat ini sedang dikaji salah satu anggota beta lactam yang bsia mengatasi MRSA, namun sejauh ini belum dipakai dalam pelayanan sehari-hari di rumah sakit.

Kini telah juga berkembang permasalahan yang sama pada anggota Staphylococcus lain, misalnya Meticillin resistant Staphylococcus epidermidis (MRSE). Meskipun isu di klinik tidak sebesar MRSA, namun perlu perhatian khusus bagi pasien yang dirawat di rumah sakit yang mendapat infeksi MRSE, karena bisa menghadapi permasalahan yang sama berkaitan keterbatasan antibiotika pilihan. Saat ini terapi pilihan untuk MRSA adalah vankomisin, disamping masih ada beberapa pilihan antibiotika non-beta lactam.

Penulis: Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS, SpMK(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/10709

(icaA/D GENES AND BIOFILM FORMATION OF METHICILLIN-RESISTANT Staphylococcus aureus IN DR. SOETOMO HOSPITAL, SURABAYA)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu