Survival Pasien COVID-19 dengan Acute Respiratory Distress Syndrome

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Republika.co.id

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) pertama ditemukan di Wuhan, Cina dan disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 telah dinyatakan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020. Derajat keparahan COVID-19 mulai dari ringan, sedang, berat, hingga kritis. Pasien COVID-19 dengan pneumonia (radang paru) berat dapat memburuk dan berkembang menjadi gagal napas akut, acute respiratory distress syndrome (ARDS), dan bahkan menyebabkan kematian. Gejala infeksi SARS-CoV-2 antara lain demam, batuk, mialgia, fatigue, sakit kepala, nyeri tenggorokan, diare, sesak nafas dan dalam beberapa kasus acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Hingga saat ini, belum ada vaksin ataupun antivirus khusus yang disetujui atau yang diverifikasi untuk COVID-19. Pemahaman tatalaksana COVID-19, termasuk terapi supportif sangat diperlukan. Beberapa artikel telah melaporkan epidemiologi dan gejala klinis kasus COVID-19. Secara khusus dengan strategi yang detail dan komprehensif, kami melaporkan satu kasus beserta deskripsi gejala, abnormalitas rontgen dada, abnormalitas pemeriksaan laboratorium, dan tatalaksana pengobatan yang kami berikan untuk satu kasus COVID-19 dengan ARDS.

Sebuah studi melaporkan terdapat 7,3% pasien kritis yang dirawat di ICU, 71% dari mereka membutuhkan ventilator, dan 38,5% dari mereka selamat. Kami melaporkan seorang pria berusia 54 tahun dengan ARDS COVID-19 yang sembuh dari penyakit tersebut. Uji real-time reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) sampel nasofaring dan oropharingeal menunjukkan hasil positif SARS-CoV-2. Diagnosis ARDS juga sesuai dengan gejala klinis, laboratorium, rontgen dada, dan CT scan dada. Alcaligenes faecalis dan Candida albicans juga diidentifikasi dari kultur dahak.

Pengobatan untuk pasien ini adalah terapi kausal dan suportif, termasuk terapi antibiotik, antivirus, dan antifungal berdasarkan hasil kultur, resusitasi cairan, dan pasokan oksigen dari ventilator. Pasien ini sembuh dan dipulangkan pada hari ke-29. Pemantauan klinis, laboratorium, dan fototoraks dilanjutkan setelah pasien keluar dari rumah sakit. Beberapa faktor mungkin mempengaruhi kesembuhan pasien COVID-19 dengan ARDS, termasuk usia yang masih muda, sedikit penyakit penyerta, dan implementasi dini terapi supportif meliputi pemberian antibiotik dan penggunaan ventilator pada waktu yang tepat. Kasus ini menunjukkan pentingnya diagnosis dini dan pengobatan yang efektif untuk perawatan pasien COVID-19, termasuk pemberian antibiotik, antivirus, antifungal, dan terapi supportif yang sesuai.

Penulis: Dr. Soedarsono, dr., Sp.P(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/22195

Soedarsono, Bambang Pudjo Semedi, Rosy Setiawati, Resti Yudhawati Meliana, Tutik Kusmiati, Ariani Permatasari, Arief Bakhtiar, Irmi Syafa’ah, Dwi Wahyu Indrawanto. Survival of A Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Patient with Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) in Dr. Soetomo Hospital, Surabaya, Indonesia. Fol Med Indones. 2020; 56(3): 235-44.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu