Manfaat Paparan Hiperbarik Oksigen Pada Pasien HIV/AIDS

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh republika.co.id

Sejak ditemukannya kombinasi obat untuk pasien HIV/AIDS, tingkat morbiditas dan mortalitas mulai turun. Kombinasi obat ini tidak dapat membunuh virus HIV, tetapi hanya mampu menekan/menghambat replikasi virus HIV didalam tubuh. Obat ini harus dikonsumsi pasien HIV/AIDS seumur hidup. Kombinasi obat ini memberikan dampak positif dan juga memberikan efek lainnya seperti kegagalan terapi karena adanya mutasi virus HIV sehingga obat yang dikonsumsi semakin lama akan menyebabkan resisten terhadap virus tersebut. Selain itu juga konsumsi obat seumur hidup akan memberikan dampak kurang bagus terhadap kinerja dan fungsi organ tubuh lainnya.

Oleh karena itu, dicari alternatif terapi lainnya dalam rangka menekan replikasi virus HIV untuk meningkatkan kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Paparan hiberbarik dengan kandungan 100% oksigen menjadi alternative sebagai terapi pasien HIV/AIDS. Diharapkan kandungan 100% oksigen mampu menekan replikasi virus HIV. Selain untuk mengetahui efektivitas terapi paparan hiperbarik terhadap pasien HIV/AIDS secara invitro, kami juga ingin mengetahui sensitivitas dan spesifitas metode pengukuran titer virus HIV.

Prinsip deteksi antigen p24 dengan metode ELISA adalah reaksi spesifik antara antibodi dan protein p24 (antigen). Komponen lain yang tidak terikat akan terhapus saat dibilas. Ikatan antigen-antibodi dideteksi oleh penanda yang telah diberi label peroksidase atau alkali fosfatase, yang menyebabkan perubahan warna. Perubahan warna ini dibaca secara spesifik pada panjang gelombang tertentu di daerah UV-VIS sebagai intesitas (banyaknya ikatan antara antibodi yang spesifik dengan antigen p24). Sedangkan qPCR adalah metode untuk mendeteksi jumlah RNA virus (titer virus) dengan mengamplifikasi DNA menggunakan primer yang spesifik.

Pada penelitian ini, kami mencoba melakukan penelitian secara invitro. Dimana, kultur sel virus HIV-1 tanpa perlakuan (kontrol) dibandingkan dengan kultur sel virus HIV-1 yang mendapatkan perlakuan dengan paparan hiperbarik dengan kandungan 100% oksigen. Kultur virus HIV-1 (isolat virus HIV) yang digunakan pada penelitian ini adalah HIV-1 persistent infected cell  yaitu isolat virus HIV tipe 1 yang bersifat aktif/tidak latent (terus bereplikasi). Dosis paparan hiperbarik divariasi untuk mendapatkan dosis yang efektif dalam menghambat replikasi virus HIV. Dari kultur tersebut kita analisa jumlah/titer virus HIV dengan mengukur parameter jumlah p24 didalam kultur sel dengan menggunakan dua metode yaitu secara serologis menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan secara molekular menggunakan metode realtime PCR (qPCR).

Dari hasil penelitian ini, titer virus HIV pada kultur sel HIV-1 yang mendapatkan paparan hiperbarik dengan kandungan 100% oksigen lebih rendah daripada kultur sel HIV-1 tanpa perlakuan (kontrol). Sedangkan sensitivitas dan spesifitas metode, qPCR lebih sensitive dibandingkan ELISA. qPCR mampu  mendeteksi RNA virus dengan titer paling rendah yang tidak mampu dideteksi dengan metode ELISA. Hal ini dikarenakan pada pemeriksaan dengan metode ELISA ini memiliki tiga kendala: pertama, adanya antibodi spesifik yang menetralkan p24 sehingga tidak kebal terhadap kompleks yang terbentuk (negatif palsu). Kedua, adanya antibodi spesifik seperti faktor rheumatoid antibodi yang memfasilitasi penangkapan antigen dan menyebabkan deteksi berlebihan (positif palsu).

Ketiga, sensitivitas rendah tidak mampu mendeteksi pada saat pengukuran virus RNA dengan konsentrasi rendah. Sehingga dapat disimpulkan terapi  hiperbarik dengan kandungan 100% oksigen pada 2,4 ATA dengan inkubasi 3 × 30 menit selama 5 hari dapat menghambat replikasi HIV-1 secara invitro, yang ditunjukkan dengan penurunan jumlah antigen HIV-1 p24. Selain itu metode qPCR lebih sensitif dibandingkan ELISA untuk mengukur titer virus. Tetapi kedua metode tersebut sama-sama berguna tergantung pada tujuannya, yaitu untuk menetapkan diagnosis, memantau obat antiretroviral atau mengamati perkembangan penyakit.

Penulis: Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Budiart, R, et.al. (2020). Comparative analysis of qpcr measurement of hiv viral load and elisa detection of p24 antigen after hyperbaric oxygen exposure. African Journal of Infectious Diseases  Vol. 14, No. 2. Available oline at https://doi.org/10.21010/ajid.v14i2.9

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu