Olahraga Cegah Pikun Akibat Proses Penuaan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh sains.kompas.com

Penuaan merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan penurunan fertilitas menyebabkan populasi lanjut usia terus meningkat. World Health Organization (WHO) melaporkan terdapat 900.9 juta populasi usia lanjut (≥ 65 tahun) pada tahun 2015 dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 2092 juta di tahun 2050. Populasi lanjut usia yang meningkat akan diikuti oleh peningkatan kejadian pikun akibat proses penuaan. Penuaan merupakan faktor resiko utama terjadinya penyakit degenerasi pada otak, termasuk pikun yang sering dikenal sebagai demensia. Kejadian demensia akan terus meningkat, sejalan dengan peningkatan populasi lanjut usia. 36.6 juta orang menderita demensia pada tahun 2010, menjadi 50 juta pada tahun 2020, dan diperkirakan menjadi dua kali lipat pada tahun 2030. Oleh karena itu, demensia terkait proses penuaan merupakan masalah kesehatan dunia yang memakan biaya mencapai 818 miliar dolar pada tahun 2015 di dunia.

Mengembangkan strategi untuk pencegahan dan terapi demensia terkait usia merupakan hal yang sangat penting, mengingat besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menangani penyakit ini. Namun sayangnya sampai saat ini, belum ada terapi farmakologi yang efektif untuk demensia terkait penuaan. Oleh karena itu, mengembangkan terapi non-farmakologis merupakan alternatif yang potensial dalam usaha mencegah dan mengobati pikun terkait penuaan. Olahraga diketahui merupakan terapi non-farmakologi yang murah dan menjanjikan untuk mencegah dan mengobati pikun terkait proses penuaan.

Olahraga intensitas sedang minimal selama 150 menit/minggu atau 30 menit/hari dapat menurunkan kejadian penyakit degeneratif pada lanjut usia termasuk pikun terkait penuaan. Studistudi sebelumnya menunjukkan bahwa olahraga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak. Olahraga diketahui mampu meningkatkan faktor pertumbuhan untuk sel-sel otak, meningkatkan aliran darah ke otak, dan meningkatkan ketahanan sel-sel otak. Terdapat tiga faktor pertumbuhan sel-sel otak yang dapat ditingkatkan dengan berolahraga, antara lain: brain-derived neurotrophic factor (BDNF), insulin-like growth factor-I (IGF-1) and vascular endothelial growth factor (VEGF). Pikun akibat proses penuaan dikaitkan dengan penurunan aktifitas dari ketiga faktor tersebut, sedangkan olahraga mampu mencegah penurunan bahkan meningkatkan aktifitas ketiga faktor pertumbuhan otak tersebut.

Penulis : AArina Windri Rivarti, Lilik Herawati, Hanik Badriyah Hidayati

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

Arina Windri Rivarti, Lilik Herawati, Hanik Badriyah Hidayati. 2020.  Exercise Prevents Age-Related Memory Decline: The Role Of Neurotrophic Factors. Link : https://mnj.ub.ac.id/index.php/mnj/article/view/440 .

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu