Hubungan Pola Komunikasi, Daya Koping, dan Stres pada Orang Tua dengan Luaran Anak Penderita Kanker

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Klikdokter.com

Kanker adalah penyakit yang tidak asing bagi masyarakat yang merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), kanker menyebabkan 7,6 juta kematian pada tahun 2008 diperkirakan meningkat hingga 11 juta pada tahun 2030. Lebih dari 70% kematian akibat kanker terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, seperti Indonesia. Penyakit kanker dapat terjadi pada anak, dewasa maupun orang tua. Definisi kanker pada anak menurut National Care Institute (NCI) secara umum yaitu kanker yang terjadi mulai usia 0 hari sampai 14 tahun. Ancaman kanker pada anak di seluruh dunia sangat besar, hal ini dikarenakan terjadi peningkatan jumlah penderita baru penyakit kanker. Survei epidemiologi menunjukan terdapat sekitar 1.688.780 kasus baru kanker dalam setahun di seluruh dunia dan sekitar 600.920 dari jumlah tersebut meninggal. Di Amerika Serikat, kanker masih merupakan penyebab utama kematian kedua pada anak-anak usia di bawah 15 tahun (setelah kecelakaan). Berdasarkan hasil riset kesehatan di Amerika Serikat menunjukan bahwa terdapat 10.590 kasus baru kanker pada anak usia 0-14 tahun dan 1180 diantaranya meninggal karena penyakit tersebut. Survei epidemiologi NCI mencatat ada 16 dari setiap 100.000 anak yang terdiagnosis kanker setiap tahunnya pada kurun waktu 2011-2015. Adapun jenis kanker yang paling umum didiagnosis pada anak-anak usia 0 hingga 14 tahun adalah leukemia, kanker otak serta sistem saraf pusat, dan limfoma.

Permasalahan kanker pada anak di Indonesia saat ini menjadi persoalan cukup besar. Prevalensi kanker pada anak usia 0-14 tahun di Indonesia mencapai mencapai 16.291 kasus. Survei epidemiologi mencatat ada 131 dari setiap 100.000 anak terancam jiwanya karena penyakit kanker. Jenis kanker yang paling banyak diderita oleh anak Indonesia adalah leukimia dan retinoblastoma (Riskesdas, 2013). Tatalaksana dan pengobatan kanker pada anak saat ini mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi peningkatan angka harapan hidup pada penderita kanker anak. Hasil survei epidemiologi menunjukan bahwa 80% anak penderita kanker dapat bertahan hidup dalam waktu 5 tahun setelah terdiagnosis kanker. Anak-anak yang menderita kanker bisa mengalami cacat fisik, gangguan mental, dan gangguan fungsi sosial sebagai akibat dari keganasan kanker dan efek samping pengobatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat 60% anak dengan penderita kanker terjadi sekuel gangguan fisik serta psikologis. Depresi dan kecemasan merupakan bentuk gangguan mental terbanyak pada anak penderita kanker. Penyakit kronis dapat meningkatkan prevalensi depresi sebesar 10-20% dibandingkan populasi anak sehat. Kondisi ini merupakan akibat dari kerentanan anak terhadap depresi, karakteristik penyakit, dan stressor lingkungan atau peristiwa hidup bersifat negatif yang terjadi bersamaan dengan penyakit kronis yang diderita. Kanker pada anak dapat menimbulkan stres dan kecemasan pada orang tua/pengasuh yang merawat anak tersebut. Stres didefinisikan sebagai perasaan tidak menyenangkan pada psikis (kognitif, perilaku, emosi), sosial, dan atau kondisi spiritual seseorang yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan terapi kanker. Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa gejala stres yang sering terjadi pada orang tua anak penderita kanker meliputi kecemasan, sulit berkonsentrasi, perasaan bersalah, pesimis, sedih, gangguan paska trauma dan gangguan tidur. Faktor yang mempengaruhi tingkat stress pada orang tua anak dengan kanker secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu, faktor tingkat keparahan penyakit beserta pengobatan, faktor individu, dan faktor keluarga.

Faktor derajat penyakit dan pengobatan terbukti mempengaruhi stres pada orang tua anak penderita kanker. Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa status pengobatan aktif pada penderita kanker anak berkaitan dengan peningkatan stres, depresi, kecemasan dan gejala stres paska trauma. Faktor individu yang berpengaruh terhadap stres pada orang tua anak dengan kanker diantaranya kemampuan koping pada orang tua. Studi menunjukan bahwa semakin tinggi kemampuan koping pada orang tua, maka semakin rendah tingkat stres yang dialaminya. Selain itu, faktor keluarga juga terbukti berhubungan dengan tingkat stres orang tua. Studi menunjukan bahwa fungsi keluarga yang buruk (kohesivitas yang rendah, dukungan keluarga, dan konflik dalam keluarga) berkaitan dengan stress dan stress traumatik. Gejala depresi yang lebih tinggi dapat menyebabkan komunikasi lebih negatif. Oleh karena itu, studi sebelumnya menyebutkan bahwa refleksi ibu membentuk komunikasi dan topik pembahasan dalam pembicaraan yang dilakukan dengan anak.

Studi menunjukkan bahwa kemampuan koping dan tingkat depresi yang lebih rendah pada orang tua memiliki korelasi dengan komunikasi positif. Semakin tinggi kemampuan kontrol koping pada orang tua, maka semakin rendah tingkat stress yang dialaminya. Dengan mengetahui pola komunikasi orang tua/pengasuh dan faktor yang mempengaruhinya, maka identifikasi komunikasi yang dapat digunakan sebagai target terapi dapat dilakukan untuk memperbaiki luaran pada anak. Semakin besar dukungan keluarga dan semakin kecil konflik pada keluarga, maka luaran anak semakin baik. Beberapa domain stres yang dapat terjadi pada orang tua/pengasuh anak dengan kanker, antara lain kondisi fungsional, seperti biaya, pengeluaran yang diperlukan, pekerjaan, waktu yang dikeluarkan, dan energi yang dikeluarkan saat merawat anak dengan kanker. Salah satu permasalahan yang dapat muncul pada anak dengan kanker adalah menyampaikan pada anak tentang diagnosis, terapi, dan prognosis kanker tersebut. Adanya kepercayaan spiritual positif dan negatif dapat mempengaruhi keberhasilan manajemen anak dengan kanker. Kami melakukan penelitian tentang hubungan pola komunikasi, daya koping, dan stres pada orang tua dengan luaran anak penderita kanker, dilakukan pada anak usia 10-17 tahun yang menderita kanker yang berobat di SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo. Anak yang terdiagnosis kanker adalah penderita baru atau kambuh setidaknya 1 bulan saat mengikuti penelitian ini, tidak ada gangguan sensoris atau defisit neurologis, dan memiliki orang tua/pengasuh yang merawat anak dengan kanker setidaknya selama 6 bulan. Didapatkan hasil tidak ada hubungan tingkat stres pengasuh dengan kualitas hidup anak ALL. Ada hubungan negatif antara tingkat kecemasan dan depresi pada pengasuh dengan kualitas hidup anak dan hubungan negatif antara tingkat stres anak dengan kualitas hidup anak. Kesimpulannya adalah kondisi psikologis pengasuh berpengaruh terhadap kualitas hidup anak. Semakin tinggi tingkat kecemasan dan depresi pada pengasuh, semakin rendah kualitas hidup anak.

Penulis: Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: http://journal.waocp.org/article_89272.html

Disarikan dari artikel dengan judul: “Impact of Caregiver’s Psychological Aspects towards Quality of Life of Children with Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL)” yang diterbitkan bulan September 2020 di Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, Volume 21, No 9, Halaman: 2683-2688.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu