“Nyeri” Suatu Gejala Bermuka Seribu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Halodoc

Nyeri adalah suatu keadaan yang pernah dialami semua manusia sepanjang hidupnya. Sesungguhnya rasa nyeri adalah mekanisme perlindungan tubuh terhadap bahaya yang mengancam sehingga dengan adanya nyeri, individu tersebut seakan mendengar alarm untuk segera melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Fight or flight (menghadapi, mengatasi, atau lari melepaskan) adalah cara tubuh untuk mengatasi rasa nyeri terutama nyeri akut. Nyeri kronik tidak serupa karena satu-satunya reaksi tubuh terhadap nyeri kronik adalah upaya untuk beradapatasi untuk mengurangi rasa nyeri yang akan kambuh lagi selama sumber penyebab rasa nyeri tersebut masih ada. Sumber rasa nyeri kronik sangat banyak dan kebanyakan tidak pasti, multifaktor, serta dapat memberat bersama waktu bila tidak ditangani secara komprehensif. 

Penanganan nyeri kronik terutama yang berulang dan tidak spesifik, memerlukan kesabaran dan ketelitian. Nyeri kronik merupakan salah satu penyebab kecanduan obat dan pemutusan hubungan kerja. Kebanyakan penyebab rasa nyeri kronik adalah nyeri sendi, nyeri saraf, nyeri akibat penyakit imunologik, nyeri akibat keganasan, dan nyeri psikosomatik. Dengan menggali informasi detail sebanyak-banyaknya dari penderita yang kadang tidak menyadari pentingnya informasi tertentu. Langkah berikutnya adalah memeriksa fisik dengan teliti terutama seputaran nyeri yang dikeluhkan. Apakah nyeri terlokalisir, menyebar, atau menjalar. Apakah terdapat reaksi lokal? Nyeri tekan, nyeri raba, atau nyeri saat tekanan dilepas? Apakah nyeri timbul pada posisi atau gerakan tertentu yang berkaitan dengan otot, sendi, tulang, saraf, atau tidak sama sekali. 

Beberapa nyeri mempunyai pola tertentu yang biasa ditemukan pada kasus tertentu seperti nyeri pinggang bawah, nyeri sendi, nyeri saluran cerna, dan nyeri akibat keradangan saraf tertentu. Pola nyeri tertentu tersebut membuat nyeri akibat lain yang mirip akan menimbulkan impresi bahwa nyeri tersebut disebabkan suatu penyebab yang sering dan tidak meneliti lebih lanjut kemungkinan adanya penyebab lain. Beberapa dokter yang teliti akan melanjutkan pemeriksaan tambahan lain seperti pemeriksaan radiologis (X-ray, MRI), pemeriksaan fungsi dan konduksi saraf otot (EMG NCV) guna memastikan penyebab nyeri sesungguhnya. Tetapi tidak semua pemeriksaan canggih dapat mengungkap satu penyebab pasti rasa nyeri tersebut. Bahkan kondisi yang tampak secara radiologis terdapat perubahan, tidak selalu berarti perubahan tersebut adalah satu satunya penyebab. Kait mengait antara organ yang berdekatan dapat mengaburkan titik pasti penyebab nyeri. Dokter bedah yang teliti akan memeriksa secara komprehensif sebelum melakukan tindakan definitif.

Satu contoh kasus nyeri tungkai yang persisten dan memberat sejak 2 tahun yang lalu. Nyeri terasa menjalar ke tungkai bawah, terasa tajam sesaat terutama saat disentuh. TIdak terdapat riwayat trauma yang mendahului. Pada pemeriksaan fisik yang teliti, teraba benjolan kecil dalam di bawah kulit sehingga dilakukan pemeriksaan USG yang dilanjutkan pemeriksaan Doppler karena diduga merupakan lesi pembuluh darah. Dugaan sementara adalah suatu tumor jinak pembuluh darah (haemangioma). Walaupun dugaan ini sudah mencukupi untuk dilakukan tindakan operasi mengangkat tumor tersebut, keluhan nyeri tersebut belum dapat dijelaskan karena tidak biasa suatu tumor jinak pembuluh darah di lokasi tersebut dapat memberikan gejala nyeri seperti yang dikeluhkan.

Saat dilakukan operasi, nodul tumor tampak kebiruan, berbatas tegas dan menempel pada dinding pembuluh darah. Eksisi dilakukan untuk mengangkat tumor seluruhnya dengan bersih guna menghindari kemungkinan rekuren (kambuh). Segera setelah operasi, pasien merasa seluruh keluhan nyeri nya hilang sama sekali. Pemeriksaan jaringan histopatologi terhadap bahan operasi menunjukkan gambaran suatu tumor jinak dari perivascular (bagian dari dinding pembuluh darah) yang berfungsi sebagai sensor raba dan suhu. Diagnosa dari pasien adalah suatu GLOMUS TUMOR, tumor jinak dari badan glomus yang biasanya ditemukan di bawah kuku atau di daerah-daerah yang kaya akan badan glomus seperti jari, telapak tangan, pergelangan tangan, dan sekitar lengan. Jarang sekali dilaporkan glomus tumor pada tungkai bawah dan berada cukup dalam sehingga tidak terlihat dari permukaan kulit yang biasanya tampak kebiru-biruan. Kasus ini menjadi unik dan perlu dilaporkan dalam jurnal ilmiah karena memberi pembelajaran bahwa nyeri tungkai bawah yang menjalar dan sangat menyerupai keluhan klasik nyeri pinggang bawah akibat sendi tulang vertebra, ternyata disebabkan suatu tumor jinak berukuran 0,5 cm di bawah kulit tungkai bawah.

Bagaimana tumor ini dapat mengakibatkan keluhan nyeri serupa? Glomus tumor mengakibatkan hipersensitif terhadap sentuhan dan perubahan suhu. Selama tidak disentuh atau tidak ada perubahan suhu sebenarnya tidak akan timbul rasa nyeri. Tetapi karena lokasi tersebut adalah lokasi yang setiap saat tersentuh kain celana, maka penderita merasakan nyeri menjalar setiap mengenakan celana dan setiap celananya menggesek benjolan tersebut, mirip dengan perasaan nyeri yang menjalar. Kasus ini mengajarkan bahwa nyeri dapat disebabkan multifaktor, bahkan tumor yang tidak biasa dan tidak terpikirkan karena tidak berada pada posisi yang lumrah. Tanpa pemeriksaan yang detail sejak mengambil keterangan dan pemeriksaan klinis keluhan nyeri kronik tidak mudah ditangani.

Penulis: Dr. Komang Agung Irianto, dr., Sp.OT(K)

Berikut link terkait tulisan di atas: Glomus Tumor-induced Lower Extremity Pain: A Case Report_ Laskar Pradnyan Kloping, Lukas Widhiyanto, Komang Agung Irianto, Oen Sindrawati, Yudhistira Pradnyan Kloping_International Journal of Surgery Case Reports. 2020;75, p.352-356

Link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2210261220307665

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu