Kekakuan Penafsiran, Kolektif Narsisme, dan Pertemanan Antaragama

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Mediaindonesia.com

Indonesia pada beberapa waktu pernah dikenal sebagai negara multiagama yang memiliki toleransi agama yang tinggi. Namun demikian, gejala intoleransi antaragama kian menjadi problem yang serius seiring dengan meningkatnya simpatisan pada gerakan politik berbasis puritanisme dan ekslusivisme agama yang memanfaatkan hak kebebasan berekspresi di era demokrasi. Heterogenitas masyarakat yang termanifestasi dalam diversitas etnis, budaya, dan agama yang ada di Indonesia merupakan sebuah kekuatan jika dapat dikelola dengan baik, namun di satu sisi juga menunjukkan adanya sebuah potensi konflik terutama terkait isu mayoritas vs minoritas. Di beberapa wilayah di Indonesia, di mana penduduknya mayoritasnya beragama Islam beberapa tindakan-tindakan intoleransi terjadi terhadap minoritas, begitu juga di wilayah lain (e.g. Papua) ketika Kristen menjadi mayoritas juga ditemukan pula tindakan-tindakan intoleransi terhadap Islam sebagai minoritas.

Tindakan intoleransi merupakan salah satu dampak dari pandangan eksklusivisme agama (Jonathan et al., 2016). Dalam pandangan seperti itu, diyakini bahwa agama seseorang adalah satu-satunya jalan kebenaran dan keselamatan, sedangkan pandangan lain salah. Pandangan eksklusifisme agama yang demikian disertai dengan gerakan politik yang eksklusif dapat mengakibatkan totalitarianisme dan otoritarianisme atas nama agama (Jonathan et al., 2016). Gerakan politik yang mengarah pada otoritarianisme agama kini bahkan banyak menyasar mahasiswa di Indonesia (Arifah & Renaldi, 2018).

Beberapa peneliti menyarankan pentingnya kontak dan dialog antara kelompok agama dan keyakinan yang berbeda untuk membangun kepercayaan dan toleransi (Jonathan et al., 2016) dan untuk menurunkan prasangka dan kecurigaan di antara pemeluk agama (Arifianto, 2009). Kanas, Scheepers, dan Sterkens (2017) menekankan pentingnya pertemanan antaragama dalam menurunkan sikap negatif terhadap kelompok luar (outgroup). Arifianto (2010) bahkan merekomendasikan pentingnya berbagai pemeluk agama untuk bergabung dan berpartisipasi dalam beberapa acara bersama. Namun demikian, kontak dan interaksi antaragama tentunya tidak mudah bagi mereka yang memiliki kepercayaan dengan penafsiran ajaran agama yang tertutup. Iannaccone (1994) menemukan bahwa ada hubungan negatif yang kuat antara pemahaman agama yang ketat, patuh, tertutup kaku, dan eksklusif terhadap kontak dengan kelompok luar/agama yang berbeda. Temuan serupa ditemukan oleh Merino (2010) yang menunjukkan bahwa keyakinan agama eksklusif akan dikaitkan dengan pandangan negatif terhadap keragaman agama dan akan mengurangi kesediaan untuk melakukan kontak dengan penganut agama lain yang berbeda.

Penelitian ini ingin mengkaji bagaimana peran dari kepercayaan akan penafsiran ajaran agama, sikap positif terhadap moral universal dari semua ajaran agama, serta narsisme kolektif terhadap kontak antar agama pada aktivis mahasiswa. Kepercayaan akan penafsiran ajaran agama terdiri dari dua dimensi yaitu kepercayaan yang bersifat kaku dan rigid yang disebut sebagai fundamentalism religious belief; dan kepercayaan akan ajaran agama yang berorientasi pada pemahaman dunia yang terbuka dan penafsiran non-literal bahwa dunia berisi dengan dengan kebaikan, kedamaian, dan pengampunan bagi semua orang.

Partisipan penelitian ini adalah para aktivis organisasi kemahasiswaan dari enam universitas. Organisasi kemahasiswaan tersebut dapat dibedakan pada organisasi yang memiliki ideologi politik tertentu dan ada juga yang non ideologis. Responden berjumlah 381 partisipan yang berusia antara 17 hingga 24 tahun. Pengumpulan data dilakukan mulai 15 Juli 2018 hingga 30 November 2018 melalui survei langsung (paper-based).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe keyakinan akan penafsiran ajaran agama memainkan peran penting dalam kontak antaragama. Penafsiran yang kaku dan rigid dan hanya berorientasi pada hukuman (fundamentalism religious belief) serta narsisme kolektif akan mengurangi kontak atau interaksi antarpemeluk agama. Sementara, keyakinan akan penafsiran agama yang nonliteral dan terbuka terhadap manusia dan dunia; serta sikap positif terhadap moral universal pada setiap agama (meta-religion endorsement) akanmeningkatkan kontak atau interaksi antarpemeluk agama.

Kekakuan dan penafsiran literal dalam ajaran agama serta narsisme kelompok akan mengecilkan peluang seseorang untuk berinteraksi secara positif dengan kelompok yang berbeda (dalam hal ini agama yang berbeda). Sebaliknya, keyakinan agama yang lebih terbuka serta sikap positif akan moralitas universal dari tiap agama justru akan mendorong individu untuk menunjukkan pertemanan dengan kelompok luar/agama yang berbeda.

Penulis: Dr. Rahkman Ardi

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.cell.com/heliyon/pdf/S2405-8440(20)31782-5.pdf

Rahkman Ardi and Diah Budiarti (2020). The role of religious beliefs and collective narcissism in interreligious contact on university students. Heliyon, 6(9): DOI:https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2020.e04939

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu