Tingkat Resistensi Obat pada ODHA di Pontianak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello Sehat

Berdasarkan data epidemiologi HIV di Indonesia tahun 2016, provinsi dengan angka prevalensi HIV yang tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Bali. Ketiga provinsi tersebut memiliki respon yang tinggi dalam menangani kasus HIV. Sedangkan provinsi dengan angka prevalensi HIV yang tinggi dan respon yang relatif rendah adalah provinsi Papua dan Kalimantan Barat. Di Kalimantan Barat, ada tiga kota diantaranya Pontianak, Singkawang, dan Singkang dilaporkan memiliki angka prevalensi HIV tertinggi. Angka kasus HIV di Pontianak tinggi dikarenakan Pontianak adalah ibu kota Kalimantan Barat yang terletak di daerah ekuator (dijuluki Kota Khatulistiwa) yang merupakan pusat perdagangan di Kalimantan. Hal ini menyebabkan banyak sekali imigran dan investor dari luar Pontianak datang ke kota ini sehingga rentan sekali terjadinya prostitusi. Oleh karena itu perlu dikaji lebih rinci bagaimana cara mengendalikan dan memutus rantai penularan HIV di Pontianak.

Salah satu cara pengendalian HIV dengan meningkatkan kualitas hidup ODHA yaitu dengan memberikan obat (Antiretroviral/ART) yang tepat. Obat yang tepat adalah obat yang tidak resisten terhadap virus HIV yang ditularkan pada pasien HIV baru/belum mendapatkan terapi ART dan pada pasien yang sudah mendapatkan terapi ART karena adanya mutasi. Munculnya resistansi obat yang didapat pada orang yang sudah mendapatkan terapi ART dan resistansi obat yang ditularkan pada orang yang belum pernah menggunakan ART mungkin berdampak negatif pada pengelolaan klinis infeksi HIV. Pada penelitian ini dilakukan deteksi dini tingkat resistensi ARV sebelum diberikan terapi ART. 

Dalam penelitian ini, kami melakukan analisis genotip pada gen pol HIV-1 yang mengkode protease (PR) dan reverse transcriptase (RT), dimana pada daerah gen ini merupakan kombinasi ART yang banyak diberikan di Indonesia yaitu diberikan pada lini pertama. Analisa genotip ini dilakukan dengan cara mengisolasi RNA dari virus HIV kemudian diamplifikasi dengan menggunakan primer yang spesifik di daerah gen PR dan gen RT. Hasil amplifikasi DNA dilanjutkan dengan proses sekuensing. Dari hasil sekuensing tersebut kita mendapatkan urutan materi genetiknya (urutan basa nukleotida) dengan mencari posisi mutasinya. Dari hasil mutasi tersebut dicocokkan dengan database yang ada, apakah posisi mutasi tersebut resisten terhadap jenis obat/ART yang akan dikonsumsi.

Dari hasil penelitian ini, tingkat resistensi ART pada pasien HIV yang sudah mendapatkan terapi sebesar 28,5%. Hal ini menunjukkan bahwa data tentang resistensi sangat diperlukan pasien HIV baru/belum mendapatkan terapi ART dan pasien HIV yang sudah mendapatkan terapi ART  sebelum mendapatkan terapi ART untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA.

Penulis: Siti Qamariyah Khairunisa, S.Si., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Khairunisa, SQ, et.al. (2020). Identification of HIV-1 subtypes and drug resistance mutations among HIV-1-infected individuals residing in Pontianak, Indonesia. GERMS Vol. 10, No. 4. Available oline at https://doi.org/10.18683/germs.2020.1203

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu