“Veillonella” Bakteri Rongga Mulut yang Sangat Berpotensi sebagai “Regulatory Key”

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello Sehat

Rongga mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang sangat penting karena bertindak sebagai pintu masuk semua substrat makanan ke dalam tubuh. Selain itu rongga mulut mempunyai peranan dalam fungsi pengunyahan (mastikasi), fungsi bicara (fonetik), dan fungsi estetik. Dengan demikian, menjaga kebersihan serta kesehatan rongga mulut merupakan hal yang esensial untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun demikian, angka keparahan penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi pada anak – anak masih sangat tinggi di berbagai belahan negara terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu kemungkinan penyebab tingginya angka karies di Indonesia disebabkan karena masyarakat yang sangat menyukai makanan dan minuman manis, tanpa disertai dengan cara membersihkan gigi dan mulut yang tepat. Selain itu, kurangnya tingkat kesadaran serta pendidikan mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut juga disebutkan sebagai salah satu faktor yang berperan dalam proses terjadinya penyakit ini.

Karies gigi atau yang sering dikenal dengan lubang gigi merupakan salah satu penyakit rongga mulut dengan angka kejadian yang paling tinggi, ditandai dengan proses demineralisasi enamel gigi akibat terpaparnya enamel gigi oleh asam terutama asam laktat yang terbentuk pada saat metabolisme monosakarida, disakarida serta karbohidrat oleh bakteri penghasil asam seperti Streptococcus mutans di rongga mulut. Dengan adanya produksi asam laktat dalam jumlah banyak, maka akan menyebabkan penurunan derajat keasaman (pH) rongga mulut. Secara umum, karies gigi merupakan multifactorial disease, yang berarti penyakit yang diebabkan oleh berbagai macam faktor. Namun demikian, produksi asam yang dihasilkan oleh bakteri penghasil asam di rongga mulut diduga kuat sebagai penyebab utama terjadinya karies gigi. Dengan demikian, mengontrol produksi asam yang dihasilkan oleh bakteri penghasil asam di rongga mulut merupakan cara yang efektif untuk mencegah penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi.

Didalam rongga mulut, terdapat lebih dari 700 jenis spesies bakteri, diantaranya terdapat bakteri Veillonella yang merupakan salah satu bakteri yang banyak terdapat di rongga mulut. Veillonella sebagai bakteri gram negatif anaerob banyak ditemukan di  permukaan dasar lidah, lekukan pipi dan gusi (buccal mucosa), permukaan gigi, termasuk banyak ditemukan pada kasus early childhood caries yang terjadi pada anak – anak. Salah satu kelebihan dari bakteri ini adalah mampu mengolah asam laktat yang merupakan penyebab terjadinya karies gigi sebagai sumber energi menjadi asam yang lebih lemah seperti asam format, asam asetat serta asam propionate, sehingga dapat meningkatkan level pH rongga mulut.

Selain memiliki kemampuan untuk memetabolisme asam laktat, Veillonella memiliki kemampuan untuk memproduksi nitrite (NO2) dari nitrate (NO3). NO3 adalah substrat esensial yang mudah didapatkan pada sayuran hijau seperti bayam, kubis, dan salada. Selain itu, NO3 yang telah di konsumsi dan masuk dalam sistem pencernaan akan dikeluarkan kembali sebanyak 25% sebagai komponen pada saliva (air ludah), sehingga dengan demikian, NO3 akan selalu ada dalam tubuh kita. Sedangkan NO2 telah diketahui secara umum dapat digunakan sebagai bahan anti bakteri, dan digunakan juga sebagai bahan pengawet dalam makanan kaleng. Khusus di bidang kesehatan dan kedokteran gigi, NO2 dapat menghambat pertumbuhan dan metabolisme dari bakteri – bakteri penyebab kelainan rongga mulut seperti Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Untuk proses lebih lanjut, NO2 akan diubah menjadi NO (nitric oxide) oleh tubuh yang kemudian dapat digunakan untuk menurunkan tekanan darah sehingga berkontribusi dalam menjaga dan memelihara kesehatan tubuh.

Dari hasil penelitian yang saya dan tim lakukan, didapatkan bahwa NO3 tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri S.mutans, Veillonella atypica dan Veillonella parvula, namun NO2 dengan konsentrasi yang sangat kecil dapat menghambat pertumbuhan dari bakteri S. mutans, sedangkan diperlukan NO2 dengan konsentrasi yang sangat besar untuk menghambat pertumbuhan dari bakteri Veillonella. NO3 dan NO2 juga menstimulasi pertumbuhan dari bakteri Veillonella dengan mempercepat salah satu fase pertumbuhan bakteri tersebut. Faktor – faktor lingkungan eksternal seperti asam laktat, kondisi lingkungan yang asam (pH rendah) serta substrat NO3 dan NO2 yang tersedia di media pertumbuhan bakteri dapat meningkatkan produksi  NO2 dari NO3 oleh Veillonella. Kemudian kami juga menganalisis bahwa produksi NO2 dapat jauh lebih efektif apabila lingkungan Veillonella berada pada lingkungan anaerob (tanpa oksigen). Selain itu, kami juga berhasil mengungkapkan bahwa NO3 dapat digunakan sebagai substrat penerima elektron (electron acceptor) ketika oksidasi laktat menjadi pyruvat dan mengubah NO3 menjadi NO2.

Dari hasil penelitian diatas, dapat diasumsikan bahwa mengkonsumsi NO3 yang berasal dari sayuran hijau dapat mendukung pertumbuhan bakteri Veillonella, sehingga dapat meningkatkan level pH rongga mulut melalui metabolisme asam laktat dan menghambat pertumbuhan bakteri patogen rongga mulut melalui produksi NO2. Selanjutnya NO2 akan diubah oleh tubuh menjadi NO yang berperan dalam menurunkan tekanan darah. Dengan demikian, Veillonella yang merupakan bakteri rongga mulut sangat berpotensi sebagai “Regulatory Key” untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut serta sistemik tubuh.

Penulis: Dimas Prasetianto Wicaksono, drg., M.Kes., Ph.D

Informasi lebih detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Wicaksono DP, Washio J, Abiko Y, Domon H, Takahashi N. 2020. Nitrite production from nitrate and its link with lactate metabolism in oral Veillonella spp. Appl Environ Microbiol 86:e01255-20. DOI  https://doi.org/10.1128/AEM.01255-20

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu