Fibrin Glue sebagai Alternatif Antifibrosis pada Bedah Trabekulektomi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi fibrin glue. (Sumber: Pinterest)

Glaukoma adalah penyebab kebutaan permanen utama di dunia yang mengenai hampir 79.6 juta populasi. Glaukoma adalah penyakit degenerasi saraf mata yang terutama disebabkan oleh peningkatan tekanan bola mata. Saat ini, bedah trabekulektomi dengan membuat saluran yang dikenal dengan bleb untuk menurunkan tekanan bola mata adalah prosedur pembedahan standar pada glaucoma (Yamanaka et al, 2015; Masompour et al, 2016). 

Pembentukan fibrosis pada bleb pascatrabekulektomi masih menjadi penyebab kegagalan utama pembedahan. Mitomycin C, suatu zat sitotoksik telah menjadi standar pencegahan fibrosis pada bleb trabekulektomi, tetapi penggunaanya masih terbatas oleh efek samping dari kegagalan terbentuknya bleb hingga kebutaan. Pada penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi agen antifibrosis baru yang berasal dari bahan biologis yaitu fibrin glue sebagai alternatif antifibrosis pascabedah trabekulektomi. Fibrin glue dibuat dari campuran fibrinogen dengan thrombin kaya platelet.

Penelitian ini dilakukan pada biakan sel fibroblas tenon yang diambil dari pasien glaukoma saat menjalani prosedur bedah trabekulektomi untuk menyerupai penyembuhan luka pascatrabekulektomi. Pada penelitian ini, biakan sel fibroblas tenon diberikan perlakuan dengan fibrin glue, mitomycin C sebagai kontrol positif, dan biakan sel yang tidak diberikan perlakuan sebagai kontrol negative (Tabele et al, 2012; Sakarya et al, 2011).

Hasil penelitian menunjukkan fibrin glue mampu menurunkan deposisi kolagen sejalan dengan peningkatan degradasi kolagen pada biakan sel fibroblas tenon bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Namun, mitomycin C memiliki pengaruh terbesar terhadap penurunan deposisi kolagen yang sejalan dengan peningkatan degradasi kolagen pada biakan sel fibroblas tenon. Uji kontraktilitas sel menunjukkan bahwa fibrin glue mampu menurunkan kontraksi sel fibroblas tenon yang menandakan penurunan pembentukan fibrosis oleh sel fibroblas tenon. Pada uji migrasi sel, fibrin glue mampu menurunkan kecepatan migrasi sel bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif, tetapi penurunan kecepatan migrasi sel terbesar didapatkan pada kelompok mitomycin C.

Uji viabilitas sel menunjukkan bahwa fibrin glue mampu mempertahankan viabilitas sel bila dibandingkan dengan mitomycin C yang bersifat toksik terhadap biakan sel fibroblas tenon. Penelitian ini menunjukkan bahwa fibrin glue memiliki efek antifibrosis pada biakan sel fibroblas tenon melalui regulasi sintesis kolagen sebagai komponen utama matriks ekstraselular. Selain itu, fibrin glue tidak bersifat toksik dan mampu menurunkan kecepatan migrasi sel, sehingga dapat memfasilitasi pembentukan bleb yang baik dengan memperlambat penyembuhan luka (Sakarya et al, 2011; (Wang et al, 2017; Matsumoto et al, 2014).

Sebagai kesimpulan, penelitian in vitro ini dapat menjadi dasar pengembangan fibrin glue sebagai agen antifibrosis baru pada bedah trabekulektomi yang lebih aman, murah, dan mudah dibuat. Uji praklinis pada hewan coba dan uji klinis lebih lanjut diperlukan untuk menentukan efektivitas dan keamanan fibrin glue.

Penulis: Yuyun Rindiastuti, Evelyn Komaratih, Helen Susilowati, Hendrian D. Soebagyo, Fedik A. Rantam

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:https://www.connectjournals.com/bca/10.35124/bca.2019.19.S2.4713

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu